Memiliki tujuan dan perencanaan keuangan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, terutama saat memasuki usia 30 tahun. Sayangnya, masih ada yang melakukan kesalahan dalam mengelola finansial pada masa terpenting ini. Apa saja kesalahan tersebut?
Oleh :
Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘life begins at thirty’, di mana setelah usia tersebut orang dituntut untuk sudah mematangkan seluruh strategi hidupnya. Tak terkecuali menyangkut pengelolaan keuangan.
Dosen IAIN Pontianak, Anggita Anggriana, SH., MH menilai, posisi 30 tahun dianggap usia yang paling pas dalam kehidupan untuk melakukan perencanaan keuangan. Hal itu karena usia ini dianggap sudah lebih matang, serta stabil dalam artian sudah bisa mempertimbangkan apa saja hal-hal yang dibutuhkan dan diinginkan.
“Pada usia 30 tahun cenderung mengambil pertimbangan. Misalnya ketika melihat sebuah barang, apakah ini butuh atau justru hanya ingin,” ujarnya.
Manajemen keuangan mungkin masih berantakan saat usia 20 tahunan. Pada usia di bawah 30 tahun ini, kebanyakan alokasi dana kepada hal-hal yang diinginkan. Sementara pada usia 30 tahun, sebaiknya menjadi lebih bijak dalam mengalokasikan hal-hal sesuai dengan yang dibutuhkan, bukan sekedar suka atau mengikuti keinginan.
Menurutnya, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang saat menginjak usia 30an tahun. Kesalahan tersebut salah satunya adalah tidak memikirkan tabungan. Tidak sedikit orang yang menyepelekan pentingnya tabungan, padahal keberadaannya sangat diperlukan sebagai dana yang disimpan untuk masa depan.
“Menabung ini saatnya dipaksakan terutama pada usia 30 tahun ini,” ujarnya.
Saat usia 30 tahun, sudah selayaknya mengalokasi gaji atau pemasukan untuk disimpan dalam bentuk investasi jangka panjang seperti tabungan. Tabungan bisa menjadi dana cadangan untuk membantu mengatasi atau meminimalisir risiko-risiko yang mungkin akan terjadi di depan, atau kebutuhan yang akan datang.
Kesalahan selanjutnya adalah terlalu fokus pada karir ataupun keluarga. Terkhusus bagi perempuan yang dipercaya fokus mengurus keluarga. Menurutnya, jangan sampai memprioritaskan pada karir ataupun keluarga, tanpa memikirkan atau merencanakan kemampuan finansial di masa yang akan datang.
“Sering terjadi anak ataupun suami diberikan banyak fasilitas, atau barang-barang yang ternyata hal itu hanya merupakan keinginan bukan sebuah kebutuhan,” tuturnya.
Menurutnya, tidak salah menuruti keinginan keluarga, namun harus lebih bijak dalam memprioritaskan apa saja yang memang dirasa perlu untuk dipenuhi. Jangan pula terlalu menganggap bahwa apa yang menjadi keinginan merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Tidak memiliki asuransi dan menyiapkan dana darurat juga merupakan kesalahan yang dilakukan saat usia memasuki 30 tahun. Berbeda dengan tabungan, dana darurat adalah dana yang dipersiapkan untuk keadaan darurat, misalnya, sebagai antisipasi saat terkena musibah, PHK, jatuh sakit, bangkrut, dan kejadian mendesak lainnya,
Sementara asuransi dibutuhkan memberi perlindungan ketika mengalami risiko di kemudian hari. “Kita harus punya batasan atau mempersiapkan pos-pos dana darurat dan asuransi, sebab kita tidak tahu bagaimana kondisi kesehatan kita di tahun-tahun berikutnya,” tuturnya.
Menunda investasi juga termasuk kesalahan dalam mengelola keuangan pada usia 30 tahun. Padahal investasi bisa dimanfaatkan untuk membantu mempersiapkan masa tua, hingga membantu seseorang untuk bebas secara finansial. Saat ini ada beragam investasi yang bisa dipilih, mulai dari emas, saham, reksadana, ataupun aset.
“Tidak memiliki investasi itu merupakan kesalahan yang fatal,” tuturnya.
Di sisi itu, Anggita juga menyarankan untuk melunasi atau setidaknya mengurangi beban utang-utang sebelum usia 30 tahun. Upaya melunasi utang ini dilakukan salah satunya dengan manajemen keuangan yang benar dengan memprioritaskan pengeluaran pada hal-hal yang dianggap penting dan butuh. Langkah ini dilakukan agar tujuan keuangan lainnya dapat mulai direalisasikan saat usia memasuki 30 tahun. Editor : Misbahul Munir S