PERSIS 41 tahun yang lalu atau 21 Agustus 1983, Benigno S. Aquino, Jr. ditembak mati saat keluar dari pesawat di Bandara Internasional Filipina. Rolando Galman, tersangka pembunuhnya, juga langsung ditembak mati oleh personel Komando Keamanan Penerbangan.
Dilansir dari situs ninoyaquino.ph, berdasar kesaksikan penumpang lain yang satu pesawat dengannya bernama Rebecca Quijano, dia melihat seorang pria berseragam militer tepat di belakang lelaki yang karib disapa Ninoy tersebut, menembak bagian belakang kepalanya. Analisis post-mortem saat itu pun memastikan bahwa Ninoy memang ditembak dari belakang, dalam jarak dekat.
Spekulasi adanya konspirasi yang dilakukan pemerintahan Ferdinand Marcos seketika menyebar. Setelah dilakukan penyelidikan, 25 orang militer ditangkap termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Fabian Ver. Setelah proses persidangan yang tampaknya tak ada habisnya, hanya 16 orang yang dijatuhi hukuman reclusion perpetua pada 28 September 1990.
Dilansir dari martiallawmuseum.ph, Ninoy adalah pengkritik keras rezim Marcos dan pelanggaran yang dilakukan sang kepala negara Filipina saat itu. Ia mengklaim bahwa Pemilu 1967 dipicu oleh senjata, preman, dan emas. Dia mendukung perlunya kritik untuk merdeka. Dalam pidato perdananya, Ninoy mengecam niat Marcos untuk membangun garison negara dengan memiliterisasi kantor-kantor pemerintahan sipil, mengangkat jenderal-jenderal yang melebihi masa jabatannya, dan menggelembungkan anggaran angkatan bersenjata.
Ninoy juga mengkritik pengeluaran pemerintah yang berlebihan di bidang infrastruktur. Ia mengkritik proyek Jembatan San Juanico sebagai jembatan mewah yang tidak menuju ke mana pun dan proyek Pusat Kebudayaan Ibu Negara Imelda, yang ia juluki sebagai sebuah monumen yang memalukan setelah meluasnya kemiskinan di Manila.
Meskipun Ninoy bercita-cita mencalonkan diri sebagai presiden setelah masa jabatan Marcos yang kedua, cita-citanya hancur ketika Marcos mengumumkan Darurat Militer. Pagi hari setelah deklarasi, Ninoy ditangkap bersama anggota oposisi lainnya dan ditahan pertama di Kamp Crame dan kemudian di Fort Bonifacio.
Saat ditahan, Ninoy menulis sepuluh surat terbuka menentang rezim Marcos dan menyelundupkannya melalui istrinya, Maria Corazon Cojuangco untuk diterbitkan di Bangkok Post. Hal ini membuat Ninoy dan rekannya Jose Diokno harus menjalani hukuman di sel isolasi.
Pada 12 Maret 1973, Ninoy bersama Diokno dibawa ke helikopter berstempel presiden, diborgol, dan ditutup matanya. Dia diangkut ke Fort Magsaysay di Laur, Nueva Ecija untuk dimasukkan ke dalam sel isolasi. Ninoy ditelanjangi dan hanya diberikan dua kaos serta celana dalam untuk dipakai bergantian. Barang miliknya yang lain termasuk cincin kawin dan kacamatanya diambil dan diberikan kepada keluarganya tanpa penjelasan. Dia dan Diokno ditahan selama 30 hari di sel isolasi.
Pada 27 Agustus 1973, Ninoy dibawa kembali ke Fort Bonifacio di mana dia menghadapi Pengadilan Militer atas tuduhan pembunuhan, kepemilikan senjata api ilegal, dan subversi. Namun Ninoy menolak ikut serta dalam persidangan tersebut, dan menyebutnya sebagai sebuah olok-olok yang tidak masuk akal. Akibatnya, sidang ditunda.
Namun, pada 31 Maret 1975, pengadilan melanjutkan untuk menyelidiki kembali kasusnya. Sebagai tanggapan, Ninoy melakukan mogok makan untuk memprotes pengadilan militer. Dia menolak makan dan hanya mengonsumsi tablet garam, natrium bikarbonat, asam amino, dan dua gelas air sehari. Meskipun demikian, pada 27 November 1977, Ninoy dinyatakan bersalah atas tuduhannya dan dijatuhi hukuman mati oleh regu tembak.
Namun Ninoy tidak pernah dieksekusi dan bahkan diizinkan mencalonkan diri pada Pemilu Interim Batasang Pambansa (Parlemen) tahun 1978. Di sana, ia membentuk daftar Partai Lakas ng Bayan atau LABAN yang pertama kali mempopulerkan lambang Laban. Ninoy bahkan diberi kesempatan tampil di televisi untuk kampanyenya. Namun tidak mengherankan, meskipun LABAN mendapat dukungan dari massa, partai tersebut tidak mendapat suara sama sekali dari Metro Manila dan kalah dari Imelda.
Masa tahanan Ninoy berakhir pada bulan Maret 1980 ketika dia menderita serangan jantung di selnya. Dengan izin dari pemerintahan Marcos, dia mencari perawatan medis di Dallas, Texas, dan kemudian menetap di Newton, Boston, Massachusetts bersama keluarganya, di mana dia menghabiskan waktunya dalam pengasingan.
Meskipun Ninoy menghabiskan waktunya di Newton dengan damai, dia tetap memikirkan keadaan politik negara tersebut.
Ia tetap menjadi pengkritik keras rezim Marcos, bahkan di pengasingan. Pada saat itulah Ninoy menyampaikan pidatonya yang sering dikutip pada 1981 kepada Gerakan untuk Filipina Merdeka di Los Angeles.
Oleh karena itu, meskipun ada protes dari keluarga dan teman-temannya, Ninoy akhirnya memutuskan untuk kembali ke Filipina pada 21 Agustus 1983. Dia memperoleh dokumen perjalanan dengan nama Marcial Bonifacio dan kembali ke negara itu pada 21 Agustus, dengan harapan bisa bernegosiasi dengan Marcos.
Untuk mengantisipasi kedatangan Ninoy, para pendukungnya mengenakan pakaian kuning dan pita kuning serta mengikatkan pita kuning di sekitar pepohonan di sekitar Bandara Internasional Manila. Namun harapan Ninoy untuk bernegosiasi tidak pernah terwujud, lantaran dia ditembak mati saat dia turun dari pesawatnya.
Kematian Ninoy menyulut api di kalangan anggota oposisi. Banyak yang berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada pria yang secara de facto menjadi wajah oposisi dan bergabung dalam prosesi pemakaman. Selama 11 jam, lebih dari satu juta orang berbaris ke Manila Memorial Park untuk berduka atas kematian Ninoy.(ote)
Editor : Miftahul Khair