Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Letusan Krakatau: 36.417 Jiwa Meregang Nyawa 141 Tahun yang Lalu

Miftahul Khair • Selasa, 27 Agustus 2024 | 12:00 WIB
LUKISAN LETUSAN: Lanskap gunung berapi Krakatau pada 1883 menunjukkan gumpalan material yang dikeluarkan dan abu yang jatuh. THE ROYAL SOCIETY
LUKISAN LETUSAN: Lanskap gunung berapi Krakatau pada 1883 menunjukkan gumpalan material yang dikeluarkan dan abu yang jatuh. THE ROYAL SOCIETY

TEPAT 141 tahun yang lalu atau 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus, hingga menelan korban sebanyak 36.417 jiwa dari 295 kampung di sekitarnya.

Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 10.20 WIB yang menimbulkan bunyi ledakan yang sangat keras.

Dalam siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menggambarkan peristiwa tersebut sebagai ledakan terkeras yang pernah didengar manusia hingga kini. Gunung Krakatau mengeluarkan energinya tepat 141 tahun yang lalu.

Pada hari itu dunia memang bagai meledak, sebab energi letusan Krakatau sepanjang 26 – 27 Agustus 1883 itu, setara dengan sekitar 30 ribu kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Simon Winchester, geolog Inggris seorang jurnalis yang juga penulis dalam bukunya terkenal Krakatoa: The Day The World Exploded 27th August 1883 menuliskan, hari itu dunia bagai meledak, bunyi ledakannya terdengar sampai 4.600 kilometer (km) dari pusat letusan bahkan dapat didengar oleh seperdelapan penduduk bumi saat itu.

Winchester menggali dokumen-dokumen lama di Batavia, dan ia menemukan bahwa sebelum erupsi, terjadi sejumlah gejala alam yang tak biasa. Gejala alam yang dimaksud dia yakni perilaku hewan berubah, kuda-kuda mengamuk, gajah sirkus gelisah, ayam tidak bertelur, kera dan burung tak nampak lagi di pepohonan.

Ledakan Gunung Krakatau tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai ledakan paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Gunung Krakatau bersama ledakan Gunung Tambora (1815) mencatatkan nilai indeks ledakan volkanik (Volcanic Explosivity Index - VEI) terbesar dalam sejarah modern.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik.

Semburan abu vulkaniknya mencapai ketinggian 80 km dan mengganggu pencahayaan dan pemanasan bumi dari matahari beberapa waktu.

Batu-batu pijar yang dilontarkannya seketika menjadi batu-batu apung dan jatuh di mana-mana di antara Pulau Jawa dan Sumatra, lalu hanyut terbawa arus laut ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia, hingga ke Selandia Baru.

Ledakan tersebut, menghancurkan habis Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan, dua gunung di kompleks Krakatau serta sebagian Gunung Rakata yang setengah kerucutnya lenyap.

Ledakan ini telah membuat cekungan kaldera di bawah laut Selat Sunda selebar 7 km dan sedalam 250 meter.

Material ledakan yang dihempaskan dan jatuh ke laut juga sebagian tubuh gunung yang runtuh longsor ke dalam laut telah memicu terjadinya gelombang tsunami setinggi 40 meter dan menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pantai hingga ke Batavia dan Cilamaya di Karawang.

Orang-orang di Batavia digambarkan lari dan naik ke tiang lampu di wilayah Pasar Ikan, Jakarta Utara sekarang.

Sebelumnya lampu-lampu berisi gas itu pecah berantakan dihempas gelombang bunyi ledakan.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke Pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah, dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Winchester dalam bukunya yang menggambarkan kedahsyatan tsunami yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau masih ada, anaknya yang lahir 1927 saat ini masih terus aktif meletus-letus, dan 6 tahun yang lalu ia meruntuhkan sebagian tubuhnya, longsor ke dalam laut, menimbulkan tsunami ke pantai Banten dan Lampung merenggut sekitar 450 korban tewas. Dari kejadian letusan Gunung Krakatau kita belajar bahwa manusia hidup di atas bumi yang aktif.(ote)

Editor : Miftahul Khair
#Gunung Krakatau Meletus #selat sunda #gunung krakatau