Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Al-Adid; Dia tak Mengetahui Dinastinya Direbut hingga Dia Meninggal

Miftahul Khair • Jumat, 13 September 2024 | 13:43 WIB
Khalifah Al-Adid.
Khalifah Al-Adid.

DALAM keadaan sakit-sakitan hingga dia meninggal dunia pada 13 September 1171, persis 853 tahun yang lalu, Khalifah Al-Adid bahkan tak mengetahui jika dinastinya telah dikuasai oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Tepat saat kematiannya, Kekhalifahan Fatimiyah yang berpusat di Kairo, Mesir, telah berakhir. Dia resmi menjadi khalifah terakhir tanpa kudeta berdarah.

Dilansir dari situs hidayatullah.com, pada pertengahan abad ke-12, masyarakat Sunni di Suriah semakin kuat dan bersatu di bawah pemerintahan Nuruddin Mahmud bin Zanki, sementara Dinasti Fatimiyah terus mengalami kemerosotan.

Politik Fatimiyah sangat tidak stabil, di mana para wazir naik dan turun silih berganti dalam waktu cepat. Proses suksesi selalu diikuti tindak kekerasan dan pertumpahan darah.

Ketika pada 1160-an orang-orang Frank atau tentara salib berambisi untuk menguasai Mesir, Nuruddin terpaksa mengambil langkah yang sama. Bagaimanapun, tentara Nuruddin masuk ke wilayah Mesir beberapa kali atas permintaan pemimpin Mesir sendiri, termasuk Khalifah Fatimiyah yang terakhir, al-Adid.

Kompetisi memperebutkan Mesir ini akhirnya dimenangkan oleh Nuruddin, yang pasukannya ketika itu dipimpin oleh Asaduddin Shirkuh bersama keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi.

Shirkuh meninggal dunia tak lama setelah menguasai Mesir dan kedudukannya segera digantikan oleh Shalahuddin yang umurnya baru sekitar 32 tahun.

Shalahuddin pun diangkat sebagai wazir Mesir oleh Khalifah Al-Adid, walaupun pada saat yang sama ia juga merupakan salah seorang utusan Nuruddin.

Shalahuddin berhasil menghadapi pemberontakan dari sisa-sisa kekuatan politik Fatimiyah dan secara bertahap melakukan pergantian birokrasi pemerintahan dari kalangan Syiah kepada kalangan Sunni.

Proses ini berjalan selama 2 tahun, sepanjang 1169 – 1171. Pemerintahan Fatimiyah yang sudah terlalu mundur itu secara perlahan tapi pasti berkembang menjadi pemerintahan yang lebih kuat dan stabil.

Walaupun demikian, Kekhalifahan Fatimiyah sendiri tidak serta merta dihapuskan, karena Shalahuddin khawatir masih ada banyak orang di Mesir yang secara diam-diam mendukung Kekhalifahan Fatimiyah.

Khalifah Abbasiyah Al-Mustadi’ Bi’amrillah di Baghdad dan Nuruddin di Damaskus beberapa kali mendesak Shalahuddin, agar segera menghapus Dinasti Fatimiyah dan membacakan doa secara resmi untuk Khalifah Al-Mustadi’ Bi’amrillah pada waktu salat Jumat.

Shalahuddin masih merasa bimbang dan mencari waktu terbaik untuk menjalankan perintah tersebut.

Al-Adid, ketika itu, mengalami sakit keras. Shalahuddin mengumpulkan para emirnya dan meminta pendapat mereka tentang rencana penghapusan Dinasti Fatimiyah.

Sebagian emir ternyata masih merasa khawatir terhadap kemungkinan perlawanan rakyat Mesir, jika hal itu dilaksanakan, walaupun mereka juga merasa tidak mampu menolak perintah Nuruddin.

Saat Shalahuddin dan para emirnya sedang menimbang-nimbang, seorang ulama Persia yang sedang berada di Mesir mengambil sebuah tindakan. Ia melakukan inisiatif pribadi untuk memberikan doa secara terbuka bagi Khalifah Abbasiyah.

Hal ini ia lakukan pada Jumat pertama di bulan Muharram 567 H, yang bertepatan dengan 3 September 1171. Sebelum khatib menaiki mimbar, ulama ini berdiri di mimbar dan membacakan doa bagi Al-Mustadi’ Bi’amrillah. Ternyata tidak ada satu pun orang yang memprotes perbuatannya tersebut.

Maka pada Jumat kedua di bulan Muharram (10 September 1171), Shalahuddin memerintahkan para khatib Jumat di Kairo untuk tidak lagi membacakan doa bagi al-Adid dan menggantinya menjadi doa bagi Al-Mustadi’ Bi’amrillah.

