Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pertempuran Ain Jalut, Terselamatkannya Peradaban Islam oleh Kesultanan Mamluk

Miftahul Khair • Selasa, 3 September 2024 | 12:22 WIB
PERTEMPURAN AIN JALUT: Ilustrasi Pertempuran Ain Jalut antara Kesultanan Mamluk dan Kekaisaran Mongol di Ain Jalut, Palestina. PRIVATE COLLECTION / BRIDGEMAN ART LIBRARY
PERTEMPURAN AIN JALUT: Ilustrasi Pertempuran Ain Jalut antara Kesultanan Mamluk dan Kekaisaran Mongol di Ain Jalut, Palestina. PRIVATE COLLECTION / BRIDGEMAN ART LIBRARY

KETIKA Kekaisaran Mongol berhasil menaklukkan Kekhalifahan Islam di Baghdad, Irak, serta memporak-porandakan kota tersebut pada 10 Februari 1258, banyak yang memperkirakan jika peradaban Islam telah berakhir.

Namun Pertempuran Ain Jalut yang berlangsung persis 764 tahun yang lalu atau 3 September 1260 membalikkan keadaan. Ekspansi Mongol untuk menyentuh wilayah Mesir dan Afrika utara gagal total setelah diadang Kesultanan Mamluk.

Dilansir dari situs National Geographic Indonesia, setelah berhasil merebut Kota Bagdad dari Kekhalifahan Abbasiyah, Kekaisaran Mongol pun menyisiri Timur Tengah, demi memperluas wilayah kekuasaannya.

Mongke Khan yang berkuasa di Karakorum, ibukota Kekaisaran Mongol, menunjuk saudaranya Hulagu Khan untuk menaklukkan sisa peradaban Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sedangkan bagi peradaban Islam di Timur Tengah, abad ke-13 berada di tengah masa Perang Salib yang terus berlangsung dengan Tentara Salib dari Eropa.

Sejak 1169, Kesultanan Ayyubiyah berdiri menjadi penguasa baru di Timur Tengah menggantikan Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir.

Namun, Kesultanan Ayyubiyah dari Kurdistan ini digeser oleh Kesultanan Mamluk pada 1250.

Kesultanan yang didirikan orang-orang Turki ini mewariskan daerah kekuasaan Kesultanan Ayyubiyah di Mesir, Libya, hingga pesisir Suriah dan Makkah.

Kesultanan Mamluk menyadari bahwa Kekaisaran Mongol sangat berambisi untuk menguasai dunia.

Sebelum Kekhalifahan Abbasiyah hancur, mereka telah mendengar bahwa Kekaisaran Mongol bergerak menuju Timur Tengah.

Alih-alih bekerja sama, tampaknya hubungan Kesultanan Mamluk dan Kekhalifahan Abbasiyah tidak senada. Padahal keduanya memiliki ancaman bersama yakni Tentara Salib dan Mongol.

Ketika Baghdad dikepung, Kekhalifahan Abbasiyah tidak meminta pertolongan ke Kesultanan Mamluk.

Setelah menjarah, menghancurkan Baghdad, dan menggulingkan Khalifah terakhir, Al-Musta’sim Billah, bangsa Mongol mulai bergerak menuju Suriah pada 1260. Pergerakan ini merupakan lanjutan untuk menguasai sisa-sisa Kekhalifahan Abbasiyah.

Kota yang dikuasai satu persatu adalah Aleppo dan Damaskus. Keduanya pun menyerah.

Setelah jatuhnya Baghdad, kota penting bagi peradaban Islam pun pindah ke Kairo, di mana Kesultanan Mamluk berkuasa.

Kepenguasaan bangsa Mongol di Suriah menjadi ancaman pada Kesultanan Mamluk yang saat itu dipimpin Sayfuddin Qutuz.

Pada saat bersamaan, Tentara Salib menguasai pesisir barat Timur Tengah dengan mendirikan kerajaan seperti Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokia, dan Kadipaten Tripoli. Pihak Tentara Salib memandang Kekaisaran Mongol sebagai ancaman baru, tetapi harus berfokus kepada serdadu muslim.

Oleh karena itu, Tentara Salib lebih bersifat netral dalam perseteruan antara Mongol dan Mamluk. Dalam posisi netral ini, Tentara Salib mengizinkan tentara Kesultanan Mamluk lalu-lalang melewati wilayah mereka tanpa diganggu.

