Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Raup Cuan dari Camilan Kebanggaan Keluarga

Siti • Selasa, 27 Juni 2023 | 09:53 WIB
Yuli saat menggoreng pempek Palembang, camilan kebanggan keluarganya. (Syahriani/Pontianak Post)
Yuli saat menggoreng pempek Palembang, camilan kebanggan keluarganya. (Syahriani/Pontianak Post)

KUBU RAYA – Yuli Astuti (40) tak menyangka usaha pempek rumahan yang dirintisnya mendatangkan banyak keuntungan. Berawal dari kebiasaannya menyajikan camilan pempek untuk keluarga akhirnya berkembang menjadi bisnis yang mendatangkan banyak cuan.


Di rumahnya, Jalan Sungai Raya Dalam Komplek Asabri, bisnis Yuli tumbuh. Memiliki suami berdarah Palembang membuat Yuli wajib bisa membuat pempek, penganan khas Palembang. Keluarga dari pihak suaminya meminta Yuli untuk belajar membuat pempek. Yuli pun kemudian belajar dengan kakak iparnya.


Tak butuh waktu lama, dalam waktu sekejap Yuli sudah bisa membuat pempek untuk keluarganya. Keudian berkembang untuk tamu yang datang ke rumahnya. Setiap ada acara bahkan setiap lebaran Yuli dengan bangga mempersembahkan pempek buatannya. Belum ada terpikir sedikitpun untuk menjualnya saat itu.


“Pokoknya pempek itu makanan kebanggaan keluarga kami jadi siapa pun yang datang pasti saya sajikan,” ujarnya.


Pempek Yuli ternyata memiliki cita rasa yang lembut dan renyah di pinggir, kuah cukonya juga cocok di lidah. Banyak teman-teman maupun kerabat yang memuji. Tak sedikit pula yang memintanya untuk menjualnya. Karena terlalu banyak yang merekomendasikannya untuk dijual maka ia pun memberanikan diri.


Namun, siapa sangka ternyata niat tersebut ditentang sang suami. Yuli tidak direstui untuk berjualan. “Suami saya bilang dia masih mampu membiayai hidup kami sekeluarga. Ia juga takut saya tidak mampu membagi waktu dengan pekerjaan lainnya,” ujar Yuli.


Niat Yuli untuk berjualan ternyata sudah sangat bulat. Tidak mendapat restu suami, berarti membuat Yuli tidak mendapatkan modal pula. Ia memutar otak untuk bisa mendapatkan modal pempeknya. Kepada temannya kemudian ia pun meminta arisan. Keinginan Yuli terwujud, uang 5 juta dijadikannya modal awal. Tahun 2016 untuk pertama kalinya Yuli memulai usahanya.


Ada tiga jenis pempek yang dijualnya yaitu kapal selam, adaan dan lenjer. Saat pertama ia pun memasarkannya dengan harga yang terjangkau, dengan duit 10 ribu pembeli sudah mendapatkan ketiga jenis pempek tersebut.


Dulu ikan tenggiri masih murah, masih 35 ribu per kg, jadi masuk untuk harga segitu. Sekarang sih sudah naik lebih dari dua kali lipat, sekitar 75rb hingga 85 ribu per kg” beber Yuli.


Pemasarannya pun dilakukannya menggunakan WhatsApp pribadi, ia rutin memasang status untuk memprosmosikan pempeknya. Promosi dari mulut ke mulut pun gencar, ia sampai kewalahan untuk menerima pesanan. Sekarang, ia selalu memanggil adiknya jika sedang banyak pesanan untuk membantunya produksi di rumah.


Dalam sekali pengerjaan Yuli bisa menghabiskan 5-10 kg ikan tenggiri, tergantung pemesanan. Yuli bisa memproduksi 600 buah pempek dalam sehari. Bahkan ribuan saat hari raya Idulfitri.


Melihat betapa seriusnya sang istri dalam menjalankan usaha, akhirnya sang suami luluh dan turut membantu dalam pemasaran pempeknya, bahkan turut mengantar pesanan ke konsumen.


Reseller pempek Yuli pun semakin bertambah dari hari ke hari. Ada belasan reseller yang biasa ambil kepadanya. Yuli juga menyajikan pempek dalam bentuk frozen jadi bisa disimpan oleh konsumen dan menggorengnya saat ingin dinikmati.


Harga pempeknya adalah 6 ribu per buah untuk semua jenis namun jika pempek kapal selam ingin diisi dengan telur maka harganya 12 ribu karena ukurannya yang jauh lebih besar.


Berkat usahanya yang maju, Yuli kini bisa membeli mobil untuk usaha dan merenovasi rumahnya dengan dapur yang lebih besar dari sebelumnya agar ia lebih leluasa lagi dalam memproduksi pempek yang jadi kebanggaan keluargnya. (sya)

Editor : Siti
#pempek #cuan #UMKM #usaha rumahan #bri