KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan lotre sebagai cara untuk mendapat uang (barang dan sebagainya) dari undian atau mendapat untung besar.
Terkesan seperti mengartikan jika lotre dan undian memiliki makna yang sama. Sejumlah jurnal perguruan tinggi menyebut lotre terdapat unsur judi yang diharamkan. Pasalnya dalam lotre dikenal istilah menang dan kalah atau untung serta rugi.
Sedangkan dalam undian berhadiah yang berkembang saat ini tidak terdapat unsur rugi yang diharamkan sebagaimana dalam judi.
Berkenaan dengan Peringatan Hari Lotre Internasional (International Lottery Day) hari ini, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas mengenai sejarah lotre di Indonesia.
Berdasarkan tulisan James Steward yang dirangkum dalam situs skylarneil.org, lotre di Indonesia ternyata sudah ada sejak zaman Hindia Belanda.
Permainan tersebut mirip juga dengan undian. Merupakan salah satu jenis judi yang ada pada masa itu dan sering dikaitkan dengan sebuah hiburan malam.
Akan tetapi, lotre secara luas ada pada zaman penjajahan Jepang sepanjang 1942 – 1945. Hal ini di lakukan karena petinggi Jepang pada masa itu ingin merubah ekonomi secara signifikan yang ada di Indonesia, agar bisa menjadi lebih baik lagi.
Jepang mengandalkan petinggi kepala tentara mereka untuk melakukan penarikan undian di daerah Jawa pada 1944. Total hadiah yang bisa didapatkan sangatlah besar pada masa itu. Sekitar 125 ribu gulden, dengan hadiah utama sebesar 30 ribu gulden.
Tetapi lotre atau undian uang itu berlaku hanya sebanyak enam kali putaran penarikan undian, dan langsung hilang begitu saja permainan lotre tersebut dari Indonesia.
Kemudian pada 1960-an muncul kembali sebuah permainan lotre dengan sebutan lotre buntut. Lalu dari situlah mulai banyak permainan lotre yang ada di berbagai kota di Indonesia.
Seperti di Bandung disebut dengan Toto Raga, dan di Jakarta disebut dengan lotre Toto atau Nalo, yang berarti Nasional Lotre.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pemerintah akhirnya mengeluarkan Keppres pada tahun 1965 untuk menghilangkan segala jenis permainan lotre.
Karena permainan lotre saat itu, masyarakat merasa sebuah judi yang ilegal dan merusak moral mereka. Tetapi tentu saja sulit untuk bisa langsung melenyapkan permainan tersebut secara langsung.
Pada masa orde baru, permainan lotre menjadi semakin berkembang pesat, bahkan di Surabaya permainan lotre terkenal dengan Lotre Totalisator (Lotto).
Tetapi pemerintah terus berupaya agar bisa membuat sebuah permainan yang tidak menjadi permainan judi ilegal.
Pada akhirnya, tercetus sebuah ide dari Menteri Sosial pada masa itu untuk menjalakan sebuah gagasan sebuah permainan yang bisa di nikmati oleh masyarakat luas dengan nama Forecast.
Permainan ini sendiri berjalan dengan bentuk undian dan bukan permainan judi. Namun memang tidak mudah untuk bisa menjalankan ide tersebut.
Bahkan harus sampai melakukan studi banding yang cukup lama, agar bisa menjalankan lotre ini.
Forecast merupakan sebuah permainan yang berasal dari Inggris, tetapi untuk bisa terselenggarakan di Indonesia bukanlah perkara yang mudah pada masa itu.
Tentunya harus dengan pemikiran yang matang dan memahami dampak-dampak yang akan terjadi nantinya. Lalu akhirnya selama 7 tahun lamanya, forecast bisa terjalankan di Indonesia.
Hal tersebut sudah diperhitungkan secara matang dan akurat. Bahkan semua dikaji sampai melibatkan lembaga-lembaga tertinggi yang ada pada saat itu.
Perjalanan panjang dari sejarah permainan lotre yang ada di Indonesia memang menuai pro dan kontra yang harus perlahan mencari jalan keluar secara tepat.
Pastinya tidak mudah untuk bisa hilang begitu saja. Pada 1985, hadir sebuah permainan yang bernama Porkas. Porkas merupakan sebuah permainan kupon berhadiah, dimulai dengan Porkas sepakbola yang resmi dan tentunya permainan ini berjalan di Indonesia.
Berbagai permainan-permainan yang menarik tentunya menjadi sebuah keinginan yang bisa di nikmati masyarakat Indonesia waktu itu.
Dengan melihat sebuah sejarah yang panjang dari permainan lotre. Bentuk lain dari lotre yang ada di Indonesia, memang sulit untuk bisa menghilangkan secara langsung.(ote)
Editor : Miftahul Khair