Sebelumnya, Hulagu telah mengirim dua utusan ke Kairo, untuk membawa surat ancaman. Isi surat itu memerintahkan agar Mamluk tunduk.

Sultan Qutuz pun merespons dengan memenggal kedua utusan itu dan kepalanya ditaruh di gerbang Kairo.

Sementara itu, posisi Kekaisaran Mongol di Persia dan Suriah tersendat oleh kematian Khan Agung Mongke Khan.

Informasi ini baru sampai ke Hulagu yang merupakan adik dari Mongke. Kematian ini berpengaruh pada perebutan kekuasaan Kekaisaran Mongol di seluruh tanah kuasanya.

Hulagu pun harus ke Karakorum saat hubungannya dengan Kekaisaran Mamluk memanas.

Dia tidak berminat menjadi Khan Agung, tetapi dia datang karena ingin melihat adiknya yang berkuasa di Tiongkok, Kubilai Khan, dilantik.

Proses pewarisan takhta di Kekaisaran Mongol terganggu akibat Ariq-Boke yang berkuasa di Mongolia meminta dirinya dilantik sebagai Khan Agung.

Perselisihan ini membuat Hulagu terpaksa membawa sebagian pasukannya untuk bersiap, jika terjadi perebutan kekuasaan.

Hulagu pun menyisakan 20 ribu tentara di Suriah dengan komando dipegang oleh jenderalnya yang bernama Ketbuqa. Qutuz melihat momen ini berharga untuk memukul mundur pasukan Mongol.

Pasukan dengan kekuatan yang kurang lebih setara, akhirnya maju menuju Palestina. Kedua pasukan bertemu di Ain Jalut yang secara harfiah berarti Mata Air Jalut atau Mata Jalut.

Lokasinya berada di Lembah Yizreel Palestina, di mana kini berada di Harod Springs, Israel.

Kesultanan Mamluk sangat mengenali medan pertempuran. Kemampuan militer mereka cukup baik karena menggunakan senjata api awal seperti meriam genggam yang dapat menakut-nakuti kuda bangsa Mongol.

Taktik menggunakan senjata api ini sepertinya telah diperkenalkan oleh bangsa Mongol itu sendiri ke Timur Tengah.

Taktik pertempuran Qutuz juga mengadopsi dari bangsa Mongol saat melawan Ketbuqa. Mereka mengirim sebagian kecil pasukannya ke barisan depan musuh, dan berpura-pura mundur.

Mereka memancing musuh untuk menyergap. Selanjutnya, dari bukit, Pasukan Mamluk lainnya menyergap. Pertempuran ini membuat Kesultanan Mamluk unggul terhadap Kekaisaran Mongol.

Pasukan Kesultanan Mamluk bahkan berhasil menangkap Ketbuqa yang enggan melarikan diri saat kalah. Dia pun mengancam bahwa kelak kematiannya akan memancing Hulagu Khan menyerang Kairo. Qutuz segera memerintahkan prajurit untuk memenggalnya.

Pertempuran Ain Jalut memang membuat kerugian bagi kedua belah pihak. Hulagu yang telah kembali ke Suriah pada 1262 berniat membalas dendam.

Namun, kondisi Kekaisaran Mongol masih terganggu dengan masalah perselisihan internal di Mongolia.

Gerombolan Emas yang dipimpin Berke Khan ternyata mualaf. Mereka merupakan bagian dari Kekaisaran Mongol yang berkuasa di Ukraina, Rusia, Azerbaijan, dan Kazakhstan.

Berke berencana untuk menyerang Hulagu dan berjanji untuk balas dendam atas peristiwa di Bagdad.

Situasi ini membuat upaya Hulagu dalam berbagai serangan menuju Kairo gagal. Sempat Hulagu menang pada 1300, tetapi Kesultanan Mamluk segera membalikkan keadaan.

Inilah titik balik dari usaha bangsa Mongol menguasai dunia dengan perpecahan internal. Titik balik ini juga menyelamatkan peradaban Islam yang tersisa dari kejatuhan di tengah Perang Salib.(ote)

Editor : Miftahul Khair
#Kekhalifahan Islam di Baghdad #Baghdad #kekaisaran mongol