Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Sentra Lidah Buaya di Siantan Pontianak

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 23 Oktober 2023 | 18:59 WIB
LIDAH BUAYA: Pentolan Poktan Bentasan, Tjhin Djie Sen dan Billiam menunjukkan lahan budidaya lidah buaya di Jl Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu, Pontianak Utara.
LIDAH BUAYA: Pentolan Poktan Bentasan, Tjhin Djie Sen dan Billiam menunjukkan lahan budidaya lidah buaya di Jl Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu, Pontianak Utara.

 

Kawasan pertanian di Jalan Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu adalah salah satu sentra budidaya aloevera. Namun lahan tanam lidah buaya di sana makin berkurang. Dari 200 hektare, kini tinggal belasan hektare saja. Minimnya industri penyerap menjadi biang masalah.

 

ARISTONO, Pontianak

PAGI itu sekira pukul sembilan, terik matahari khatulistiwa sudah sangat menyengat. Namun tak menghalangi para anggota Kelompok Tani (Poktan) Bentasan untuk menyiangi rerumputan di lahan meraka, Gang Bentasan III, Jl Kebangkitan Nasional, Pontianak Utara.

Hampir seluruh lahan pertanian di kawasan Jl Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu tersebut bertanah gambut.

Walaupun awalnya gersang, para petani di sini mampu menyulapnya menjadi sentra pertanian dengan hasil melimpah. 

Saban hari mobil-mobil pikap mengangkut berton-ton sayur mayur, buah-buahan, umbi-umbian, dan produk lainnya yang dihasilkan dari sini.

Hasilnya tidak hanya untuk kebutuhan masyarakat Pontianak, namun juga dikirim ke daerah-daerah lain di Kalimantan Barat. Sebagian besar warga di sini beretnis Tionghoa. Hampir semuanya petani.

Di antara puluhan hektare lahan milik Poktan Bentasan, mereka masih menyisakan 3 hektare saja untuk ditanami lidah buaya atau aloevera. Kendati tanaman tersebut dikepung oleh pohon pepaya dan tanaman lainnya.

"Dulu di daerah ini ada 200an hektare kebun lidah buaya. Tetapi setiap tahun makin turun, karena harganya murah. Sekarang mungkin tersisa belasan hektare saja, termasuk punya Poktan kami," ujar Ketua Poktan Bentasan, Tjhin Djie Sen.

Betapa tidak, satu kilogram pelepah aloevera hanya dihargai Rp1.500 - Rp2.000, tergantung kualitasnya.

"Harga ini tidak berubah dari 15 tahun lalu. Banyak petani di sini yang beralih ke tanaman sayur-mayur dan buah-buahan yang hasilnya lebih pasti," tutur dia.

 

Rendahnya harga aloevera sudah berlangsung sejak akhir era kejayaan komoditas unggulan Pontianak ini.

Djie Sen menuturkan, dulu tidak banyak orang yang menanam lidah buaya. Tanaman ini bukan asli Pulau Kalimantan. Namun ternyata di Pontianak, tanaman ini tumbuh subur dengan pelepah yang besar dan padat.

Pada tahun 2000an awal terjadi booming komoditas ini. Permintaan pabrik kosmetik dalam negeri tinggi.

Begitu juga eksportir-eksportir kelas kakap dari Jakarta banyak mengambil hasil panen petani Pontianak untuk dikirim ke luar negeri. Bahkan permintaan dari Malaysia ke petani langsung juga ada. Para petani di Siantan pun berlomba-lomba menanam lidah buaya.

"Puncaknya tahun itu tahun 2003 - 2005. Harganya cukup menjanjikan untuk ukuran saat itu. Hampir semua petani di sini lahannya pasti punya lidah buaya," sebut dia.

Namun tiba-tiba permintaan tersebut turun drastis. Harga aloevera anjlok. Petani merugi. Banyak petani yang marah hingga membabat habis tanamannya.

"Kami tidak tahu pasti apa penyebabnya. Informasinya karena ada kompetitor dari negara lain yang lebih murah. Yang pasti waktu itu tanaman banyak yang membusuk karena tak dipanen," ungkap Djie Sen.

 Baca Juga: Gegara Panen Lidah Buaya Tak Terserap, Djie Tong Pilih Bikin Pabrik Minuman

Saat ini permintaan lidah buaya hanya datang dari sekitaran Pontianak, terutama dari sektor UMKM. Kebanyakan bergerak di bidang olahan minuman dan makanan.

Ada juga serapan dari perusahaan nasional seperti Inaco yang punya pabrik di Pontianak. Namun jumlahnya tidak besar.

"Makanya yang sekarang ditanam petani adalah Aloevera Chinensis yang memang untuk konsumsi pangan. Kalau dulu kita banyak tanam Aloevera Barbadensis yang untuk bahan kosmetik," ungkap dia.

