Salah satu ikon Pontianak adalah lidah buaya atau aloevera. Berpusat di kawasan Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, sejumlah usaha lokal berskala UMKM berdiri untuk menyerap panen lidah buaya petani. Produk-produk tersebut berupa minuman kemasan, aneka camilan, hingga kosmetik.
ARISTONO, Pontianak
PABRIK Hovera, minuman kemasan lidah buaya di pinggiran Kota Pontianak itu sederhana saja. Luasnya sekira 100 meter persegi, beratap seng, sedangkan dinding dan lantainya semen.
Pagi itu di sana, enam perempuan paruh baya tengah berbagi tugas. Dua orang mengupas dan memotong pelepah lidah buaya. Dua lainnya meracik minuman. Sementara sisanya mengepak minuman yang sudah terbungkus kemasan kantong ke dalam kardus.
"Sebelum pandemi, karyawan di sini ada belasan orang. Sekarang tinggal kami saja," ujar Asnawati (53), salah seorang pekerja kepada Pontianak Post, sembari memasukan daging lidah buaya yang dipotong dadu ke dalam panci berisi minuman.
Sementara itu Bong Djie Tong, sang pemilik Hovera mengawasi kerja mereka. Pria 61 tahun ini mengakui, saat pandemi lalu permintaan terhadap produknya anjlok. Beruntung, Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dia ajukan diterima perbankan.
"Covid kemarin permintaan kita menurun, karena minuman ini kan untuk oleh-oleh wisatawan yang datang ke Pontianak. Kita sampai ambil KUR. Begitu juga petani lidah buaya di sini, banyak juga yang ajukan KUR dari BRI," tutur dia.
Terletak di Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, usaha kecil ini mengambil bahan baku dari petani sekitar.
Kawasan itu memang terkenal sebagai sentra pertanian lidah buaya atau aloevera di Pontianak. Pabrik Hovera menyerap sekira satu ton lidah buaya setiap minggu.
Baca Juga: Menilik Usaha Rumahan Empek-empek Yuli, Dulu Ditentang Suami, Kini Keteteran Layani Konsumen
Saat ini, dalam satu pekan, Djie Tong mampu memproduksi 200 dus Hovera. Sebagai informasi, satu dus berisi 20 kantong, yang per kantongnya memiliki berat bersih 1.250 gram. Satu dus Hovera dihargai Rp50 ribu.
Dije Tong tidak menjual langsung ke konsumen, melainkan kepada para pengecer. "Reseller saya adalah toko oleh-oleh, mini market, dan lainnya. Banyak juga yang menjual di toko online," ujar pria 61 tahun ini.
Hovera sendiri berdiri lantaran situasi kepepet Djie Tong 15 tahun silam. Pada era tahun 2000-an awal terjadi booming komoditas lidah buaya di Pontianak.
Sejumlah pabrik kosmetik di Jakarta dan luar negeri mengambil bahan baku dari Pontianak, yang aloevera-nya terkenal memiliki pelepah besar dan padat.
Djie Tong adalah satu dari banyak petani di Siantan yang menikmati era kejayaan lidah buaya tersebut.
Sampai pada tahun 2008, pabrik-pabrik pemesan bahan baku, secara sepihak dan tiba-tiba menghentikan permintaannya.
"Saya merasa ditipu, karena sudah terlanjur tanam lidah buaya belasan hentare. Saya bingung mau diapakan hasil panen saya. Akhirnya saya putuskan untuk bikin pabrik minuman olahan kecil-kecilan. Saya kasih merek Hovera," kata dia.
Baca Juga: Rajin Ngonten di Medsos, Sambal Kaisar dari Kalbar Siap Menasional
Minuman Hovera ternyata laris dan disukai konsumen. Hal itu membuat Djie Tong fokus menjadi produsen minuman kemasan. Lahan pertanian lidah buayanya yang dulu luas, kini tinggal 1 hektare saja.
Namun pandemi yang menghantam sejak tahun 2020 membuat usahanya berada di titik nadir. Kini memasuki endemi, ia berusaha bangkit.
"Habis pandemi ini sudah mulai membaik penjualannya. Tetapi belum seperti dulu. Mudah-mudahan bisa segera normal," sebut dia. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro