Cara Mempertahankan Budaya Tak Tertelan Zaman
60 peserta cilik mengenakan pakaian adat bugis mengikuti lomba fashion show dalam rangka Festival Wisata Budaya Bugis bertempat di Rumah Adat Bugis Saoraja Aliri Mpero, Kecamatan Pontianak Barat, Minggu pagi. Tujuan gelaran lomba ini sekaligus mengenalkan pakaian budaya bugis pada generasi muda.
Mirza Ahmad Muin, Pontianak
RUMAH Adat Bugis Saoraja Aliri Mpero, Minggu pagi sudah dipenuhi puluhan anak-anak yang mengenakan pakaian adat Bugis. Baju bodo (perempuan) dan baju jas tutu (laki-laki) dikenakan.
Pakaian adat bugis yang dikenakan oleh para peserta anak-anak itu berwarna-warni. Mereka mengenakannya lengkap. Tak lupa wajah para peserta disolek. Menjadikan para laki-laki semakin tampan dan tentunya para peserta perempuan tak kalah cantik.
Umi Kalsum salah satu peserta fashion show anak budaya Bugis sudah sejak pukul enam pagi mempersiapkan diri. Mengenakan baju bodo berwarna hijau ia sangat senang.
Menurutnya, lomba fashion show mengenakan baju adat budaya Bugis menjadi pengalaman pertamanya. Dalam mempersiapkan lomba, ia sudah mempelajari sejak jauh hari.
Utamanya soal melatih kepercayaan diri saat tampil di depan umum. Apalagi dilokasi acara, begitu banyak pesertanya. Selain itu, ramai pula yang menonton lomba fashion show ini. "Senang sekali bisa mengenakan baju bodo, baju adat Bugis," ujarnya.
Ketua Forum Komunikasi Orang Bugis Kalimantan Barat Ardianysah menuturkan animo peserta anak-anak untuk ikut serta dalam lomba fashion show pakaian budaya bugis sangat tinggi. Dari data panitia ada 60 peserta terbagi 30 laki-laki dan 30 anak perempuan. Lomba ini tingkat Sekolah Dasar, se Kecamatan Pontianak Barat.
Pantauan dia, para peserta juga tampil maksimal. Bagi peserta laki-laki sangat tampan begitu pula peserta perempuan, semuanya cantik.
Melihat animo pelajar SD yang tinggi untuk ikut serta dalam lomba fashion show. Tentu berdampak positif terhadap perkembangan budaya Bugis khususnya di Kota Pontianak.
Sebab dari anak-anak ini ke depan menjadi penerus penjaga budaya dan adat istiadat bugis agar tidak hilang ditelan zaman.
Kata Ardiansyah ada banyak rangkaian acara dikegiatan Festival Wisata Budaya Bugis. Selain fashion show anak. Ada juga pertunjukan seni silat bugis. Kemudian ada milad FKOB Pontianak Barat. Di malam harinya, ada tundang mandre sepuluh.
"Kalau di melayu, makan saprahan bersama," ujarnya.
Ia berharap kegiatan yang diadakan FKOB Kalbar setiap tahunnya, bisa melahirkan potensi-potensi baru dalam memajukan budaya bugis. Seperti di Teluk Pakedai kemarin, terdapat permainan tanjidor dengan menampilkan musik dan bahasa bugis. "Begitu juga di Pontianak harapan saya sama. Ada sesuatu yang baru yang diangkat dari budaya bugis," ingin Anggota DPRD Provinsi Kalbar itu. (**) Editor : Misbahul Munir S