Oleh : Siti Sulbiyah
Teras samping rumah ia ubah jadi arena kerjanya. Berbagai peralatan kerja tertata di sana, mulai dari pemotong kaca, mesin amplas, dan mesin bor, tang, circle cutting glass, dan beberapa alat pendukung lainnya. Hari itu, ia membuat vas bunga dari potongan-potongan kaca.
Semula, limbah kaca akan dipotong berbentuk balok seukuran permen. Dengan menggunakan alat pemotong kaca, kaca tersebut disayat dari arah vertikal dan horizontal, hingga membentuk pola petak-petak. Setelah itu, dengan menggunakan tang, kaca akan terpotong sesuai pola sayatan, sehingga menghasilkan banyak potongan kaca seukuran permen tersebut.
“Potongan kaca ini disusun seperti bata sesuai dengan cetakan yang kita mau,” ungkap Isnaini.
Tak hanya menghasilkan vas bunga dari potongan kaca, ia juga bisa membuat kerajinan lainnya. Di tangan kreatifnya itu, ia mampu membuat bingkai foto, piala, plakat, hingga miniatur bangunan, yang semuanya berasal dari limbah kaca.
Isnaini merupakan warga Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Idenya memulai usaha kerajinan ini lahir ketika melihat banyaknya limbah kaca yang tidak dimanfaatkan. Dari sana, dilihatnya ada peluang yang bagus untuk menghasilkan produk kreatif dari limbah kaca. Tahun 2016, ia pun mulai belajar dan mencari banyak referensi kerajinan dari kaca.
“Setelah belajar, saya memberanikan diri, beli alat-alat yang dibutuhkan. Waktu itu modalnya satu juta rupiah,” kata dia.
Karya pertamanya adalah sebuah vas bunga yang ia beri hiasan lampu kelap-kelip dan dipajang di teras rumah. Kata dia, banyak orang yang saat berkunjung ke rumah, dan memuji hasil karyanya itu. Dari hal itu pula, semakin menguatkan dirinya membuat kerajinan kaca, untuk kemudian dijual.
Untuk memperkenalkan produknya itu, ia aktif bergabung di kegiatan-kegiatan di kecamatan, termasuk salah satunya saat pameran produk unggulan desa. Hingga produk kerajinannya itu, mulai dikenal oleh pegawai-pegawai di dinas terkait. Semenjak itulah, ia aktif ikut pembinaan serta pameran-pameran, guna memperkenalkan produknya.
Promosi ia lakukan secara daring di media sosial. Namun, wilayah pemasarannya masih sangat terbatas, yakni hanya Pontianak dan sekitarnya. Itu karena produk yang ia hasilkan berbahan kaca, sehingga rentan pecah ketika dikirim ke daerah yang jauh. Pihak ekspedisi juga kerap menolak karena tak ingin menanggung risiko pecah.
“Pernah ada sekali pakai taksi. Itu pun harus bayar satu kursi. Jadi harga produknya jadi dua kali lipat,” kata dia.
Meski terbatas wilayah pemasaran, namun pangsa pasar yang lain menurutnya sangat terbuka. Terutama untuk kerajinan yang ukurannya kecil, seperti plakat, piala, serta bingkai foto. Bahkan sebenarnya, penghasilan dari barang-barang tersebut jauh lebih besar dari pada vas bunga.
“Untuk plakat harganya pada kisaran Rp60-300 ribu, piala Rp180-350 ribu, serta frame mulai dari Rp50 ribu. Sedangkan Vas bunga Rp100-600 ribu, tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan,” ucap dia.
Dirinya mengaku mengandalkan gelaran seperti wisuda, perlombaan, dan lain sebagainya sebagai pangsa pasar yang potensial. Dari sana, ia mampu menghasilkan puluhan hingga ratusan plakat atau piala. Namun, karena pandemi covid-19, kegiatan-kegiatan tersebut tidak dilakukan, sehingga tidak ada pesanan yang masuk.
“Saya berharap produk ini bisa mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas. Tentu pemasaran yang selama ini menjadi kendala harus dicarikan solusinya,” pungkas dia.
Kerja Lembur dan Tidak Tidur
Dalam menghasilkan produk kerajinan dari limbah kaca, Isnaini tak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh Wahdania, sang istri, untuk beberapa pekerjaan. Terutama saat proses mengamplas kaca. "Jadi setiap kerajinan itu harus diamplas dulu untuk menghaluskan bagian-bagian yang tajam," kata Wahdania.
Proses pengamplasan membutuhkan waktu yang beragam tergantung kerumitan bentuk kerajinan. Jika hanya berbentuk lurus tanpa lengkungan, maka ia mengandalkan mesin amplas. Dengan bantuan alat ini, waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat. Namun jika bentuk kerajinan yang dihasilkan terdapat banyak lengkungan, pengamplasan manual masih ditempuhnya. Inilah yang kadang memakan waktu yang cukup lama.
Saat orderan yang diterima banyak, terkadang kedua pasangan suami istri harus lembur. Bahkan pernah tidak tidur dalam sehari, guna mengejar target pemesan. Namun kadang kala jika tak sanggup mengerjakannya berdua, mereka mengajak beberapa orang untuk membantu. "Kadang-kadang kita ambil karyawan untuk membantu," tutur dia.
Menurut Wahdania, pembuatan kerajinan limbah kaca ini memerlukan kreativitas dan keuletan yang tinggi. Hal itu karena banyak detail yang harus diperhatikan. Ia sendiri tak mampu jika harus bekerja memotong kaca. Karena selain memerlukan tenaga yang kuat, juga perlu ketelitian agar sesuai dengan ukuran.
Perluas Pangsa Pasar
Ketua Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Kubu Raya, Sarfandi menyebut, sejauh yang didata, hanya ada satu perajin di Kalbar yang memanfaatkan limbah kaca untuk menghasilkan produk kerajinan. "Mungkin ada teman-teman perajin kaca yang lain hanya belum ketemu saja," kata dia.
Usaha kerajinan limbah kaca ini menurutnya punya potensi yang besar untuk dikembangkan. Tinggal bagaimana mana mereka bisa menjalankan usahanya secara konsisten, dan terus memperluas promosi dan pemasaran. Optimalisasi pemasaran bisa dilakukan dengan memperkenalkan produk secara offline maupun online.
Menurutnya, dukungan yang diperlukan oleh para perajin seperti Isnaini ini adalah pasar yang potensial menerima produk kerajinan. Keterlibatan instansi pemerintah menurutnya juga diperlukan, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM. "Instansi-instansi pemerintah harapan saya mendukung produk-produk umkm, yang mana hasil karya limbah kaca ini bisa dibentuk seperti piala kompetisi. Jadi tidak harus membeli trofi yang sudah jadi hasil olahan pabrik. Mendukung UMKM jauh lebih baik," tutur dia.
Hal inilah yang terus pihaknya dorong supaya produk kerajinan ini semakin dikenal dan pangsa pasarnya meluas. Pihaknya juga memberikan edukasi pemasaran serta memfasilitasi UMKM dalam pembuatan katalog offline maupun online yang bekerjasama dengan lembaga kursus dan pelatihan.
Editor : Siti