MAJELIS Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam resolusinya Nomor A/ RES/67/105 menetapkan tanggal 5 September sebagai Hari Amal Internasional. Penetapan tersebut diberlakukan sebagai peringatan untuk wafatnya tokoh kemanusiaan bernama Bunda Teresa pada 5 September 1997.
Bunda Teresa, terlahir dengan nama Anjezë Gonxhe Bojaxhiu, kemudian dikenal dengan nama Maria Teresa Bojaxhiu, dihormati sebagai Santa Teresa dari Kalkuta. Penghormatan tersebut diberikan oleh Gereja Katolik setelah dikanonisasi.
Bunda Teresa adalah seorang biarawati Katolik dan misionaris India berdarah Albania. Beliau lahir di Üsküb di masa Kekaisaran Ottoman, yang kemudian wilayah ini lebih dikenal dengan nama Skopje pada masa Yugoslavia dan Makedonia Utara, 26 Agustus 1910.
Dilansir dari situs voi.id, pada 17 Oktober 1979, Bunda Teresa terpilih sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian. Penghargaan itu didapatkan Bunda Teresa karena dedikasinya dalam mengabdikan diri membantu orang miskin dan jelata di Kolkata, India.
Sebelumnya, laku hidup Bunda Teresa untuk membantu kaum papa di Kolkata kesohor di seantero dunia. Ajian itu dilakukan oleh Bunda Teresa sebagai bagian dari mengamalkan ajaran Kristus. Bunda Teresa menyediakan tempat dan ikut mengobati kaum papa.
Tiada yang meragukan pengabdiannya dalam misi kemanusian. Masa mudanya di Makedonia Utara tak banyak diisi dengan kegiatan bersenang-senang. Alih-alih memilih kehidupan menikmati masa remaja sebagai wanita karier, ia justru mengabdikan diri kepada Gereja Katolik.
Misinya jelas. Ia ingin membantu banyak kaum papa. Bunda Teresa memilih jadi bagian dari ordo Sisters of Loreto, Irlandia. Ia dan bersama suster lainnya berangkat ke India untuk melanggengkan tugas suci. Pengabdian itu membuat Bunda Teresa menonjol.
Ia bahkan sempat diangkat sebagai Kepala Sekolah Menengah Saint Mary Kolkata. Hatinya pun berkata lain. Ia merasa pengadiannya dengan menjadi kepala sekolah tak banyak membantu warga Kolkata yang miskin dan telantar.
Bunda Teresa pun mencoba menembus batas diri. Ia ingin mandiri dan membantu masyarakat Kolkata secara langsung. Ia pun mendirikan ordonya sendiri pada 1940-an. Missionaries of Charity, namanya. Ordo itu kemudian mendapatkan dukungan dari segenap komunitas Hindu di Kolkata.
Ia diizinkan menempati gedung yang dulunya bekas komunitas Hindu. Semenjak itu Bunda Teresa mengoprasikan gedungnya untuk menampung dan mengobati kaum papa. Narasi itu membuat nama Bunda Teresa kesohor. Pengabdiannya membantu kaum papa didukung banyak pihak. Dari skala nasional maupun internasional.
Dedikasi Bunda Teresa diakui oleh dunia. Ia dianggap orang suci. Aksi-aksinya menjaga dan menampung kaum papa dianggap jadi contoh baik bagi kehidupan yang akan datang. Bunda Teresa mengajarkan banyak orang akan kepedulian dan kepekaan terhadap kaum papa.
Komite Nobel yang bermarkas di Oslo, Norwegia pun mengambil sikap. Badan itu kemudian memilih Bunda Teresa sebagai penerima penghargaan Nobel Perdamaian pada 17 Oktober 1979. Pun penyerahannya dilakukan pada Desember 1979.
Pemberian Nobel itu membuktikan bahwa Bunda Teresa berhati mulia.
Pun Bunda Teresa digolongkan sebagai orang dengan dedikasi tinggi dibidangnya oleh Komite Nobel. Jasa Bunda Teresa kemudian dikenang dunia. Pun pemimpin dunia banyak memuji langkahnya. Bahkan, banyak pula yang segera membantu dengan memberikan sumbangan kepada aktivitas kemanusiaan yang dilanggengkan Bunda Teresa.
Bunda Teresa menderita serangan jantung ketika di Roma pada 1983, saat mengunjungi Paus Yohanes Paulus II. Setelah serangan kedua pada 1989, ia menerima alat pacu jantung buatan. Pada 1991, setelah berjuang melawan pneumonia saat di Meksiko, ia menderita masalah jantung lebih lanjut.
Ia menawarkan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih, tetapi para biarawati ordo dalam sebuah pemungutan suara yang rahasia, memilihnya untuk tetap menjabat.
Bunda Teresa sepakat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai kepala ordo.
Pada 13 Maret 1997, dia turun dari jabatannya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih dan memberi jabatannya kepada Suster Nirmala Joshi. Ia meninggal pada 5 September 1997.
Pada saat kematiannya, Misionaris Cinta Kasih telah memiliki lebih dari 4.000 suster dan persaudaraan dengan 300 anggota yang menjalankan 610 misi di 123 negara. (ote)
Editor : Miftahul Khair