Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, almarhum LH Kadir didiagnosis mengalami stroke haemoragic. Atau stroke perdarahan, yakni pecah pembuluh darah di bagian otak. Sebelumnya almarhum sempat menjalani operasi craniotomy pada 22 Februari 2021 lalu. Kemudian lanjut dirawat secara intensif di RS hingga dinyatakan meninggal dunia kemarin.
"Sekarang (almarhum) sedang dimandikan dan akan dibawa ke Rumah Duka Markus dan Lukas. Saya dan beberapa kepala OPD di rumah duka," ungkap Harisson, Senin (1/3) malam.
Wafatnya mantan orang nomor dua di Kalbar itu juga membawa duka mendalam bagi Gubernur Kalbar Sutarmidji. "Beliau orang baik, sabar dan mengayomi. Siapapun ygang pernah berinteraksi dengan beliau pasti berkesan," kata Midji kepada Pontianak Post.
Di mata Gubernur Sutarmidji, LH Kadir merupakan sosok yang sangat menyayangi keluarga. Terutama almarhumah istrinya Margaretha Maria, belahan jiwa LH Kadir, yang wafat lebih dulu pada 1999 silam. "Ini disampaikan beliau ke kami dan saya ketika jadi wakil wali kota sering ketemu beliau dan mendengar nasihat beliau," kenangnya.
Selain itu, Midji melihat LH Kadir juga merupakan birokrat yang selalu bekerja tanpa pamrih. Bahkan tidak ngoyo untuk suatu jabatan. "Selain itu beliau juga sangat menyayangi almarhumah istrinya, ketika ketemu beliau ada yang guyon beliau masih muda, tapi sambil senyum-senyum beliau bilang : 'Kalau ingat mau ketemu ibu (istri beliau) tak peduli hujan, kadang jatuh karena kaki sangkut ke akar', sambil ketawa khas beliau," ungkapnya.
Wafatnya LH Kadir menurutnya membuat Kalbar kehilangan sosok atau tokoh yang disegani dan dihormati oleh siapapun. Siapa pun yang pernah berkomunikasi dengan almarhum Midji yakin pasti merasakan hal yang sama. "Selamat jalan Pak, Ibu sudah menunggu bapak, seperti yang bapak katakan. Ibu adalah wanita yg menjadi belahan jiwa bapak dan sayang bapak pada almarhumah tak bisa diungkap dengan kata-kata. Selamat beristirahat, setelah pengabdian yang panjang untuk Kalbar yang kita cintai," ucap Midji.
Seperti diketahui LH Kadir lahir di Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuah Hulu pada 28 Mei 1941. Ia merupakan wakil gubernur Kalbar yang mendampingi Usman Jafar pada masa bakti 2003-2008. Sebelum menjabat kepala daerah, almarhum adalah seorang birokrat yang dikenal sangat inovatif. Salah satunya ia pernah tercatat sebagai peletak dasar Desain Besar Penataan Daerah (Desartada) di Provinsi Kalbar. Itu ia lakukan ketika menjabat Kepala Biro Pemerintahan Desa, dengan meregrouping desa, dari awalnya 4.600 desa menjadi 1.600 desa. Hal tersebut dilakukan mengacu kepada UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. (bar) Editor : Super_Admin