Berawal dari kegemaran seorang suami akan olahan cabai bikinan sang istri, muncul ide bisnis. Dari pedesaan di Kalimantan Barat, Sambal Kaisar lahir. Dipadu dengan kreativitas tinggi dan keuletan, serta adaptasi pemasaran digital, produk ini siap menasional.
PAGI itu, Emmy dan para karyawannya begitu sibuk di pabrik Sambal Kaisar, Desa Pangkalan II, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
Sebagian sibuk mengemas botol-botol sambal ke dus. Satu botol berisi 300 gram sambal (neto). Sementara karyawan lain asyik mencacah biji cabai. Ada pula yang bagian meracik sambal.
Pabrik itu tak jauh dari rumah si owner. Ukurannya cukup luas, tetapi sederhana. Strukturnya kayu , dindingnya papan.
Namun dari dari desa yang ditempuh tiga jam dari Kota Pontianak ini, Sambal Kaisar menyebar ke seluruh penjuru Kalbar dan sejumlah kota di Indonesia.
"Pabrik kita begini saja, rumah kayu," ujar Emmy merendah.
Setiap bulan Emmy dan suaminya; Muhammad Ali mampu menjual 500 ribuan botol Sambal Kaisar.
"Produk kita tersebar ke seluruh Kalbar, termasuk sampai ke Sintang dan Kapuas Hulu. Kita juga buka toko resmi di berbagai platform e-commerce," kata wanita 51 tahun ini.
Emmy tidak menggunakan mesin. Untuk memproduksi Sambal Kaisar sebanyak itu, dia mempekerjakan 48 karyawan yang bekerja bergantian. Sebagian besar perempuan dari desa setempat. "Semua kami kerjakan homemade," sebutnya.
Beberapa tahun terakhir, dia juga mengembangkan brand baru yaitu Sambal Balado 72. Terdiri dari tiga varian; Super Pedas, Manis Pedas, dan Ayam Goreng.
Merek baru ini dibikin lebih kekinian untuk memenuhi permintaan konsumen yang seleranya macam-macam. Terutama kalangan milenial dan keluarga muda.
Ukuran kemasannya sama dengan Sambal Kaisar, tetapi lebih premium. Sambal Kaisar dihargai Rp20.000 per botol, sedangkan Sambal Balado 72 harganya Rp26.000. Perlahan produk baru ini mulai dikenal di pasaran.
"Penjualannya memang belum terlalu banyak. Satu bulan mungkin seratusan dus (per dus isi 12 botol)," kata Emmy.
Ekspansi ke Makassar
Sambal Kaisar dimulai dari celetukan seorang suami pada tahun 2006. Emmy ingat betul, siang itu Ali sedang menikmati sajian dengan sambal buatan sang istri.
"Enak betul sambal ini, kenapa kita tidak bikin sambal saja," kata Emmy mengulang kembali celetukan sang suami 17 tahun lalu.
Tak lama dari hari itu, Emmy dan Ali lantas memulai memproduksi Sambal Kaisar di dapur rumah mereka. Awalnya pasutri ini hanya bikin tujuh botol saja. Mereka titipkan ke warung kelontong dekat rumah.
"Ternyata laku. Kebanyakan yang beli tukang bakso dan nasi goreng. Kata mereka pedasnya terasa," ungkap Emmy.
Belakangan produk itu diberi nama Sambal Kaisar. Hari demi hari, permintaan kian banyak. Puncaknya Sambal Kaisar dilirik perusahaan distributor pangan besar dari Pontianak.
"Mereka memesan banyak, dan disebar ke toko dan swalayan di Pontianak dan daerah lainnya," tutur Emmy. Dia dan suami pun mulai merekrut banyak karyawan. Produksinya pindah dari dapur rumah ke bangunan khusus.
Segala syarat untuk menjadi produk massal pun dipenuhi Emmy, mulai dari izin BPOM hingga label halal.
Dia juga belajar dari Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Pontianak bagaimana agar seluruh produknya berstandar.
"Terutama supaya rasa dan warna sambal di setiap botol itu sama," ungkap dia.
Usaha ini bukan tanpa kendala. Cabai sendiri adalah penyumbang inflasi di Kalbar. Harganya kerap naik turun.
Sejalan dengan kualitas cabai yang juga fluktuatif, tergantung musim dan cuaca.
Di sisi lain, dengan permintaan pasar yang tinggi, bahan baku dalam jumlah besar harus selalu tersedia. Emmy pun mulai berekspansi dengan membuka pabrik baru di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pabrik ini akan dikhususkan untuk memproduksi Sambal Balado 72. Sedangkan Sambal Kaisar difokuskan di Kalbar.
"Ketersediaan cabai di Makassar banyak dan segar-segar. Kebetulan anak saya yang bantu mengelola," tukasnya kepada koran ini.
Efek Pemasaran Digital
Emmy dengan bangga menunjukkan akun Tiktoknya, @sambalbalado72 yang berisi berbagai macam konten menarik, lucu, dan menghibur.
Sebagai generasi lama, Emmy dan suami sebenarnya canggung bermain media sosial. Namun karena tuntutan zaman, mau tak mau dia pun nyemplung juga.
"Semua orang sekarang terhubung dengan internet dan punya medsos. Ya kita ikut juga lah, belajar sedikit-sedikit. Kami saja baru awal tahun lalu punya akun Tiktok," katanya.
Walaupun baru, dia dan suami mengelola pemasaran digital dengan sangat serius. Menurutnya produk yang baik, harus didukung pula oleh strategi pemasaran dan komunikasi yang baik.
