Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Ini Perayaan Robo robo di Kalimantan Barat, Apa dan Bagaimana Sejarahnya?

Miftahul Khair • Rabu, 4 September 2024 | 12:50 WIB

 

NAPAK TILAS: Napak tilas sedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah yang diperankan Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. PERPUS IAIN PONTIANAK
NAPAK TILAS: Napak tilas sedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah yang diperankan Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. PERPUS IAIN PONTIANAK

HARI ini, Rabu, 4 September 2024, bertepatan dengan 30 Safar 1446 Hijriah. Artinya dalam sistem penanggalan Islam, hari ini merupakan Rabu terakhir di Bulan Safar. Ada sebuah tradisi yang selalu diperingati masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) setiap tahunnya menyongsong hari tersebut yang disebut sebagai robo-robo.

Dilansir dari situs Pemerintah Kota Pontianak, dijelaskan bahwa robo-robo adalah upacara tolak bala yang digelar masyarakat Kota Mempawah di Kalbar.

Meskipun sebetulnya, masyarakat di seluruh pesisir Kalbar juga menggelar upacara serupa, namun kegiatan ini lebih terpusat di Kota Mempawah sebagai pusat Kerajaan Mempawah.

Upacara ini sendiri digelar pada Rabu terakhir di Bulan Safar. Maka kemungkinan disebut robo-robo karena dilaksanakan pada Hari Rabu.

Robo-robo merupakan aset budaya Kabupaten Mempawah dan menjadi salah satu Warisan Budaya Indonesia yang ditetapkan pada 27 Oktober 2016 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejak saat itu tradisi ini masuk dalam kalender wisata nasional dan menjadi agenda wisata budaya setiap tahunnya.

Pada awalnya acara ini digelar untuk menyambut kedatangan Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Tanjungpura di Kabupaten Kayong Utara ke wilayah Mempawah yang sebelumnya berada di bawah pemerintahan Panembahan Senggaok, sekitar 1737 M atau 1448 H. Opu Daeng Menambon adalah keturunan Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan.

Dia datang ke Mempawah untuk menyebarkan agama Islam. Selain menyebarkan agama Islam, juga meneruskan tahta yang sebelumnya milik Panembahan Senggaok, namun dirangkap oleh Sultan Matan Tanjungpura.

Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Tanjungpura diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah.

Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna-warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai.

Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.

Terharu karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga.

Karena saat kedatangannya bertepatan dengan minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah.

Selanjutnya Opu Daeng Manambon berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka.

Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari robo-robo, yang setiap tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.(ote)

Editor : Miftahul Khair
#mempawah #sejarah #hari ini #robo robo #Opu Daeng Menambon