Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Keunikan Bahasa Taman dan Bahasa Ribun

Misbahul Munir S • Minggu, 20 November 2022 | 12:10 WIB
Eka Winarti
Eka Winarti
Oleh: Eka Winarti

KALIMANTAN Barat merupakan sebuah provinsi yang memiliki 14 kabupaten/kota. Untuk saat ini menurut hasil pemetaan Provinsi Kalimantan Barat memiliki sembilan bahasa besar, yaitu bahasa Uud Danum, bahasa Punan, bahasa Taman, bahasa Bukat, bahasa Bakatik, bahasa Ribun, bahasa Melayu, bahasa Kayaan, dan bahasa Golik.

Pada tahun 2021 dan 2022 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat memusatkan pengambilan data pada bahasa Taman, bahasa Golik, bahasa Ribun, bahasa Melayu, dan bahasa Bakatik untuk memperkaya bahasa Indonesai dengan entri baru dari leksikon berbagai bahasa daerah yang banyak dan beragam sekaligus menginventarisasi bahasa daerah. Selain itu kegiatan inventarisasi dilakukan agar bahasa-bahasa yang terdapat di Kalimantan Barat tidak mengalami kepunahan. Ada kemungkinan  bahasa daerah akan hilang sebab jumlah penuturnya sudah mengalami penurunan, penuturnya sudah tidak banyak lagi. Penutur bahasa daerahini kebanyakan adalah orang-orang tua, sedangkan kawula mudanya lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa yang dipengaruhi bahasa Indonesia bahkan bahasa asing tetapi diucapkan dalam dialek bahasa daerah.

Untuk pengumpulan data pada kegiatan inventarisasi dilakukan dengan cara wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan pengambilan data di lapangan, ditemukan keunikan-keunikan disetiap bahasa daerah. yaitu bahasa Ribun dan bahasa Taman.

Bahasa Ribun (Hibun) dituturkan oleh masyarakat di desa Tanggung dan desa Semirau, Kecamatan Jangkang; di desa Gunam, Kecamatan Parindu; di desa Empodis dan desa Upe, Kecamatan Bonti; dan di desa Semongan, Kecamatan Noyan. Daerah-daerah tersebut berada di Kabupaten Sanggau.

Secara administratif bahasa ini dikenal dengan nama Ribun, tetapi masyarakat menamakan diri mereka Hibun. Keunikan bahasa Ribun adalah kosakatanya tidak memiliki kata yang diawali dengan huruf R tetapi huruf H. Untuk kata serapat terdapat kata yang diawali dari huruf R.

Ada beberapa contoh kata pada bahasa Ribun: hobut artinya rebut, hacunartinya racun, husoʔartinya rusak, ha:kŋ artinya rahang, habus artinya rebus, hubohartinya roboh, hiam artinya riam. Sedangkan contoh kata serapan dalam bahasa Ribun:

ragu artinya ragu → mo yoʔ ragu ŋan ko kamu jangan ragu dengan saya

rok artinya rok  → ŋiɲoʔ rok baoh→ mengenakan rok baru

Menurut hasil pemetaan, bahasa Taman dituturkan oleh masyarakat di wilayah hulu Sungai Kapuas, antara lain di Engko’ Tambe, Kecamatan Putussibau Selatan; di Desa Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu; di Mensiau, Kecamatan Batang Lupar; di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah tutur bahasa Taman dikelilingi oleh wilayah tutur bahasa Melayu. Bahasa Taman tersebar di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu di wilayah Kecamatan Putussibau, Mandai, dan Batang Lupar.Secara administratif bahasa ini dikenal dengan nama Melapi, tetapi masyarakat menamakan diri mereka Malapi.

Pengambil data bahasa Taman dilakukan di desa Melapi. DesaMelapi merupakan salah satu wilayah tutur bahasa Taman.Wilayah tutur bahasa Taman yang lain adalah desa Ingko Tambe, desa Sayut dan desa Urang Unsa. Keunikan dalam bahasa Taman adalah tidak ada huruf e pada huruf kedua dalam sebuah kata tetapi menggunakan huruf a. Contoh kata-kata dalam bahasa Taman: malapi artinya melapi, barasartinya      beraspati artinya petimanabang artinya menebang, galang       artinya gelang, garagaji artinya gergaji.

Mengingat bahasa Ribun dan bahasa Taman yang sudah jarang digunakan oleh penuturnya, terutama pada generasi muda sebaiknya bahasa tersebut kembali digiatkan penggunaannya diranah keluarga dan masyarakat. (*) Editor : Misbahul Munir S
#Bahasa Taman #Bahasa Ribun #Keunikan Bahasa