TEPAT pukul 17.54 WIB kemarin petang telah memasuki 1 Safar 1446 Hijriah.
Untuk diketahui, dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut atau ketika memasuki waktu maghrib.
Safar sendiri merupakan bulan kedua dalam kalender lunar (qomariyah) Islam.
Biasanya terdiri dari 29 hari. Berasal dari kata Shafar dari Bahasa Arab yang berarti perjalanan atau migrasi.
Hal tersebut sesuai dengan periode waktu Arab pra-Islam, ketika umat Islam harus menyingkir dari penindasan kaum Quraisy di Mekkah, sehingga harus melakukan perjalanan yang kebanyakan tanpa alas kaki menuju Madinah.
Sementara Ibnu Katsir, seorang hafiz, ulama, serta pemikir Islam, saat menafsirkan Surat at-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun, menjelaskan bahwa safar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu.
Dinamakan kosong, lantaran pada bulan tersebut masyarakat berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir.
Muhammad SAW sendiri menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandhumah Syarh al-Atsar fî Ma Warada ‘an Syahri Shafar, memaparkan bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan ini.
Sebut saja pernikahan Rasulullah bersama Khadijah, bahkan Rasulullah menikahkah putrinya Fatimah bersama Ali bin Abi Thalib di bulan ini, hingga memulai hijrah dari Makkah ke Madinah juga di bulan ini.
Sebagian besar bulan dalam penanggalan Islam diberi nama berdasarkan kondisi cuaca sabean/sabaic kuno.
Namun karena penanggalannya menggunakan kalender lunar, maka bulan-bulannya berganti sekitar 11 hari setiap tahun matahari.
Artinya, bisa saja kondisi ini belum tentu sesuai dengan nama bulannya. (ote)
Editor : Syahriani Siregar