Djie Sen berharap budidaya lidah buaya dapat terus bertahan di Pontianak.

Pasalnya tanaman ini telah menjadi ikon kuliner dan pertanian Pontianak.

Namun menurutnya, untuk mengembalikan budidaya aloevera ke era kejayaannya dulu, diperlukan industri besar yang menyerap panen petani.

 

Soal Pupuk hingga Pembiayaan

Billiam tengah mendorong gerobak arco berisi tumpukan pelepah lidah buaya dari kebun ke gudang penyimpanan Poktan Bentasan. Pelepah itu disusunnya di tepi gudang. Ada dua puluhan tandan yang dipanennya pagi itu.

"Ya segini saja. Kalau ada yang pesan banyak saja baru kami potong banyak," sebut anggota Poktan Bentasan kepada koran ini.

Menurutnya pertanian aloevera kemungkinan akan semakin kurang peminatnya, bila tak ada industri yang menyerap.

Pasalnya, selain murah, ongkos perawatannya juga kian tinggi. Terutama untuk pemupukan.

"Sekarang harga pupuk naik terus. Sedangkan oleh pemerintah pupuk subsidi sudah tidak boleh dipakai untuk aloevera. Pupuk subsidi hanya boleh untuk hortikultura seperti sayur-sayuran. Makanya banyak petani aloevera yang pindah menanam sayur," tuturnya.

Walaupun sejatinya dukungan pemerintah, terutama Pemkot Pontianak cukup banyak untuk para petani aloevera.

Beberapa fasilitas Poktan Bentasan merupakan hibah Pemkot. Sering pula digelar pelatihan dan bentuk pembinaan lainnya. Namun perihal harga lah yang membuat sebagian petani beralih dari tanaman khas Pontianak tersebut.

Sementara untuk pembiayaan para petani di sini sebagian sudah melek perbankan. Kredit Usaha Rakyat menjadi andalan mereka.

Billiam misalnya, untuk mengganti jenis tanaman di lahannya memerlukan modal besar. Lantaran harus membeli bibit, alat pertanian, mengolah tanah, membeli pupuk, dan lainnya.

"Beberapa bulan lalu saya ada ambil KUR dari Bank BRI Rp50 juta lewat kerja sama dengan Poktan Bentasan. Ini untuk modal menggarap lahan. Bunganya hanya 6 persen, jadi tidak memberatkan petani," sebut dia.

Ketua Poktan Bentasan Tjhin Djie Sen mengatakan pihaknya memang sudah beberapa tahun bekerja sama dengan BRI Unit Gusti Situt Mahmud Siantan untuk pengajuan KUR. Kredit yang disubsidi pemerintah ini, kata dia, sangat membantu petani karena bunganya rendah, serta prosesnya mudah dan cepat.

 Baca Juga: Menilik Usaha Rumahan Empek-empek Yuli, Dulu Ditentang Suami, Kini Keteteran Layani Konsumen

"Petani ini kalau buka lahan pasti butuh modal. Tetapi tidak semuanya punya uang karena rata-rata di sini petani kecil. Jadi kami di Poktan membantu untuk mendapatkan fasilitas KUR di BRI," ungkapnya.

 

Pengurus Poktan juga terus mengedukasi para anggota untuk disiplin membayar cicilan. "Syukurnya sampai sekarang Poktan kami masih dipercaya karena lancar membayar cicilan," sebut dia.

Sementara itu, terpisah, Manajer Bisnis Mikro BRI Cabang Pontianak, Khalid Danu Purnomo menjelaskan bahwa KUR merupakan pembiayaan kepada individu dan/atau kelompok usaha yang produktif dan layak (bankable).

Sektor usaha yang dibiayai diantaranya pertanian, perikanan, industri pengolahan, konstruksi, pertambangan garam rakyat, pariwisata, jasa, dan perdagangan.

Poktan Bentasan dengan kekompakan dan manajemen andal dinilai pantas mendapatkan pembiayaan yang disubsidi pemerintah tersebut.

Dia menginformasikan, BRI menjadi kontributor utama dalam penyaluran KUR dengan porsi 70 persen dari alokasi KUR Nasional tahun 2022.

Lebih lanjut Khalid menjelaskan jenis KUR yang ada di BRI yaitu KUR Supermikro sampai dengan 10 juta, KUR Mikro sampai dengan 100 juta, KUR Kecil sampai dengan 500 juta masing-masing dengan suku bunga 6 persen efektif per tahun.

Khalid menyebut, di Pontianak sepanjang tahun lalu, terdapat lebih 14.000 nasabah dengan total plafon Rp564 miliar yang dilayani pihaknya. Sebagian dari nasabah tersebut banyak pula yang bergelut di sektor pertanian. (selesai)

 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#lidah buaya #pertanian #aloevera #KUR #bri #pontianak #siantan