Di tengah gemuruh dunia kripto yang penuh gebrakan, sebuah kisah menakjubkan tentang perburuan jutaan Bitcoin yang hilang sedang menggemparkan para penggemar mata uang virtual.
Para peretas jenius dari berbagai penjuru dunia sedang berburu jejak jutaan Bitcoin yang hilang.
Seolah-olah diambil dari skenario film thriller, para peretas dunia maya dengan keahlian luar biasa membangun ketekunan dan obsesi, yang mendorong manusia ke batas tertinggi. Seperti apa kisahnya ?
DENY HAMDANI, PONTIANAK.
KISAH ini bermula dari tragedi hilangnya jutaan Bitcoin (BTC) secara misterius dari dompet digital banyak pemilik bitcoin.
Sejak saat itu, sejumlah peretas hebat yang dikenal dengan sebutan "cyber bounty hunters" mulai memasuki arena.
Mereka seperti individu dengan kemampuan meretas luar biasa, yang sebelumnya telah berhasil membongkar berbagai kode rahasia menjelajahi jaringan tersembunyi di dunia maya.
Dengan peralatan canggih dan pengetahuan mendalam, "cyber bounty hunters" menjajaki jejak digital yang terkubur untuk mengungkap misteri di balik hilangnya jutaan bitcoin tersebut.
"Saya pelajari prosesnya dan akhirnya membeli. Setelah membeli saya kemudian melupakannya untuk beberapa tahun. Disibukkan dengan aktivitas kerja," katanya.
Hanya ketika melihat berita utama, tebakan ternyata benar adanya. BTC benar-benar berharga dan dicari hampir semua investor dunia.
Akhir tahun 2017, ternyata nilai bitcoin meningkat taham menjadi US$13.000 (Rp186 juta) per 1 koin.
Rhonda bersemangat pergi ke komputernya waktu itu. Sayangnya, ia justru menghadapi masalah serius.
Rhonda kehilangan beberapa detail password, private keys untuk masuk ke akun dompet bitcoinnya.
Program komputer tersebut menyimpan serangkaian kunci rahasia yang dibuat pemiliknya sendiri.
"Saya sadar dokumen yang saya cetak, tak memuat beberapa digit pengidentifikasi akun dompet. Saya memang punya secarik kertas lama berisi kata sandi, tapi tidak tahu apa identitas akun saya. Itu mengerikan. Saya ncoba segalanya selama berbulan-bulan tapi tidak ada harapan. Saya sedikit menyerah dengan keadaan," ujar dia.
Baca Juga: Tiga Tips Trading dari CEO INDODAX Menghadapi Market Crypto Bearish
Nah, beberapa tahun ke depan lagi, ternyata nilai bitcoin bertambah melonjak tidak karuan kenaikannya.
Nilainya justru menyentuh level US$45.000-52.000 (sekitar Rp750-990 juta).
Nominal ini lebih dari 600 kali lipat dari yang dibayarkan Rhonda delapan tahun sebelumnya.
Dipenuhi tekad berapi-api mencari harta karunnya di dunia digital, Rhonda membuka internet dan menemukan Chris dan Charlie Brooks.
Keduanya merupakan ayah-anak dan merupakan pemburu harta karun kripto. Kemudian Rhonda bicara secara online untuk menyelesaikan kasusnya.
Dia memercayai ayah-anak ini dan menyerahkan semua detail yang diingatnya. Lalu menunggu.
Akhirnya, penantian tersebut berbuah hasil. Lewat panggilan video, dia menyaksikan kejutan luar biasa.
Akun dompetnya bisa dibuka. Dompet Rhonda yang terdiri dari tiga setengah Bitcoin pada saat itu bernilai US$175.000 (sekitar Rp2,5 miliar).
Rhonda memberi Chris-Charlie sebesar 20 persen dari harta karun digitalnya.
Hal pertama yang dilakukannya adalah mengeluarkan koin senilai US$10.000 (Rp143 juta) untuk membantu putrinya yakni Megan, melunasi biaya kuliah.
Sementara sebagian masih disimpannya terkunci di dompet berupa perangkat keras komputer, yakniperangkat keamanan seperti USB dan menyimpan detail informasi bitcoin secara offline.
Rhonda hanya berharap nilai koin bitcoin, yang bernilai masing-masing US$26.000 (Rp617 juta) akan terus melambung.
Dia menggambarkannya sebagai dana pensiun ketika ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai penjual saham dan mata uang kripto harian.
Sebuah jurnal dari Peneliti kripto Chainanalysis mengambarkan bahwa dari 18,9-19 juta bitcoin beredar, sebanyak 3,7 juta bitcoin telah hilang dari tangan pemiliknya.
Jika dirupiahkan dengan harga sekarang, maka sekitar Rp1.517.000.000.000,00 menjadi perburuan.
Nilainya BTC yang hilang tersebut, bahkan dapat menyampai APBN Indonesia, seandainya kembali mengalami lonjakan kenaikan.
Dalam dunia maya, uang kripto yang terdesentralisasi, tidak ada yang bertanggung jawab.
Jadi jika anda lupa informasi kunci untuk masuk ke dompet digital, tidak banyak yang dapat membantu.
Oleh karena itu, sekelompok peretas ulung dengan reputasi tinggi meretas sistem-sistem teramankan, mencoba mencari jutaan Bitcoin hilang.
Seperti mencari harta karun, mereka juga menggunakan keterampilan luar biasa dalam analisis forensik digital, menghubungkan titik-titik tersebar di seluruh blockchain.
Hanya tetap saja pekerjaan ini tak semudah membalikan telapak tangan.
Tetap saja ribuan triliun harta karung tersebut masih mengawang-awang di dunia digitalnya.(**)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro