Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Berprestasi Sampai Tingkat Dunia, Pelatih dan Atlet PABBSI "Diusir"

Syahriani Siregar • Kamis, 12 Mei 2022 | 15:40 WIB
Para atlet, pelatih dan official Pengprov PABBSI Kalbar mengadu ke Komisi V DPRD Kalimantan Barat terkait surat  perintah pengosongan Mess PABBSI sampai tanggal 13 Mei 2022 ini. (IST)
Para atlet, pelatih dan official Pengprov PABBSI Kalbar mengadu ke Komisi V DPRD Kalimantan Barat terkait surat perintah pengosongan Mess PABBSI sampai tanggal 13 Mei 2022 ini. (IST)
PONTIANAK - Walaupun banyak melahirkan talenta berbakat di tingkat nasional dan dunia, Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI) Kalimantan Barat dibuat kelimpungan.

Masalahnya, sepucuk surat deadline sekaligus peringatan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalbar, membuat pelatih dan para atlet kebingungan. Disporapar mengintruksikan pengosongan dan penghentian aktivitas mess PABBSI di Kawasan Gelora Khatulistiwa Kalimantan Barat hingga 13 Mei 2022.

Perintah pengosongan ini tertuang dalam surat nomor: 028/686/Disporapar. Surat ini ditanda tangani Kadis Disporapar Windy Prihastari.

Kebijakan ini sendiri dinilai akan berdampak terhadap pembinaan dan prestasi atlet angkat besi di Kalbar. Selama ini juga, mess PABBSI Kalbar sudah lama ditempati para atlet, pelatih, official, dan pengurus. Puluhan tahun juga para atlet tingkat nasional dan dunia lahir dari mess yang dibangun dan diinisiasi almarhum Sekda Henry Usman ini.

Langkah pengosongan juga tanpa solusi. Wakil Ketua Komisi V DPRD Kalbar, Tony Kurniadi menerima langsung keluhan Pengurus PABBSI tersebut di ruang rapat.

Kepada wartawan, Achmadin Umar, Ketua Pengprov PABBSI Kalbar, meminta ada solusi yang diberikan pemerintah (Pemprov) khususnya Disporapar Kalimantan Barat.

Dia bersama pelatih dan atlet dengan terpaksa mengadukan masalah ini ke Komisi V DPRD Kalimantan Barat yang membidangi olahraga. Penyebabnya adalah surat pengusiran sekaligus pengosongan sudah keluar dua kali.

"Jujur, saya, pelatih lain, dan atlet tidak tahu asal-usulnya. Tiba-tiba kami dikasi surat Disporapar yang isinya meminta segera dilakukan pengosongan mess," ucapnya Rabu (11/5) seusai bertatap muka dengan DPRD Kalbar.

Menurut dia surat perintah pengosongan tersebut, keluar tanpa munculnya solusi terbaik dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata. Di sana selama 35 tahun menempati mess, untuk kebutuhan listrik, air dibayar sendiri. Sementara kebutuhan makan-minum bergizi, dan vitamin atlet juga diupayakan sendiri walaupun ada bantuan, namun tidak banyak.

"Kami bingung juga. Dari mess PABBSI ini menjadi saksi lahirnya para atlet angkat besi berbakat dan bersinar. Tidak sedikit medali emas disumbangkan bagi Kalbar. Beberapa atletnya juga ada yang bertarung di kancah dunia seperti Sea Games, Kejuaraan Dunia Angkat Besi termasuk Olimpiade," ujarnya.

Ahmadin menceritakan bahwa dirinya bersama para atlet dan pelatih menempati mess PABBSI, saat era Gubernur Kalbar, Aspar Aswin. Dia sendiri datang  dari Lampung atas permintaan Pemerintah Provinsi Kalbar untuk datang ke Kalbar dan membantu meningkatkan prestasi olahraga tingkat nasional atau dunia.

Waktu itu, lanjutnya, prestasi olahraga Kalbar khusus cabor angkat besi dan berat terbilang minim prestasi. Waktu itu juga Sekda Kalbar, yang dijabat Alharhum Hendri Usman mengeluarkan rekomendasi supaya dirinya menempati gedung dimaksud. Tujuannya guna pembinaan atlet angkat besi. "Maka sejak itulah, saya bertahan dan terus membina para atlet," ucapnya.

Dari tangan dinginnya, prestasi angkat besi dan berat Kalbar beberapa waktu lalu terus menanjak tajam. Ketika bertanding dipastikan menyumbang mendali baik pada Pekan Olahraga Nasional  (PON), kejuraan dunia termasuk Sea Games. Semua atletnya dilatih oleh PABBSI Kalbar.

"Nah sementara dengan surat Disporapar Kalbar, saya saya diusir.  Kami harus keluar tanggal 13 Mei ini, dan harus dikosongkan. Tak boleh ada aktivitas. Pertanyaannya akan ke mana saya, pelatih  dan para atlet,” ujarnya.

Dia menambahkan, harusnya kebijakan tersebut belum perlu dilakukan. Masalahnya Presiden Jokowi beberapa waktu lalu sudah memerintahkan setiap daerah wajib membina tiga cabang olahraga unggulan. Mulai dari Pananah, Bulu Tangkis hingga Angkat Besi. Sebab angkat besi sering bertanding di Olimpiade.

"Herannya seusai kami bina lewat pelatihan setiap harinya, kenapa sekarang disuruh kosongkan dan dilarang beraktivitas," kata dia.

Ahmadin sendiri khawatir yang dilakukan Disporapar Kalbar akan berpengaruh besar terhadap  pada atlet berprestasi. Masalahnya kalau dikosongkan tidak ada lagi yang mengawasi para atlet berlatih keras. Di mess PABSI Kalbar  juga, sejumlah peralatan dari PB PABSI harus dijaga.

