Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Jualan Majalah dan Koran Hingga Menjadi Guru Les Saat Kuliah

Syahriani Siregar • Senin, 14 Agustus 2023 | 14:18 WIB
BANTUAN: Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyerahkan bantuan operasional penyelenggara PAUD secara simbolis. PEMKOT PONTIANAK
BANTUAN: Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyerahkan bantuan operasional penyelenggara PAUD secara simbolis. PEMKOT PONTIANAK
Nama Mulyadi mencuat pada posisi atas dalam polling bursa Wali Kota Pontianak. Di dunia pendidikan dan keagamaan, namanya memang tak asing. Siapa sangka, jalan panjang perjalananan hidupnya, menempatkan ia menjadi seorang Sekda Pontianak. Bagaimana kisahnya?

Mirza Ahmad Muin, Pontianak

Mulyadi bukanlah terlahir dari keluarga berada. Masa kecil anak dari Muhamad Tahir Abubakar dan Zaidah Said ini banyak dihabiskan di penyeberangan fery (pelampung Bardan-Siantan) dan Halaman Kantor Bea Cukai. Tepatnya saat ia duduk di bangku Sekolah Dasar, tahun 70-an, sepulang sekolah, dari rumahnya yang berada di bilangan Jalan Rajawali Kecamatan Pontianak Kota, ia melipir ke dua tempat ini. Di sana ia menjajak majalah dan koran.

“Kakek saya itu agen koran dan majalah. Sepulang sekolah, sayapun berjualan di pelampung dan Bea Cukai,” kenang Mulyadi.

Keseharian berjualan majalah dan koran dilakoninya sejak SD hingga SMA. Hasilnya ditabung dan digunakan buat keperluan lainnya. Terbiasa mandiri mencari uang sejak kecil, ketika duduk di bangku kuliah jurusan FKIP Untan, ia juga nyambil kerja. Tepatnya menjadi guru privat matematika dan IPA pada pelajar SD.

Itu ia lakukan sekaligus untuk menutupi biaya kuliahnya. Zaman itu, kata Mulyadi orang tua memberikan biaya untuk masuk kuliah. Selebihnya ia mencari tambahan dari les privat. Sebagai mahasiswa berpretasi, ia juga mendapatkan beasiswa. Uang hasil les privat dan beasiswa inilah menjadi penyambung setiap semester hingga akhirnya ia lulus dan menyandang Sarjana Pendidikan Teknologi Pendidikan Perencanaan.

Di tahun 1982 ia pernah mencoba melamar sebagai abdi negara. Hasilnya ia lolos, namun karena ingin fokus menyelesaikan kuliah S1, iapun memilih untuk mundur menjadi abdi negara dan kembali fokus kuliah. Barulah di tahun 1989 saat penerimaan CPNS guru, ia kembali ikut tes. Hasilnya juga sama, ia lulus dan ditempatkan di SMKN 1 Pontianak.

Sebagai tenaga pendidik, asam garam sudah banyak dikecap Mulyadi. Bisa dikatakan di SMK 1 Pontianak menjadi awal karir ASN nya terus menanjak. Setelah menjadi guru, ia juga merasakan menjadi Kepsek di SMKN 1 Pontianak. Moncer dengan prestasi predikat amat baik nasional hasil monitoring nasional, iapun ditarik ke Diknas menjabat sebagai Kepala Bidang Sekolah Dasar.

Setelah menjabat Kabid Dikdas, iapun sempat menjadi Kepala TU di Dinas Arsip dan Perpustakaan. Disana, iapun berprestasi dengan mendapat penghargaan tingkat nasional untuk pengelolaan kearsipan. Di sana, ia juga mendapatkan bantuan mobil pintar dari kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Usai di Dinas Arsip dan Perpustakaan Pontianak, ia kembali mendapat tantangan baru sebagai Kepala Dinas Olahraga. Setelah itu, ia pindah lagi ke rumahnya, di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan menjabat kepala dinas.

Dasar orang pendidikan, menjabat sebagai kadis dari 2014-2016, iapun melakukan banyak terobosan. Salah satunya dengan membuat satu program data base. Dalam data base tersebut terdapat segala macam data tentang kependidikan. Mulai dari jumlah sekolah, guru hingga murid se Kota Pontianak.

“Dari data ini kita bisa lihat jumlah kebutuhan guru, jumlah daya tampung murid. Sehingga ketika ada anak yang ingin masuk ke satu sekolah bisa melihat data ini,” ujarnya.

TV Edukasi yang dikenalkan sebagai TV pelajar Kota Pontianak juga ia letupkan. Memiliki gelombang sendiri, dengan berbagai programnya menjadi ikon para pelajar saat itu. Dari yang telah dibuat itu, menjadi modal pijakan ketika ia ikut dalam seleksi Sekda Kota Pontianak.

“Saat tes Sekda, saya ditanyai oleh Kepala KASN. Beliau bertanya ke saya, apa saja keberhasilan Diknas saat saya pimpin. Saya tak jawab banyak. Sebab kinerja itu sudah tampak di website Diknas. Beliau langsung mengecek wesbitenya dan kaget. Ternyata pendidikan di Pontianak pernah unggul dari sekolah di Pulau Jawa, dimana hasil UN kita nilainya tinggi,” ujarnya.

Mantan aktivis inipun, juga aktif di organisasi kemasyarakatan. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Keluarga Berencana Provinsi Kalbar, Ketua Lembaga Mujahidin, Ketua LPTQ Pontianak, dan pernah menjadi Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhamadiyah.

Ditanya dengan tugasnya sebagai Sekda Kota Pontianak sekarang, merupakan amanah baginya. Untuk tugas-tugas Sekda sejauh ini ia mampu menjalankannya. Ia malah berpikir, jika tugas sebagai Kepala Dinas justru lebih berat dibanding Sekda. Sebab Kadis langsung menjalankan program teknis di lapangan. Beda dengan Sekda tetapi pengawasannya ada di semua lingkup Organisasi Perangkat Daerah. Kesemua yang ia jalani betul-betul dari bawah, sehingga ketika menjalankan suatu amanah yang besar, ia tak lagi sulit beradaptasi, karena proses tempaan hidupnya hingga sampai ke titik ini juga melewati jalan terjal berliku dan panjang. (*) Editor : Syahriani Siregar
#mulyadi #guru les #CPNS guru #sekda kota pontianak