ENTAH secara kebetulan atau tidak, ternyata pontianakpost.jawapos.com mencatat bahwa tanggal serta bulan wafatnya khalifah pertama serta khalifah terakhir Islam adalah sama.
Khalifah pertama Islam yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat pada 23 Agustus 634 atau 1.390 tahun yang lalu, sementara khalifah terakhir atau khalifah ke-102 Islam, Abdul Majid II wafat di pengasingan pada 23 Agustus 1944 atau 80 tahun yang lalu.
Dalam tulisan Buya Hamka di buku Sejarah Umat Islam: Pra-kenabian hingga Islam di Nusantara, setelah wafatnya Nabi Muhammad pada 8 Juni 632, kepala-kepala kaum Anshar, baik pihak Aus maupun persukuan Khazraj berkumpul dalam sebuah halaman milik Bani Sa'idah.
Mereka bermaksud hendak memilih Sa'ad ibnu Ubadah menjadi khalifah, lantaran Sa’ad merupakan kepala tertinggi kaum Anshar pada waktu itu. Berita permusyawaratan itu lekas sampai kepada orang-orang besar di kalangan Muhajirin.
Saat itu juga dengan segera mereka pergi ke balairung. Baru saja sampai, Abu Bakar langsung berpidato, menyarankan Anshar agar memilih salah satu dari dua tokoh Muhajirin menjadi khalifah yakni Abu Ubaidah atau Umar.
Setelah selesai Abu Bakar berpidato, berdirilah Habbab ibnu Al Munzir, menyatakan penolakannya. Ia mengusulkan agar masing-masing dari kubu Anshar dan Muhajirin memiliki khalifahnya sendiri-sendiri. Mendengar itu, Umar menolak lantaran berpendapat bahwa tidak dapat berhimpun dua kepala dalam satu kekuasaan.
Basyir ibnu Sa'ad, seorang yang terpandang dari golongan Aus Anshar, tampil ke depan. Dia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad jelas berasal dari Quraisy, sehingga kaumnya lebih berhak menjadi penggantinya.
Majelis pun menjadi tenang, sehingga Abu Bakar mengusulkan Abu Ubaidah dan Umar untuk dipilih. Abu Ubaidah dan Umar menolak, justru mencalonkan Abu Bakar sebagai khalifah.
Pertimbangannya, Abu Bakar pernah mendampingi Muhammad ketika bersembunyi dalam gua pada saat masa hijrah ke Madinah. Selain itu, Abu Bakar juga pernah ditetapkan sebagai pengganti Muhammad dalam salat ketika Baginda sakit.
Basyir ibnu Sa'ad dari Aus ikut mendukung pencalonan Abu Bakar.
Berduyun-duyunlah anggota Aus yang lain membaiat Abu Bakar. Melihat itu, anggota-anggota Khazraj pun terpengaruh, juga ikut tampil ke depan untuk membaiat Abu Bakar.
Melihat pihak lain telah berduyun-duyun membaiat Abu Bakar, Bani Hasyim pun tidaklah dapat mengelak lagi. Mereka sadar bahwa perkara ini bukan perkara keluarga, melainkan siapakah orang yang paling mulia di sisi Muhammad.
Sementara itu, Ali bin Abi Thalib tidak hadir di situ, karena sedang menjaga jenazah Muhammad. Karena itu, ia tidak turut membaiat. Ali sendiri pun akhirnya membaiatnya juga, yaitu beberapa waktu setelah istrinya, Fathimah binti Muhammad meninggal dunia.
Jadilah Abu Bakar sebagai khalifah pertama Islam yang berkuasa sepanjang 8 Juni 632 hingga ia wafat pada 23 Agustus 634. Dalam Buku Sidiq-i-Akbar Hazrat Abu Bakr tulisan Masudul Hasan, Abu Bakar merasa bahwa dia harus mencalonkan penggantinya, demi menghindari perselisihan di kalangan umat Islam setelah kematiannya. Dia menunjuk Umar bin Khattab untuk menggantikannya setelah mendiskusikan masalah ini dengan beberapa sahabat.
