Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dinas Pertanian Antisipasi El Nino, Siapkan Sejumlah Langkah Mitigasi

Misbahul Munir S • Jumat, 11 Agustus 2023 | 11:15 WIB
KEBAKARAN: Pihak Damkar dan Busera Sintang tengah melakukan pendinginan pada lokasi kebakaran yang melanda sejumlah ruko di Simpang Pinoh, Kecamatan Sungai Tebelian.  FOTO ISTIMEWA
KEBAKARAN: Pihak Damkar dan Busera Sintang tengah melakukan pendinginan pada lokasi kebakaran yang melanda sejumlah ruko di Simpang Pinoh, Kecamatan Sungai Tebelian. FOTO ISTIMEWA
PONTIANAK - Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kalimantan Barat (Kalbar) Florentinus Anum mengungkapkan, saat ini Kalbar belum terdampak ekstrem El Nino karena masih terjadi hujan, meski hanya di kategori sedang. Karena itu sampai saat ini dampak El Nino bagi pertanian di Kalbar belum terjadi secara signifikan.

“Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Kalbar, dampak El Nino terhadap curah hujan terjadi pengurangan curah hujan di bulan Juni, Juli dan Agustus, sedangkan sifat curah hujan masih normal,” ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada Pontianak Post, Kamis (10/8).

Meski demikian, pihaknya tetap menyusun langkah-langkah untuk mengantisipasi dampak El Nino bagi pertanian. Seperti dijelaskannya El Nino berarti musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari biasanya pada daerah-daerah tertentu. Sementara puncak El Nino di Kalbar diperkirakan terjadi di bulan Agustus 2023.

Menurut Anum kabupaten di Kalbar yang berpotensi terjadi El Nino yaitu Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, dan Kayong Utara. Yang mana El Nino berdampak positif pada meningkatnya produksi padi pada lahan rawa lebak. “Dampak negatif El Nino yaitu menyebabkan kekeringan sumber air bersih, berpotensi gagal panen, dan meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” jelasnya.

Ia menjelaskan, ada tiga strategi mitigasi yang sangat mungkin dilakukan di area pertanian saat El Nino. Pertama, memanen air hujan dengan membuat jebakan-jebakan air di lahan maupun di sekeliling lahan pertanian. “Jebakan air dapat berupa cekungan, seperti embung, sumur, saluran, biopori, bahkan kolam, tergantung kondisi lahan, dan jenis tanaman yang diusahakan,” katanya.

Kedua, memberikan bahan organik ke dalam tanah. Bahan organik lanjut dia, bisa meningkatkan kemampuan tanah untuk memegang air, sehingga lahan tidak mudah kering. “Upaya menyediakan bahan organik yang paling mudah, dan murah adalah dengan mengembalikan sisa biomassa yang tidak terangkut saat panen ke dalam tanah, seperti jerami padi,” ujarnya.

Lalu yang ketiga adalah dengan mengkombinasikan pembuatan cekungan untuk jebakan air dengan pemberian bahan organik. “Cekungan berupa saluran atau biopori digunakan   menampung biomassa sebagai bahan baku bahan organik,” ucapnya.

Tak hanya itu, upaya lain menghadapi El Nino setelah mitigasi kata dia adalah dengan adaptasi. Seperti salah satunya, pemilihan varietas padi yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Atau jenis varietas berumur pendek, seperti inpari 32, inpari 42, cakra buana, dan situbagendit.

Kemudian, Anum menambahkan, penggunaan sarana produksi pertanian (saprodi) yang tepat guna, juga dapat menjadi pilihan. Seperti aplikasi bahan organik sebagai pembenah tanah, dan penggunaan pupuk yang tepat, disesuaikan dengan ketersediaan air agar efektif dan efisien.

“Pemupukan yang digabungkan dengan pengairan drip irrigation sangat berpotensi meningkatkan efisiensi air dan pupuk. Pemupukan silika diketahui juga dapat meningkatkan ketahanan terhadap cekaman abiotik, seperti kekeringan,” paparnya.

Selanjutnya upaya antisipasi dan adaptasi El-Nino di sektor pertanian juga dapat dilakukan dengan berbagai hal. Seperti dipaparkannya, dengan identifikasi dan maping lokasi terdampak kekeringan, serta mengelompokkan menjadi daerah merah, kuning dan hijau. Percepatan tanam untuk mengejar sisa hujan. Dan juga peningkatan ketersediaan alat mesin pertanian (alsintan) untuk percepatan tanam.

Termasuk pula dengan peningkatan ketersedian air, dengan membangun atau memperbaiki embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, serta pompanisasi. Kemudian penyediaan benih tahan kekeringan dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

“Selain itu ada program 1.000 Ha adaptasi dan mitigasi dampak El-Nino. Pengembangan pupuk organik terpusat dan mandiri. Dukungan pembiayaan KUR dan asuransi pertanian. Dan penyiapan lumbung pangan sampai tingkat desa,” tutupnya.


Petakan Titik Rawan Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kabupaten Kubu Raya hingga, Kamis (10/8) masih terjadi. Hal ini diakibatkan telah memasuki musim kemarau yang selama ini selalu identik dengan merebaknya aktivitas pembakaran hutan dan lahan.

Isu kebakaran hutan dan lahan masih menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai pihak. Apalagi mengingat posisi Kabupaten Kubu Raya yang memiliki objek vital berupa Bandara Internasional Supadio. Sehingga dampak ikutan dari bencana kebakaran hutan dan lahan cukup dirasakan seperti dampak ekonomi, kesehatan, lingkungan dan sosial.

Menurut Ya’ Suharnoto, Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit Wilayah Kubu Raya. KPH Wilayah Kubu Raya menyiagakan sumber daya yang ada dan meningkatkan kewaspadaan dalam memasuki musim kemarau kali ini. Terutama dalam penangulangan pemadaman kebakaran  di kawasan hutan dan lahan yang merupakan wilayah kerjanya.

“Dalam melakukan pengendalian Karhutla di wilayah kerjanya KPH Kubu raya. Kami selalu berkolaborasi dengan pihak terkait seperti, Manggala Agni, BPBD  Kubu Raya, Polres, Babinsa, Babinkamtibmas, dan pihak Kecamatan dan Desa,” terangnya.

Dia menambahkan pihaknya sudah memetakan dimana saja sejumlah titik daerah rawan kebakaran hutan. Seperti di kecamatan Sungai Raya, Ada di Desa Limbung, Desa Madu Sari, Desa Kuala Dua, Desa Mekar Sari, Kawasan Sungai Raya Dalam, Desa Parit Baru, dan Desa Sungai Buan. Selain itu untuk Kecamatan Rasau Jaya daerah rawan Karhutlanya meliputi kawasan Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya, Desa Pematang 7, dan Desa Rasau Jaya 3.

“Untuk wilayah kecamatan Sungai Kakap, seperti Desa Punggur Besar dan Punggur Kecil juga menjadi wilayah rawan yang cukup parah terjadi karhutla,” tambahnya.

Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Kubu Raya perlu kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Hal ini mulai membuahkan hasil dengan jumlah titik hotspot per tanggal (10/8) dengan mulai berkurang titik api dibandingkan dengan beberapa Kabupaten lain di Kalimantan Barat. “Untuk  saat ini tercatat 13 titik confidence/ titik kepercayaan menengah mulai berkurang,” tutupnya. (bar/yad) Editor : Misbahul Munir S
#TPH #bmkg #el nino #karhutla #Migitasi