PONTIANAK POST – Sungai Musi bukan hanya simbol kebanggaan masyarakat Palembang. Dari aliran sungai ini pula lahir salah satu ikan legendaris yang identik dengan Sumatera Selatan, yakni ikan belida.
Keberadaan ikan belida begitu melekat dengan kuliner khas Palembang, terutama pempek, tekwan, hingga kerupuk ikan.
Namun, populasi ikan belida kian terancam. Penangkapan berlebihan tanpa diimbangi upaya pelestarian membuat spesies ini semakin langka. Kilang Pertamina Internasional (KPI) pun tergerak untuk melakukan konservasi melalui program Belida Musi Lestari sejak 2019.
Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan, keterlibatan pihaknya berawal dari keprihatinan atas penurunan populasi belida.
“Populasi ikan belida semakin lama semakin menurun. Kami merasa perlu ikut melakukan upaya pelestarian. Ini bukan hanya sekadar menyelamatkan spesies langka, tapi juga menjaga identitas Sungai Musi sebagai ikon Indonesia,” ujarnya, Senin (15/9).
Program konservasi ini mulanya berfokus pada pelestarian Belida Lopis (Chitala Lopis), spesies yang sempat dinyatakan punah pada 2020, namun kembali ditemukan melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dalam perjalanannya, jenis belida lain juga ikut dikembangbiakkan, seperti Belida Jawa (Notopterus notopterus), Belida Sumatra (Chitala hypselonotus), dan Belida Borneo (Chitala borneensis).
Konservasi pertama dilakukan dengan menyelamatkan 30 ekor belida dari nelayan untuk kemudian dibudidayakan oleh Pokdakan Mulia di Kelurahan Talang Bubuk, Palembang.
Setahun kemudian, KPI menjalin kerja sama dengan Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluh Perikanan (BRPPUPP). Setelah terbit Perpres Nomor 34 Tahun 2022 yang menetapkan belida sebagai ikan dilindungi penuh, dan hanya untuk kepentingan riset, KPI menggandeng BRIN.
Tak berhenti di situ, KPI juga mengembangkan ekosistem pendukung konservasi di Desa Sungai Gerong, Banyuasin. Masyarakat setempat dilibatkan melalui Pokdakan Barokah dan Pokdakan Tunas Makmur untuk menjalankan budidaya perikanan terintegrasi.
“Lokasi di Sungai Gerong sangat cocok untuk konservasi belida. Masyarakat sebelumnya juga membudidayakan ikan sepat yang menjadi pakan alami belida,” jelas Milla.
Program konservasi ini mulai menampakkan hasil. Melalui pemijahan semi-buatan di kolam Resirkulasi Aquaculture System (RAS), berhasil dihasilkan 1.050 butir telur belida dengan 40 ekor generasi pertama (G1). Tahun lalu, teknik serupa bahkan menetaskan 64 ekor belida G1.
Untuk mendukung keberhasilan konservasi, KPI juga berinovasi memanfaatkan limbah Non-B3 kilang berupa pipa dan palet kayu sebagai shelter tempat belida menempelkan telurnya. Inovasi ini meniru habitat alami belida yang gemar menempelkan telur di akar atau kayu di perairan.
Ke depan, KPI menargetkan terbentuknya Kawasan Edukasi Perikanan Terintegrasi & Berdikari di Desa Sungai Gerong pada 2026. Kawasan ini diharapkan menjadi pusat konservasi, riset, sekaligus edukasi masyarakat.
Cita-cita terbesar KPI adalah melepasliarkan belida kembali ke Sungai Musi, agar statusnya tidak lagi menjadi spesies dilindungi penuh.
“Mimpi kita adalah melihat belida kembali berenang di Sungai Musi. Bersamaan dengan itu, tumbuh kesadaran masyarakat untuk melestarikannya, sehingga cita rasa pempek, tekwan, dan kerupuk Palembang tetap terjaga,” tutup Milla.
KPI sendiri merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang pengolahan minyak dan petrokimia. Perusahaan ini menjalankan operasional dengan prinsip ESG (Environment, Social & Governance) dan telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC). (bar/r)
Editor : Miftahul Khair