Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade Ardiansyah, membenarkan peristiwa tersebut. Ade menerangkan, dari informasi yang disampaikan Polsek Teluk Pakedai, ada empat pemancing yang tenggelam. Mereka adalah Prawono, Cahyo, Rian dan Hadirin.
"Saat kejadian, tiga pemancing berhasil selamat. Sementara satu orang lainnya, Hadirin hilang," kata Ade, Minggu (23/7). Ade menuturkan, proses pencarian terhadap korban hilang pun dilakukan. Dibantu tim SAR dan masyarakat setempat, penyisiran di lokasi tenggelamnya perahu dilakukan. "Pencarian hari pertama kemarin korban belum berhasil ditemukan," ucap Ade.
Ade mengatakan, proses pencarian korban kembali dilakukan pagi tadi. Proses pencarian akhirnya membuahkan hasil. "Korban Hadirin ditemukan, namun dalam keadaan sudah meninggal," pungkas Ade.
Hadirin korban meninggal dunia akibat tenggelam saat mancing di perairan Sungai Kapuas antara Sepuk Laut Kecamatan Sungai Kakap dan Teluk Pakedai I, Kabupaten Kubu Raya Sabtu lalu, merupakan salah satu pejabat di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat. Di mata teman-temannya, selain aktif mensosialisasikan program Bangga Kencana, ia juga memiliki hobi memancing.
"Tidak biasanya suami turun mancing pukul empat subuh. Kadang kalau mau mancing turunnya habis salat subuh. Hari itu, sebelum turun, suami sudah membereskan rumah," ujar istri almarhum Hayari kepada Pontianak Post.
Sebelum pergi mancing, malamnya beliau ngembun nonton wayang. Mungkin juga lelah namun karena mancing memang sudah hobinya. Tiba-tiba pada sore hari ia mendengar kabar bahwa kapal perahu yang dinaiki suami bersama tiga orang rekannya tenggelam dihantam gelombang.
Tiga orang dari rekan Hadirin, yaitu Parwono, Cahyo dan Rian selamat. Sedangkan suaminya dalam kejadian itu sempat hilang. Almarhum ditemukan tim SAR saat pencarian pada Minggu kemarin dalam keadaan meninggal dunia.
Saat jenazah Hadirin tiba rumah duka pada pukul 13.30 kemarin, Hayari tak mampu membendung air matanya. Begitupula dengan anak lelakinya, memeluk sang ayah kemudian bersimpuh mencoba tegar. Sedangkan anak perempuan almarhum tak mampu menahan duka. Isakan tangis tampak terdengar dari ruang belakang ketika jenazah masuk ke rumah duka. Beberapa saudara dan kerabat almarhum di BKKBN Kalbar tampak mencoba menenangkan pihak keluarga.
Di mata Sekretaris BKKBN Kalbar Abdurahman, almarhum semasa hidup merupakan orang yang tidak memilih pekerjaan. Ia mengenang saat beliau memasang umbul-umbul, ngecat dan pekerjaan lainnya, beliau tak ragu untuk membantu para staf. Kalau dipikir itu merupakan kerjaan staf, namun beliau yang menjabat sebagai Pranata Kependudukan dan Keluarga Berencana BKKBN Kalbar tak ragu memberikan contoh yang baik pada yang lebih muda.
Bagi dia dan semua keluarga besar BKKBN Kalbar, betul-betul kehilangan sosoknya. "Beliau itu tak pernah ngeluh kalau soal kerja. Semua dikerjakannya," katanya.
Padahal kata dia, hari Senin (hari ini) bidang almarhum tengah mengadakan kegiatan besar. Yaitu pemilihan Duta GenRe tingkat Provinsi Kalbar. Tentu semua merasa kehilangan.
"Saya pernah bersama beliau saat ikut program pelayanan KB Daerah Aliran Sungai dari Kota Pontianak hingga Kapuas Hulu menggunakan kapal bandong. Beliau ini orangnya selalu happy, meski menjabat tapi tidak sombong," kenang Haryadi, salah satu jurnalis.
Di waktu senggang, usai pelayanan KB selesai, ia kerap mancing di atas kapal bandong. Hasil pancingannya kadang di masak. Kalau ikan atau udang yang sangkut di jorannya masih kecil, ia rilis kembali.
Pada malam hari ketika berada di kapal bandong tidak banyak yang bisa dilakukan. Almarhum selalu membuat suasana riang. "Kami bermain kartu sambil bergurau. Betul-betul kenangan yang tak bisa dilupakan dengan beliau. Semoha almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT," tutupnya. (adg/iza) Editor : Misbahul Munir S