Kesalahan data mempengaruhi jatah pupuk yang diterima daerah. Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Heronimus Hero menyebutkan untuk tahun 2019 ini kuota pupuk subsidi dari lima jenis sebesar 77.803 ton. Padahal tahun lalu mencapai 150.000 ton.
Tidak cuma luasan lahan, varietas tanaman dan jenis tanah juga belum banyak terdata. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Santyoso Tio menceritakan, dia pernah membawa kepala dinas pertanian Provinsi Guangxi dan investor dari Tiongkok. Mereka tertarik untuk mengembangkan pertanian ubi kayu di Kalbar. Namun para investor ini mundur teratur.
"Mereka kekurangan data, jenis ubi kayu apa yang ditanam di sini. Lalu tanahnya cocok atau tidak, dan pengembangan turunannya seperti apa di sini. Di Guangxi, mereka punya laboratorium dan pabrik terpadu, dimana ubi kayu itu mampu menghasilkan puluhan produk turunan, dari makanan hingga kosmetik. Kita kan belum sampai ke situ," tuturnya.
Untuk mendongkrak ekonomi, Kalbar wajib meningkatkan produktivitas pertanian. Contoh lain, perkebunan kelapa sawit di Sarawak menghasilkan rerata 30 ton buah. Sedangkan di Kalbar cuma 15 ton saja.
"Setelah saya amati, ternyata mereka rutin melakukan pendataan terhadap tanah. Sehingga kalau ada nutrisi yang kurang, segera ditambah. Sedangkan petani kita, semua pupuknya sama. Padahal belum tentu tanaman butuh pupuk jenis itu," imbuhnya.
Lemahnya data juga membuat bantuan pemerintah ke petani terkadang belum sinkron dengan kebutuhan petani. Bantuan berupa fasilitas juga tidak memperhatikan bahan penunjangnya.
Ibnu Rosihan petani dari Kabupaten Sambas misalnya, mengatakan pemerintah pusat maupun daerah rajin menyalurkan mesin traktor dan alat pertanian. Namun belakangan fasilitas tersebut hanya teronggok di gudang. Pasalnya mereka kesulitan untuk membeli bahan bakar.
"Tidak mungkin traktornya dibawa ke SPBU. Sedangkan kalau kita beli dengan jeriken, tidak diizinkan oleh Pertamina. Harus ada izin dulu. Akhirnya traktornya menganggur," tutur dia.
Hal serupa diungkapkan Tobing, petani asal Kabupaten Bengkayang. Dia menyoal mesin panen padi (harvest combine) yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Mesin seukuran mobil itu tak cocok untuk luasan sawah masyarakat yang kecil-kecil dan terpisah. Belum lagi biaya operasionalnya yang besar. "Di berbagai tempat mesin panen ini banyak yang menjadi besi tua," ujarnya.
Melek Teknologi dan Perkuat Kekompakan
Di era sekarang, para petani sejatinya diberkati oleh kemajuan teknologi. "Kita banjir data dan informasi di internet. Para petani bisa mencari kasus mirip yang sudah dibagikan di internet dan media sosial. Lalu belajar dari sana," ujar Manajer Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Djoko Juniwarto kepada ratusan pengurus Gabungan Kelompok Tani saat Peningkatan Kapasitas Gapoktan se-Kalbar Era 4.0 di Sekolah Bela Negara-Rindam, Singkawang, pertengahan November lalu.
Dia menyebut petani saat ini seharusnya bisa 'menikmati' data yang berlimpah. Namun kenyataannya, masih banyak petani yang belum melek terhadap data, atau malas mencari. "Kita sudah memasuki era digital. Semua informasi ada di handphone kita. Dan ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Tanda petani cerdas adalah melek data" sebutnya.
Kenapa BI mengurusi petani? Jawab dia, salah satu fungsi utama BI adalah menciptakan stabilitas harga. Adapun perubahan harga bahan pangan, terutama beras adalah yang paling rentan mempengaruhi inflasi secara keseluruhan. "Oleh sebabnya kami fokus untuk sektor pertanian. Karena harga bahan pangan sangat penting untuk dijaga. Jadi jangan heran kalau program BI banyak di sawah-sawah," jelas dia.
Lanjutnya, BI juga terlibat aktif dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. "Bersama kepala daerah di dalam TPID kita selalu mencari sebab dan solusi dari inflasi yang terjadi. Jadi selain program langsung di lapangan, kita juga aktif dalam memberikan masukan dalam kebijakan terkait pangan di daerah," ulas dia.
Pada kegiatan ini BI juga menghadirkan penyuluh Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kalbar Sigit Sapto Wibowo, yang membagikan tips mengidentifikasi masalah tanaman dan solusinya.
Misalnya, kata dia, apabila tanaman padi menghitam batang dan daunnya, tapi tidak disebabkan oleh hama, maka dapat dipastikan itu karena zat alumunium dan zat besi yang tinggi.
"Salah satu masalah pertanian padi Kalbar adalah tanahnya yang banyak mengandung mineral bauksit atau zat alumunium. Untuk mengatasinya bisa kita taburkan kapur. Atau gunakan varietas padi yang tahan di jenis lahan tersebut. Jenis-jenisnya bisa dicari di internet," ucapnya.
Tak melulu kelas dan penyuluhan, kegiatan ini juga menghadirkan sesuatu yang beda. Para petani diajak untuk latihan bela negara layaknya tentara dengan permainan outbound. Mereka terlihat sangat antusias. Berbagai permaian macam halang rintang, memanjat tali, flying fox dan lainnya tak membuat mereka takut kendati sebagian dari mereka sudah berumur. Mereka juga mendapat bekal kekompakan, ilmu manajerial dan strategi dalam menyelesaikan masalah dari pelatih Rindam.
"Kami sangat menikmati program ini. Selain diberikan materi tentang menjadi petani yang melek teknologi dan mampu mencari solusi. Kami juga diajak untuk bermain outbound. Walaupun terlihat menyenangkan, tetapi sangat menantang dan kita diajari untuk kompak serta melatih kepemimpinan," ujar Herlambang, ketua Gapoktan Benua Raya, Tayan Hilir, Sanggau. (ars) Editor : Aristono Edi Kiswantoro