Komunikasi dengan Keluarga Kurangi Cemas Penyintas

Syahriani Siregar • Dipublikasikan Senin, 2 Agustus 2021 | 05:58 WIB
KOMUNIKASI: Hindari stres yang berlebih dengan memperbanyak komunikasi, berinteraksi, atau bermain bersama kerabat dan keluarga. (Foto: Syahriani/Pontianak Post)
KOMUNIKASI: Hindari stres yang berlebih dengan memperbanyak komunikasi, berinteraksi, atau bermain bersama kerabat dan keluarga. (Foto: Syahriani/Pontianak Post)
PANDEMI membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Kebijakan yang diterapkan untuk menekan penularan virus juga menimbulkan reaksi yang tak seragam, bahkan mengarah pada kecemasan.

Koordinator Program Psikologi Subbidang Medis Bidang Koordinasi Relawan STPC-19 sekaligus pakar pendampingan dan dukungan psikososial kebencanaan Dr Endang Mariani MPsi menyatakan, masalah yang kerap dihadapi penyintas Covid-19 adalah menyalahkan diri sendiri.

Hal itu, kata dia, merupakan reaksi wajar karena seseorang tidak tahu terpapar virus darimana sehingga menyalahkan diri karena merasa lengah dan lalai. Hal itu akan berdampak negatif terhadap diri penyintas, bahkan bisa muncul perasaan yang lain.

“Mereka memiliki banyak gejala yang akan dirasakan. Merasa tersisihkan, mood-nya terganggu, hingga pendiam sesaat, walau sudah dinyatakan sembuh,” jelas Dr Endang dalam talk show BNPB Atasi Stres Pascapandemi pada Februari lalu.

Untuk mengatasi stres, sebaiknya penyintas melakukan kegiatan sederhana, tapi dapat menghibur diri. Misalnya, melakukan hal kecil seperti memberikan cokelat kepada teman. Sebab, lanjut dia, dengan berbagi, penyintas akan merasakan kebahagiaan meski lewat hal sederhana.

Psikologis penyintas bisa juga dipengaruhi dari dampak organ tubuh yang sempat terinfeksi virus. Sebab, hal itu sangat dipengaruhi dari 60 persen kecemasan dan 40 persen depresi.

“Setelah pasien pulang karantina, 20 persen mengalami stres. Ini terjadi minimal sebulan dan jauh beda dengan stres yang dialami dari 3 sampai 5 hari penyintas setelah dinyatakan sembuh,” ujar Secretary General Asian Federation of Psychiatric Associations Dr dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ dalam acara yang sama.

Menurut dia, untuk meng hadapinya, harus ada panduan yang konsisten untuk mengarahkan.

“Dalam minggu pertama perawatan, harus ada pengontrol an kesehatan jiwa dengan dukung an keluarga maupun ada guiding dalam memberikan semangat menghadapi stress tersebut,” katanya. (sya/jp)

 

Kurangi Tekanan, Sehatkan Jiwa

Kesehatan psikologis tidak kalah penting untuk dijaga saat pandemi. Dengan jiwa yang sehat, imunitas pun dapat terjaga dengan baik. Berikut sejumlah caranya.

 

Sumber: Kementerian Kesehatan

  Editor : Syahriani Siregar