Di samping harganya yang tinggi, dia mengaku bahwa saat ini stok gula sedang menipis. Sementara permintaan dari konsumen semakin besar, seiring dengan semakin dekatnya bulan Ramadan. Perilaku konsumen saat ini menurutnya cenderung mengamankan kebutuhan gula untuk kebutuhan bulan suci tersebut. “Ini mereka beli kemungkinan untuk kebutuhan bulan puasa,” kata dia.
Dalam satu hari, dia mengaku mampu menjual lebih dari 50 kg. Gula yang ia jual bukannya dalam bentuk eceran, tetapi juga dalam bentuk karungan. “Saya harap harga gula bisa turun. Saya juga sering mendengar keluhan konsumen soal tingginya harga gula ini,” pungkas dia. Pedagang Pasar Flamboyan lainnya, Anti, mengatakan saat ini stok gula dari Pulau Jawa berkurang sejak beberapa waktu terakhir, yang berakibat pada melonjaknya harga komoditas tersebut. Kenaikan harga gula diakuinya terjadi secara perlahan dari harga standarnya. “Standarnya itu biasanya Rp13.000 per kg,” kata dia.
Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Muhammad Munsif, berpendapat bila kenaikan harga gula saat ini dianggap wajar. “Naiknya harga gula dipasaran menjadi 14.500 sampai 16.000 per kg, dari 12.500 harga acuan resmi pemerintah yang terjadi saat ini di pasaran dianggap masih wajar,” jelas dia, kemarin.
Menurutnya, harga dianggap tidak wajar bila sudah di atas 20 ribu per kg. Di sisi lain, lanjut dia, kenaikan ini tidak dirasakan petani tebu yang hanya mendapatkan Harga pokok penjualan (HPP) untuk gula 9.100 per kg. Untuk mengatasi persoalan naiknya harga gula ini, kata dia, Kementerian Pertanian telah mengusulkan impor gula sebanyak 130 ribu ton. “Kemendag telah menerbitkan surat persetujuan impor baru 438.802 Ton untuk cadangan hingga bulan Ramadan dan lebaran Idulfitri,” kata dia.
Dia menyebut, saat ini ada 20 distributor gula se-Kalbar, salah satunya adalah Perum Bulog. Melihat kondisi harga gula pasir yang cukup tinggi, pemerintah menurutnya telah berkoordinasi dengan Bulog untuk menambah pasokan agar harga kembali stabil. “Kami sudah meminta Bulog untuk tambah pasokan, dan mereka sedang usaha cari sumber pasokan dari luar Kalbar,” kata dia. Kebutuhan gula penduduk Kalbar sendiri, tambah dia, per kapita per tahun sebesar 9,87 kg. Sehingga, provinsi ini membutuhkan sekitar 50 ribu ton gula pasir per tahun atau 4 ton per bulan. (sti) Editor : Super_Admin