Ibnu Qayyim Al Jauziah, "Bila tidak mempunyai kesempatan untuk melazimkan Qiyamul Lail, hendaknya bisa mempertahankan Sholat Dhuha. Sebab waktu siang kedudukannya laksana sholat Qiyamul Lail pada waktu malam. Dan Nabi SAW pernah menasehati Abu Hurairah dengan Sholat Dhuha, dimana dalam saat-saat malam Abu Hurairah sibuk mempelajari hadits."
#dikutip dari hadits2/ayat2/kalimat motivasi yang dikumpulkan oleh abah Uti Konsen rahimahullah
Pesan ini mengajarkan kita tentang fleksibilitas dalam beribadah dan betapa pentingnya mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam berbagai keadaan. Sholat Dhuha menjadi solusi bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan Qiyamul Lail, sehingga tetap bisa mendapatkan keberkahan dari ibadah sunnah tersebut.
Dasar dari pernyataan Ibnu Qayyim Al Jauziah tentang pentingnya Sholat Dhuha jika tidak dapat melaksanakan Qiyamul Lail didasarkan pada beberapa hadits dan pandangan ulama.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Pada setiap pagi, setiap ruas tulang kalian harus bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu bisa digantikan dengan dua rakaat Sholat Dhuha." (HR. Muslim)
Nabi Muhammad SAW pernah menasehati Abu Hurairah dengan mengatakan, "Wahai Abu Hurairah, jagalah tiga hal ini, maka kamu akan masuk surga: berpuasalah tiga hari setiap bulan, lakukanlah Sholat Dhuha dua rakaat, dan kerjakanlah sholat Witir sebelum tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak ulama menganggap Sholat Dhuha sebagai salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan karena banyak keutamaannya. Sholat ini dilaksanakan ketika matahari sudah mulai meninggi hingga sebelum waktu Dzuhur.
Dengan dasar-dasar ini, Ibnu Qayyim Al Jauziah menguatkan pentingnya melaksanakan Sholat Dhuha bagi mereka yang mungkin tidak bisa konsisten dengan Qiyamul Lail.**
Editor : Salman Busrah