Para khatib melaksanakan hal ini dan tidak ada seorang pun yang memprotesnya, apalagi sampai melakukan pemberontakan.

Pada Jumat berikutnya, pergantian doa khotbah ini dijalankan ke seluruh Mesir. Hal ini menandai berakhirnya secara resmi Kekhalifahan Fatimiyah yang telah berlangsung selama lebih dari satu setengah abad.

Al-Adid yang sedang sakit parah tidak mengetahui bahwa kekhalifahannya telah dihapus.

Anggota keluarga Al-Adid memutuskan untuk tidak memberitahunya tentang hal itu. Harapannya, jika Khalifah bernama lengkap Abu Muḥammad Abdullah ibn Yusuf ibn Al-Ḥafiẓ tersebut sembuh, maka ia akan tahu dengan sendirinya.

Yang dikhawtirkan mereka, jika Khalifah Fatimiyah tersebut akan meninggal dunia, maka tidak tepat untuk membebaninya dengan perubahan keadaan ini sebelum kematiannya.

Al-Adid ternyata memang meninggal dunia pada minggu kedua di bulan Muharram itu juga, tepat pada 13 September 1171 M, bertepatan dengan Hari Asyura (10 Muharram). Ia meninggal dunia tanpa mengetahui apa yang telah terjadi pada kekhalifahan dan tanpa penerus kekuasaannya.  

Setelah wafatnya Al-Adid, keluarga Khalifah terakhir Fatimiyah tersebut dipindahkan oleh Shalahuddin ke sebuah tempat di istana, di mana keperluan mereka diurus oleh beberapa penjaga.

Sementara Istana Kekhalifahan Fatimiyah diambil alih oleh Shalahuddin. Seluruh kekayaan yang ada di istana itu dikumpulkan yang jumlahnya sangat banyak. Di antara harta yang terkumpul, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Ibn al-Athir, adalah sebuah batu ruby yang beratnya sama dengan 17 keping dirham.

Semua benda-benda berharga itu dijual. Budak-budak istana, laki-laki dan perempuan, sebagian diberikan kepada orang-orang, sebagian dibebaskan, dan sebagian lainnya dijual.

Shalahuddin tidak mengambilnya sedikit pun dari harta benda di istana itu untuk dirinya sendiri. Semua masuk dalam kas negara dan digunakan sesuai dengan yang dibenarkan oleh syariah.

Dinasti Fatimiyah pun berakhir bukan melalui aksi kekerasan atau kezaliman oleh Shalahuddin al-Ayyubi, tetapi disebabkan kemundurannya sendiri yang telah berlaku sejak beberapa dekade sebelumnya.

Masyarakat Mesir sendiri tidak memprotes penghapusan Dinasti Fatimiyah dan memberikan dukungan kepada Shalahuddin, disebabkan pemerintahan Shalahuddin yang baik dan karena kemampuannya dalam menjaga wilayah Mesir dari ancaman orang-orang Frank.

Mereka juga mencintai Shalahuddin karena sifat zuhud dan sifat dermawan yang dimiliki lelaki dari Kurdistan tersebut. Ia menghapus berbagai bentuk pajak di negeri itu dan banyak membagi-bagikan harta kepada masyarakat.

Hampir dua dekade kemudian, yaitu pada 1189 M ketika Shalahuddin sedang menghadapi Perang Salib III di Suriah, ada 12 orang Syiah di Mesir yang berusaha melakukan pemberontakan.

Mereka memanfaatkan ketiadaan Shalahuddin dan minimnya pasukan di Mesir untuk memprovokasi masyarakat agar memberontak. Pada suatu malam, mereka melalui lorong-lorong Kota Kairo menyerukan kalimat-kalimat provokatif.

Namun, setelah mereka melakukannya selama beberapa saat, tak ada satu orang pun yang keluar untuk mendukung mereka. Mereka akhirnya ketakutan sendiri karena rencana mereka gagal total.

Mereka lari menyembunyikan diri. Namun, tak berapa lama kemudian mereka berhasil ditangkap.

Ketika berita ini sampai di telinga Shalahuddin, ia sempat merasa khawatir terhadap keadaan di Mesir. Namun Al-Qadi Al-Fadil menenangkannya. Dia memastikan rakyat Mesir mencintai pendiri Dinasti Ayubiyah tersebut.

Apa yang dikatakan oleh Al-Qadi Al-Fadil tersebut memang benar. Masyarakat Mesir menghargai apa yang telah dilakukan oleh Shalah al-Din serta pemerintahannya yang baik. Pemerintahan Fatimiyah atau yang semisal dengannya tidak pernah muncul lagi di Mesir sejak keruntuhannya pada 1171 M. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#Kekhalifahan Fatimiyah #Khalifah Al Adid #Shalahuddin Al Ayyubi