"PB PABSI di Jakarta yang diketuai Jendral Joko Pramono sampai meminjamkan alat pelatihan. Ada juga pelatih dari pusat disuruh melatih di Mess PABSI. Akan ke mana semuanya ini," ujarnya.

"Kalau semuanya hilang, siapa nantinya bakalan bertangungjawab," timpal dia.

Ahmadin berharap, ada solusi jika memang pun dirinya diusir. Terlebih dia tak ada tempat tinggal di Kalbar.

Ahmadin masih berharap adanya ruang komunikasi terbuka. Minimal pertemuan dengan Gubernur Sutarmidji dapat terjadi. Sebab, Gubernur Kalbar sebelumnya berjanji akan membangunkan tempat latihan yang lebih baik guna menunjang prestasi angkat besi. Bahkan Gubernur Sutarmidji sudah turun melihat mess PABSI.

"Kabarnya akan dibangun tempat latihan representatif ketika pak Gubernur berkunjung. Tetapi kenapa sekarang, kami mau diusir," katanya penuh heran.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi V DPRD Kalbar, Tony Kurniadi sangat menyayangkan kebijakan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kalimantan Barat terkesan terburu-buru melakukan pengusiran kepada pelatih, dan atlet. Menurutnya untuk penataan kawasan Gelora Khatulistiwa yang dilakukan beberapa waktu belakangan, jangan sampai mengabaikan pembinaan untuk para atlet dan pelatih.  Dia meminta kebijakan Disporapar ditinjau ulang.

"Hari ini kami mendengarkan keluhan pelatih dan atlet alam tanda kutif diusir tanpa ada win-win solusi," kata Tony seusai menerima audiensi perwakilan Pengprov PABSI di ruang Badan Anggaran DPRD Kalbar.

Kata Tony, harusnya sebelum kebijakan dikeluarkan dilakukan kordinasi dahulu. Libatkan Pengprov PABSI, KONI Kalbar terlebih dahulu. Sangat disayangkan saja pelatih PABSI yang mengabdi puluhan tahun merupakan sosok penting ketika nama Kalbar berjaya dengan medali emas, perak dan perunggu.

Tony cukup bangga, kepala daerah beberapa puluhan tahun silam sampai mendatangkan Pelatih Ahmadin Umar dari Lampung.

Sosok Ahmadin sangat membuktikan loyalitas dan dedikasi bagi Kalbar untuk cabor angkat besi dan berat. Dari tahun ke tahun prestasi Cabang Olahraga (Cabor) Angkat Besi meningkat tajam.

"Harusnya peningkatan prestasi  diapresiasi tinggi, termasuk mengeluarkan kebijakan. Untuk itu, kami dari Komisi V DPRD Kalbar meminta Disporapar meninjau ulang surat perintah pengosongan. Sambil berjalan dikoordinasikan ke pihak terkait untuk dicarikan win-win solusion," pinta politisi dari Partai Amanat Nasional ini.

Tony tidak ingin kebijakan pengosongan mess PABSI berdampak kepada prestasi atlet. Jangan sampai pelatih berprestasi dibajak provinsi lain termasuk para atletnya. Masalahnya tak sedikit atlet-atlet PABSI Kalbar yang berprestasi di nasional dan dunia dibajak provinsi lain.

"Intinya Kalbar masih minim prestasi olahraga dibandingkan provinsi lain. Hanya olahraga tertentu saja. Sementaraf cabor angkat besi merupakan cabor potensial menjadu pendulang berbagai medali," ucapnya.

"Kan aneh, harusnya Disporapar membina cabor prestasi kemudian diperhatikan. Mau jadi apa Kalbar kalau PABSI sampai berantakan karena kebijakan salah. Harusnya kita berpikir keras dari tahun ke tahun prestasi olahraga Kalbar  meningkat," ujarnya.

Tony khawatir kalau kebijakan pengosongan mess PABSI dilanjutkan bakalan berdampak terhadap prestasi cabor angkat besi di Kalbar. Jelas saja Kalbar terancam kehilangan pelatih potensial termasukm atletnya. Dampak lainnya yakni menurunkan semangat atlet, dan menghancurkan prestasi angkat besi.

Komisi V memastikan akan menyurati Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata supaya mau meninjau ulang kebijakan pengosongan sampai tanggal 13 Mei ini sampai benar-benar ditemukan win-win silusi.

"Tadi salah satu atlet cewek angkat besi Kalbar, yang banyak bertarung di kejuaraan dunia angkat besi sudah bicara panjang lebar. Mereka bersemangat sekali dan pelatih potensial di mess PABSI. Ini jelas bertolak belakang dengan rencana pengosongan agar atlet leluasa. Bahkan atlet mengaku tak semangat kalau tidak ada pak Ahmadin di sana," ujarnya.

Sementara, Riska Oktaviana Atlet Cabor Angkat Besi yunior yang sering bertarung di kejuraan angkat besi dunia meminta  Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kalimantan Barat membatalkan perintah pengosongan mess PABSI Kalbar, i kawasan Gelora Olahraga Khatulistiwa.

Peraih medali emas dalam  kejuaraan angkat besi, EGAT King's Cup Junior di Bangkok, Thailand ini tidak ingin berpisah dari pelatih. Sebab, keberhasilan yang didapatnya, tidak terlepas dari tangan dingin dan bimbingan pelatih hari-hari di mess.

"Kami berharap sekali pelatih angkat besi tetap disitu. Kehadiran pelatih di sana membantu kami berprestasi," ucap Riska. (den) Editor : Syahriani Siregar
#PABBSI #pelatih #diusir #Gelora Khatulistiwa #pengprov #atlet