Tiktok menjadi media sosial andalan Emmy, lantaran daya jangkau dan keaktifan para penggunanya.
Emmy sengaja menyewa influencer untuk mempromosikan produknya. Satu video ada yang ditonton hampir 500 ribu kali.
Sambal Kaisar dan Sambal Balado 72 juga di-review oleh banyak tiktokers lainnya.
Akun itu memang terlihat terkelola dengan baik. Setiap hari selalu ada postingan baru. Soal begini, dia mempercayakannya kepada anaknya.
"Anak saya yang bantu kelola. ternyata hasilnya bagus dan berpengaruh sekali ke penjualan. Di TikTok Shop, pembeli kami banyak sekali," sebut dia sebelum fitur tersebut ditutup pemerintah.
Emmy juga aktif di Instagram, serta punya toko resmi di Tokopedia dan Shopee. Berbeda dengan TikTok, postingan di ketiga platform ini sedikit lebih formal, memiliki desain grafis, corak dan warna yang seragam. Foto produk atau orang pun diambil dengan angle dan komposisi yang pas.
Sejak menggencarkan promosi di media sosial dan e-commerce, penjualan Sambal Kaisar dan Sambal Balado 72 naik dua kali lipat.
"Mungkin kalau dibandingkan dengan sebelumnya, kenaikannya ada 100 persen. Karena jangkauan kita sekarang tidak hanya di Kalbar saja, tetapi seluruh Indonesia," kata Emmy.
Pertumbuhan penjualan Sambal Kaisar tersebut memang terdengar fantastis. Namun Emmy menegaskan, keuntungan yang didapat tidak besar, lantaran untuk tenar di medsos ada biaya yang harus dikeluarkan.
"Promosi digital itu pengorbanan modal untuk promosi. Sementara kami belum bisa untung karena hasil keuntungan habis di Tiktok. Malah kami nombok. Tetapi ini investasi kedepan. Orang kalau sudah beli akan beli lagi," ucapnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya mengapresiasi apa yang dilakukan Sambal Kaisar.
Dia mendukung UMKM lain di Kalbar untuk terjun dan menyeriusi digital marketing. Apalagi saat pandemi Covid-19 lalu semua dituntut untuk beradaptasi ke digital.
"Ini saat yang tepat menurut kami, karena ekosistemnya semakin besar. Sekarang lebih mudah dengan adanya berbagai regulasi yang jelas serta fasilitas dari pemerintah,dan lembaga lainnya. Jaringan internet juga semakin luas dan harga gadget semakin terjangkau," ujar dia.
Penghargaan dari BRI
Kesuksesan Sambal Kaisar tak terlepas pula dari kemampuan Emmy dan suaminya mengelola keuangan.
Dia adalah nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak lama. Bahkan bisnis yang mereka bangun ini tak lepas dari peran bank pelat merah tersebut.
"Awal-awal dulu kami bangun usaha itu ya pinjam BRI. Mulanya kami pinjam Rp20 juta. Kemudian naik lagi ratusan juta (rupiah). Terakhir, kami pinjam Rp5 miliar, dan dipenuhi," ucapnya.
Dia pun sangat disiplin dalam membayar angsuran. Menurutnya, uang yang dipinjamnya bukan lah milik pribadi.
"Prinsipnya kalau kredit itu harus menganggap bahwa itu uangnya BRI, bukan uang kami," sambungnya.
Kisah sukses Emmy dan Muhammad Ali pun mendapat penghargaan dari BRI. Dalam rangka ulang tahun ke-127, pada Desember tahun lalu, BRI menyelenggarakan Lifetime Achievement Award yang ditujukan kepada para debitur UMKM se-nasional yang memiliki loyalitas tinggi dan berkembang pesar.
Pimpinan Cabang BRI Singkawang, Arvian Tristianto mengatakan, penghargaan ini juga merupakan bukti nyata keberadaan para debitur UMKM Bank BRI yang telah naik kelas di dalam segmen yang sama dan bahkan ke segmen yang lebih tinggi baik di BRI maupun di dunia usahanya.
“Sejak awal berdiri, Bank BRI konsisten fokus menggarap segmen UMKM di Indonesia, 90% dari total jumlah debitur Bank BRI merupakan debitur UMKM,” tukas Arvian.
Lifetime Achievement Award merupakan program penghargaan yang dilakukan secara nasional. Direncanakan program ini akan menjadi ajang penghargaan rutin di tahun-tahun berikutnya.
Dari hasil seleksi, terpilih tiga debitur UMKM terbaik di masing-masing wilayah atau regional. Emmy yang nasabah BRI Cabang Singkawang keluar sebagai Juara III Tingkat Regional Office, dan diganjar hadian saham senilai Rp10 juta.
Diharapkan melalui penghargaan ini, para debitur UMKM dapat semakin tergugah semangatnya untuk terus mengembangkan usaha dan juga tumbuh Bersama dengan Bank BRI.
“Semoga penghargaan yang diberikan Bank BRI dapat semakin menumbuhkan semangat para debitur untuk tumbuh dan semakin mengembangkan usahanya sehingga dapat terus berkontribusi mengembangkan sektor UMKM di Indonesia,” ungkap Arvian.
Emmy mengapresiasi atas penghargaan yang diberikan BRI. “Terima kasih atas penghargaan yang diberikan.
Selama 20 tahun menjadi nasabah BRI tentunya BRI telah banyak membantu saya dan suami dalam membangun usaha skala mikro yang kami jalani,” pungkasnya. (Aristono)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro