Korban tersebut merupakan sepupu Iis. Satu ibu beserta tiga anaknya. Iis tidak ingat saat berpisah dengan sepupunya itu. Pasalnya, ketika mengetahui Depo Plumpang terbakar, dia langsung menyelamatkan diri. ”Jadi, anak-anak tiga. Satu umur sembilan tahun yang hilang, si Iqbal. Kanza lagi dirawat dan satu lagi Ilyas,” tuturnya.
Saat kejadian kebakaran, di tengah kepanikan dan bunyi ledakan, Iis berusaha menyelamatkan pamannya yang tengah stroke. Dibantu saudaranya yang lain, dia membopong sang paman keluar dari rumah.
”Dibopong berdua, kanan kiri, terus diangkut pakai motor. Posisi pakde di tengah. Pakai motor langsung dibawa ke RS Mulyasari,” ucapnya.
Berhasil mengevakuasi sang paman, Iis kembali lagi ke rumah. Tujuannya ingin menyelamatkan saudaranya. Namun, akses menuju rumahnya sudah ditutup. Petugas kepolisian berjaga di lokasi. ”Saya mau nyelametin saudara, tapi udah nggak bisa masuk,” tutur Iis. Belakangan, saudaranya tersebut kini menjalani perawatan di RS Koja.
Dahsyatnya kebakaran Depo Plumpang juga disampaikan Muhammad Ridho, anggota Kelompok Sadar (Kopdar) Kamtibmas Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja. Menurutnya, lokasi permukiman yang paling terdampak ada di sisi sebaris dengan Depo Plumpang. Di situlah paling banyak korban yang meninggal. Ridho menuturkan, saat terjadi ledakan, dirinya sedang nongkrong tak jauh dari lokasi.
Dia juga mendapat pesan bahwa Depo Plumpang meledak. Pikiran Ridho saat itu ada pada ayah angkatnya yang tinggal di Jalan Tanah Merah Bawah. Saat tiba, ternyata dia tidak bisa masuk ke lokasi. Api begitu hebat menyembur. Rumah yang dihuni orang tua angkatnya hangus terbakar.
’’Alhamdulillah ayah angkat saya berhasil diselamatkan,’’ ucapnya.
Saat kejadian, kawasan Depo Plumpang sedang diguyur hujan. Karena itu, banyak warga yang berada di dalam rumah. Selain itu, ada juga yang duduk-duduk di teras rumah atau di pinggir jalan sambil berteduh. Menurut Ridho, api dengan cepat melumat apa pun yang berada di dekat titik ledakan.
’’Seperti digulung ombak. Tapi, ini api,’’ paparnya. Sebagian warga yang berhasil diselamatkan langsung dibawa ke Koramil Koja yang berjarak 600 meter dari pusat ledakan. Ridho pun bersyukur karena keluarganya berhasil diselamatkan tanpa mengalami luka bakar.
Menurut Ridho, yang membuat efek luar biasa parah adalah ledakannya. Sepengetahuannya, ledakan besar terjadi karena yang terbakar adalah pipa pertamax yang menghasilkan gas. Jika yang terbakar adalah minyak biasa, kebakarannya hanya bersifat lokal. Tidak sampai menyulut area yang begitu luas.
Suasana saat kebakaran juga disampaikan Andy lewat posting-an di akun Facebook-nya. Dia menceritakan, saat terjadi kebakaran, dia lari bersama istri dan anaknya sampai ke kawasan Kelapa Gading. Tak sempat membawa surat-surat dan motor. Akhirnya dia dan keluarga mengungsi ke kantornya di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
Korban yang terdampak dan rumahnya habis terbakar mengungsi di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rasela, Kelurahan Rawa Badak Selatan. Jaraknya sekitar 1,5 km dari pusat ledakan.
Sementara itu, data sementara hingga pukul 17.30 WIB kemarin, RS Polri telah menerima 15 kantong jenazah korban kebakaran. Terdiri atas sembilan laki-laki, 5 perempuan, dan satu kantong berisi bagian tubuh.
Kadivhumas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, posko Disaster Victim and Identification (DVI) Polri telah menerima 10 sampel DNA keluarga korban kebakaran. Dua jenazah telah teridentifikasi berdasar sidik jari.
”Dari enam sidik jari yang diproses tim Inafis dan tim DVI RS Bhayangkara, dua teridentifikasi,” tuturnya. Dua jenazah tersebut diketahui bernama Fahrul Hidayatulah, 28, warga Rawabadak, Koja, dan Muhammad Bukhori, 41, warga Rawabadak Selatan, Koja.
Dia menambahkan, RS Polri Kramat Jati menggunakan tiga metode untuk mengungkap identitas jenazah yakni melalui DNA, gigi, dan sidik jari.
Selain korban meninggal, berdasar data yang didapat dari PMI Jakarta Utara pada pukul 12.57 WIB, tercatat 21 orang dilaporkan hilang. Mereka terdiri atas 11 laki-laki dan 10 perempuan. Sedangkan korban luka mencapai puluhan orang.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dr Widyastuti memastikan seluruh korban tertangani pada sejumlah rumah sakit di sekitar lokasi kejadian. Bahkan, Rumah Sakit Pusat Pertamina dan Rumah Sakit Polri siap menangani pasien rujukan apabila diperlukan.
”Tentu kami lakukan triase prinsip kedaruratan. Sudah ada pasien yang bisa pulang dan ada yang di atas 80 persen (luka bakar, Red) masih dalam penanganan. Kami siagakan rumah sakit, rumah sakit rujukan, dan rumah sakit pusat,” katanya.
Dirut Pertamina Nicke Widyawati meminta maaf kepada seluruh masyarakat dan korban beserta keluarganya yang terdampak insiden kebakaran Depo Plumpang. ”Saya beserta semua jajaran Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya insiden ini. Tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan insiden itu terjadi,” ujar Nicke ditemui di RS Pusat Pertamina kemarin (4/3).
Dia memastikan seluruh korban akan diberi pelayanan terbaik, termasuk santunan untuk korban meninggal. ”Seluruh biaya pengobatan sampai dinyatakan sembuh dan bisa pulang beraktivitas seperti biasa ini akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pertamina,” jelas dia.
Meski belum memerinci nilai santunan yang akan diberikan, Nicke menjamin pihaknya akan memberikan sesuai ketentuan yang ada. Pihaknya juga memastikan kebutuhan para pengungsi di lokasi kejadian. Saat ini ratusan orang terdampak kebakaran di Depo Plumpang masih mengungsi di sejumlah posko pengungsian di Koja, Jakarta Utara.
Pada kesempatan itu, Nicke juga mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying. Seluruh pasokan dan suplai BBM dipastikan aman. Sejak api berhasil dipadamkan dini hari kemarin, suplai BBM beroperasi normal. Namun, pipa yang terbakar tidak dioperasikan lagi karena sedang diperbaiki. (ygi/dee/c7/fal) Editor : Misbahul Munir S