Sementara khalifah terakhir Islam, Abdul Majid II sebagaimana dilansir dari situs Middle East Eye, ditunjuk sebagai khalifah dalam kekhalifahan konstitusional. Sistem kekhalifahan ini sendiri terjadi setelah penggulingan Khalifah Abdul Hamid II dalam kudeta pada 1909.
Namun Abdul Majid menjadi putus asa selama Perang Dunia I (1914 – 1918) karena kekalahan militer Kekaisaran Ottoman. Dia bahkan lebih sedih lagi selama pendudukan sekutu di wilayah Ottoman, termasuk ibu kotanya, Istanbul.
Mehmed VI Vahideddin kemudian ditunjuk sebagai Kaisar Ottoman sekaligus Khalifah Usmaniyah. Sementara Abdul Majid menjadi pewaris takhta berikutnya.
Namun pada 1919 Vahideddin menolak mendukung gerakan nasionalis Mustafa Kemal Pasha yang muncul saat mereka berperang melawan pasukan Sekutu di Anatolia.
Kaum nasionalis mendirikan Majelis Agung Nasional di Ankara pada 23 April 1920 sebagai landasan tatanan politik baru.
Belakangan, Mustafa mengundang Abdul Majid ke Anatolia untuk bergabung dalam perjuangan nasionalis.
Namun Istana Dolmabahce di Istanbul, tempat tinggal sang pangeran, Abdul Majid dikepung oleh tentara Inggris. Dia tidak punya pilihan selain menolak tawaran tersebut, sebuah anggapan remeh yang kemudian akan dilakukan oleh Partai Republik ketika keadaan berbalik melawan kekhalifahan.
Pada Oktober 1922, gencatan senjata membuat kaum nasionalis menang dan membuka jalan bagi terciptanya Turki modern. Kaisar Vahideddin banyak dicerca oleh rakyatnya. Pada 1 November, pemerintahan baru menghapus Kekaisaran Ottoman.
Vahideddin diusir dari Istanbul dengan kapal perang Inggris pada 17 November. Dalam ketidakhadirannya, pemerintah memecatnya dari kekhalifahan, kemudian menawarkan gelar khalifah kepada Abdul Majid.
Abdul Majid langsung menerima dan naik takhta pada 24 November 1922. Untuk kali pertama, seorang pangeran Ottoman diangkat menjadi khalifah tetapi bukan kaisar, serta dipilih oleh Majelis Agung Nasional.
Pada awal 1924, pemerintah memutuskan untuk menghapuskan kekhalifahan. Surat kabar besar mulai menerbitkan artikel yang menyerang keluarga kekaisaran Ottoman.
Pada 3 Maret, Majelis Agung Nasional tidak hanya menghapuskan kekhalifahan, tetapi juga mencabut kewarganegaraan Turki setiap anggota keluarga kekaisaran, mengirim mereka ke pengasingan, menyita istana mereka, serta memerintahkan mereka untuk melikuidasi properti pribadi mereka dalam waktu satu tahun.
Haydar Bey, gubernur Istanbul, didampingi Kepala Polisi Istanbul, Sadeddin Bey, menyampaikan kabar tersebut kepada Khalifah sebelum tengah malam pada 3 Maret.
Keesokan pagi, Khalifah keluar dari istana bersama ketiga istrinya, putra, putri, dan pembantu rumah tangga senior mereka. Khalifah yang digulingkan itu diberi hormat dengan hormat oleh tentara dan polisi yang saat itu mengelilingi Dolmabahce.
Dalam beberapa hari, Khalifah sekeluarga telah pindah ke Territet, pinggiran kota yang indah di Danau Leman di Swiss.
Khalifah yang digulingkan tidak pernah bisa kembali ke Istanbul. Namun selama bertahun-tahun di pengasingan, dia tidak pernah menerima kekhalifahan dihapuskan.
Khalifah terakhir Islam itu meninggal pada malam tanggal 23 Agustus 1944 di sebuah vila dekat Paris, Francis pada usia 76 tahun.(ote)
Editor : Miftahul Khair