PONTIANAK POST– Maryana (32), warga Dusun Aruk, Desa Sebunga, mengatakan masyarakat di kawasan perbatasan masih menjadikan rupiah sebagai alat pembayaran utama dalam aktivitas sehari-hari. “Kalau bertransaksi ya pakainya uang rupiah. Itu yang diutamakan,” ujarnya saat ditemui peserta QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2025.
Maryana menjadi salah satu warga yang berkesempatan mengisi kuisioner dari peserta QJI 2025. Melalui tanggapannya, terlihat bahwa rupiah tetap memiliki posisi dominan di tengah masyarakat perbatasan, meski ada pengaruh mata uang asing. Hal ini sejalan dengan kampanye Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang digaungkan Bank Indonesia untuk memperkuat kedaulatan rupiah di seluruh wilayah, termasuk di perbatasan.
Menurut Maryana, selain penggunaan rupiah, masyarakat di PLBN Aruk juga mulai terbiasa dengan transaksi digital. Sejumlah toko dan ruko di kawasan tersebut kini menyediakan barcode QRIS untuk pembayaran, sehingga pengunjung maupun warga tidak lagi harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.
“Stand toko disini juga sudah menyediakan pembayaran menggunakan qris,” kata Maryana.
PLBN Aruk sendiri menjadi salah satu titik dalam rangkaian QJI 2025 yang berlangsung pada 19–23 Agustus 2025 di Kalimantan Barat. Ajang ini diikuti 21 peserta dari tujuh tim yang menjelajahi Pontianak, Singkawang, dan Sambas. Selain menjelajahi budaya lokal, para peserta juga mengampanyekan penggunaan QRIS dan digitalisasi sistem pembayaran, termasuk mampir ke Bank Mandiri Aruk sebagai bagian dari kampanye tersebut.
Kepala PLBN Aruk, Viktorius Dunand, menyambut positif kehadiran QRIS di perbatasan. Menurutnya, QRIS menjadi solusi praktis dalam transaksi keuangan, sekaligus aman digunakan di wilayah terdepan Indonesia.
"PLBN selalu siap memfasilitasi dan menyediakan ruang bagi berbagai pihak yang ingin mengadakan kegiatan berdampak positif, khususnya bagi masyarakat perbatasan," ujarnya. (mse)