PONTIANAK POST – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menghadirkan terobosan di industri pasar modal dengan membuka akses aplikasinya secara gratis, termasuk bagi nasabah sekuritas lain. Melalui kebijakan ini, investor kini dapat memantau antrian order saham secara real time tanpa harus berpindah broker.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya volatilitas pasar saham Indonesia sepanjang awal 2026. Banyak investor ritel dinilai masih mengambil keputusan tanpa data krusial, terutama antrian order saham yang bergerak secara langsung di pasar.
Chief Marketing Officer IPOT, Sergio Ticoalu, menyebut kondisi tersebut bukan disebabkan kurangnya kemampuan investor, melainkan keterbatasan teknologi di sejumlah sekuritas.
Baca Juga: IPOT Hadirkan Riset Kelas Institusi, Bantu Investor Ritel Lebih Cerdas Ambil Keputusan
“Dan penyebabnya bukan kurangnya kemampuan investor. Penyebabnya adalah keterbatasan infrastruktur teknologi di sekuritas tempat mereka bergabung yang tidak dapat menghadirkan teknologi trading dengan fitur real time,” tegasnya.
Ia menjelaskan, tidak semua perusahaan sekuritas memiliki kemampuan menghadirkan fitur seperti live orderbook dan indikator trading real time. Dampaknya, investor sering kali mengambil keputusan berdasarkan data yang sudah tidak relevan.
“Akibatnya investor masuk di puncak, keluar di dasar bukan karena salah analisa, tetapi karena salah infrastruktur,” kata dia.
Sebagai respons, IPOT membuka akses teknologi trading berbasis institusi yang selama ini digunakan untuk mengelola dana hingga Rp312 triliun. Kini, aplikasi IPOT dapat diunduh dan digunakan secara gratis oleh siapa saja, tanpa kewajiban memindahkan dana atau akun dari sekuritas lain.
“Aplikasi IPOT kini dapat diunduh dan digunakan secara GRATIS oleh nasabah sekuritas mana pun, tanpa kewajiban transfer dana, tanpa syarat pindah broker,” jelasnya.
Melalui aplikasi ini, investor dapat mengakses berbagai fitur real time, seperti Live Orderbook untuk melihat antrian beli dan jual secara langsung, indikator LADI (Live Accumulation Distribution Indicator), hingga HAKA/HAKI untuk mendeteksi tekanan beli dan jual di pasar.
Selain itu, tersedia juga fitur AI Live untuk memantau saham paling aktif, transparansi profit dan loss broker harian, serta IPOT Views yang menyajikan riset berbasis analisis institusi.
IPOT menegaskan kebijakan ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan bentuk respons terhadap kebutuhan investor ritel yang selama ini belum memiliki akses teknologi memadai.
“Ini bukan promosi. Ini adalah pernyataan sikap IPOT bahwa keterbatasan teknologi di sekuritas lain tidak boleh menjadi hukuman bagi investor retail Indonesia yang ingin trading dengan benar,” tandasnya.
Menurutnya, tidak semua investor memiliki fleksibilitas untuk berpindah sekuritas karena berbagai faktor, termasuk portofolio yang masih berjalan. Karena itu, IPOT memilih menghadirkan teknologinya langsung kepada publik.
Dalam konteks pasar, langkah ini dinilai semakin relevan. Sepanjang kuartal I 2026, tekanan pada IHSG dan dinamika global membuat perbedaan antara investor yang memiliki akses data real time dan yang tidak semakin terlihat.
Investor tanpa akses data real time cenderung masuk di harga puncak atau terlambat keluar saat distribusi sudah terjadi. Sebaliknya, pengguna data real time dapat membaca pergerakan pasar lebih awal dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual.
Dengan membuka akses teknologi ini secara luas, IPOT berharap investor ritel dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sekaligus memperkuat daya saing di pasar saham. (*)
Editor : Miftahul Khair