PONTIANAK – Harga kelapa bulat di Kalimantan Barat mengalami kenaikan yang signifikan seiring meningkatnya permintaan komoditas itu, terutama dari luar negeri. Para pekebun bahkan lebih senang menjual dalam bentuk kelapa bulat dari pada mengolahnya dalam bentuk kopra, sebab keuntungannya lebih besar.
“Lebih menguntungkan kelapa bulat dari pada kopra,” ungkap Arisansyah, pekebun Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya, Kamis (4/2).
Permintaan kelapa bulat diakuinya mengalami peningkatan, terutama untuk kebutuhan ekspor, yang membuat harganya mengalami kenaikan. Dia menyebut, harga kelapa bulat di tingkat petani saat ini sebesar Rp3.000 per kilogram, atau naik dua kali lipat dari harga sebelumnya yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Sementara kopra, kata dia, kendati juga memiliki harga yang baik, namun saat ini keuntungannya masih lebih besar dari penjualan kelapa bulat.
“Harga kopra juga lagi naik menjadi Rp8.500 per kilogram. Namun kami harus keluar biaya lain seperti pengupasan dan lain sebagainya,” tutur Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Batu Ampar ini.
Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Barat (Kalbar), Heronimus Hero menyebut harga kelapa tengah mengalami kenaikan lantaran permintaan dari luar negeri yang cukup tinggi. Dari data yang didapatnya, nilai ekspor kelapa bulat tahun 2020 tercatat paling tinggi di antara komoditas kelapa lainnya. Tercatat, nilai ekspor 2020 kelapa bulat sekitar Rp186 miliar, serabut Rp2 miliar, bungkil kelapa Rp1,2 miliar, dan santan kelapa Rp17,7 miliar
“Selama Tahun 2020 kelapa di ekspor ke China, Thailand, Vietnam, Malaysia dan Pakistan,” ungkapnya.
Meningkatnya permintaan kelapa bulat dari luar negeri yang berdampak pada kenaikan harganya, menurutnya memang menguntungkan bagi pekebun. Namun di sisi lain, kondisi ini menjadi dilematis, sebab industri lokal kewalahan bersaing untuk dapat harga murah.
Di samping itu, pihaknya juga berharap jenis yang diekspor adalah dalam bentuk olahan, sementara yang diekspor sejauh ini masih dominan dalam bentuk kelapa bulat yang belum diolah. Pihaknya berharap industri hilir semakin efisien sehingga mampu menyerap bahan baku kelapa bulat.
Dinas Perkebunan Kalbar, dikatakan dia, terus berupaya meningkatkan produktivitas dan produksi kelapa dengan mendorong peremajaan dan penambahan luas tanam, agar tetap bisa mengakomodir kebutuhan industri lokal dan pasar ekspor. Namun dalam mengimplementasikan upaya tersebut, pihaknya juga menghadapi sejumlah tantangan.
“Tantangannya tentu saja dari sisi modal bagi pekebun. Dinas mendukung dan memfasilitasi program peremajaan dan hilirisasi produknya, tapi anggaran sangat terbatas,” pungkas dia. (sti)
Editor : Super_Admin