Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Karet Tinggi, Pabrik Kekurangan Bokar

Super_Admin • Jumat, 9 Juli 2021 | 10:29 WIB
BEROPERASI: Aktivitas pabrik karet di Kalbar masih berlangsung normal. Namun kekurangan bahan baku, seperti yang dialami PT Hok Tong, Jl Gusti Situt Mahmud, Siantan. Aristono/Pontianak Post
BEROPERASI: Aktivitas pabrik karet di Kalbar masih berlangsung normal. Namun kekurangan bahan baku, seperti yang dialami PT Hok Tong, Jl Gusti Situt Mahmud, Siantan. Aristono/Pontianak Post
PONTIANAK - Membaiknya harga karet di Kalimantan Barat (Kalbar) ternyata tak lantas membuat produksi naik signifikan. Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapki) Kalbar, Jusdar menyebut saat ini pabrik-pabrik di provinsi ini kekurangan bahan baku olahan karet atau Bokar. "Pasokan bokar kita yang dari Kalbar kurang sekali. Baru mencapai 50 persen dari total kapasitas mesin," ujarnya, kemarin.

Kondisi ini membuat, industri karet Kalbar harus mendatangkan bahan baku dari provinsi lain. "Kami terpaksa membeli Bokar dari Kalsel, Kalteng dan Sumatera bahkan ada pabrik yang mengimpor dari luar negeri,” ujar Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Jusdar di Pontianak, Kamis (8/7).

Dampak lain dari minimnya pasokan Bokar adalah setop beroperasinya sejumlah pabrik karet. Bahkan ada pabrik yang tutup sama sekali. “Saat ini dari 16 pabrik yang ada di Kalbar, 5 pabrik sudah tidak beroperasi dan tinggal 11 pabrik yang beroperasi karena Bokar yang kurang,” katanya.

Ia mengatakan agar komoditas ekspor Kalbar ini semakin baik dan terus memberikan devisa yang signifikan dan meningkatkan kesejahteraan petani karet maka perlu peremajaan kebun rakyat sudah tua. Hal itu agar produktivitas petani tinggi dan demikian petani semakin sejahtera serta pasokan Bokar di pabrik juga terpenuhi.

“Peranan pemerintah yang dibutuhkan saat ini adalah peremajaan kebun rakyat yang sudah tua dan tidak produktif, serta perbaikan sarana transportasi yang masih jelek di sebagian daerah pedalaman. Untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat, diperlukan peranan pemerintah untuk membantu peremajaan kebun karet dengan dengan penyediaan bibit unggul dan penyuluh perkebunan karet serta pemberian kredit dengan persyaratan yang tidak membebani petani karet,” kata dia.

Dia juga meminta kepada pemerintah dan para petani agar melakukan peremajaan pohon karet. Menurutnya di Kalbar, sudah banyak pohon yang harus diremajakan, agar getah yang dihasilkan meningkat kuantitas dan kualitasnya. Dengan adanya peremajaan maka produktivitas akan meningkat dan berkorelasi positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani.

Dia juga mengimbau kepada para petani dan penyadap untuk menjual karet dengan kualitas bagus, agar harga yang diberikan dari produsen tinggi. “Harga tergantung kepada kadar karet keringnya (K3). Semakin tinggi K3, semakin tinggi harganya. Jangan mencampur karet dengan sampah atau hal yang membuat timbangannya menjadi lebih berat, karena akan ketahuan,” ujarnya.

Apalagi saat ini, harga karet sedang tinggi-tingginya. Adapun harga Bokar di tingkat pabrik dengan kadar karet kering 100 persen saat ini Rp21.500 per kilogram. Harga tersebut mengalami penurunan Rp500 per kilogram. Meski ada penurunan menurutnya harga yang ada dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini mengalami tren kenaikan dan stabil serta bisa tembus di Rp20.000 per kilogram. “Seiring dengan membaiknya ekonomi dunia saat ini harga karet semakin baik. Kemudian harga karet diprediksi juga akan mengalami kenaikan karena bertambahnya permintaan,” katanya.

Terkait di tengah kondisi pandemi Covid-19, pabrik karet di Kalbar tetap beroperasional dan ketat menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan dan pemutusan wabah tersebut. “Selama PPKM, pabrik karet masih dizinkan beroperasi dengan penerapan prokes yang ketat. Sehingga tidak mengganggu produksi,” jelas dia.

Sebelumnya Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar mencatat bahwa saat ini

total luas areal karet di Kalbar sendiri saat ini lebih dari 600 ribuan hektare. Kemudian jumlah penduduk yang terlibat dalam komoditas karet sekitar 313 KK atau sekitar 1,25 juta jiwa.

Kendati secara populasi besar, dari sisi produktivitas karet di Kalbar memang masih menjadi permasalahan dan di bawah nasional yaitu masih sekitar 700-an kilogram kadar karet kering per hektar per tahun. Sementara di tingkat nasional 900 sampai 1.000 lebih. Produktivitas ini jika dibanding negara Asia lain, bahkan di Thailand sudah sampai 1.800 per hektare per tahun. (ars) Editor : Super_Admin
#karet