Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kematian RA Kartini Masih Misteri, Dugaan Kuat Alami Preeklamsia

Miftahul Khair • Selasa, 17 September 2024 | 12:56 WIB
Portrait RA Kartini. (COLLECTIE TROPENMUSEUM)
Portrait RA Kartini. (COLLECTIE TROPENMUSEUM)

RADEN Ayu Kartini meninggal secara mendadak pada 17 September 1904 atau persis 120 tahun yang lalu. Peristiwa menyedihkan tersebut terjadi empat hari setelah melahirkan putra semata wayangnya, Raden Mas Soesalit. Saat itu usia Kartini masih sangat muda, 25 tahun.

Dilansir dari situs health.grid.id, kerabat dan suaminya, Raden Mas Djojoadiningrat bahkan tidak mengira jika istrinya akan meninggalkan mereka begitu cepat. Digambarkan dia dalam Kartini: Sebuah Biografi, jika kartini dengan halus dan tenang mengembuskan napasnya yang terakhir dalam pelukan Bupati Rembang tersebut. Bahkan, menurut Sang Bupati, 5 menit sebelum wafat, pikirannya masih utuh, bahkan sampai saat terakhir ia masih sadar.

Padahal, saat melahirkan, Kartini sama sekali tidak mengalami masalah apapun. Bayi yang dilahirkannya sehat, pun dengan dirinya.

Kartini, menurut suaminya, hanya mengalami ketegangan perut. Bahkan Kartini dikabarkan sempat meminum anggur untuk keselamatan bayi dan sang ibu. Tapi 30 menit setelah sang dokter pulang, Kartini mengeluh sakit perut.

Ketika sang suami memanggil dokter lagi, kondisi penulis Habis Gelap Terbitlah Terang itu pun sudah parah. Banyak yang menduga Kartini meninggal karena diracun.

Namun sampai sekarang tuduhan ini belum terbukti. Hingga akhirnya pihak keluarga mengikhlaskan kematian pejuang emansipasi perempuan di Indonesia ini. Keluarga menganggap kematian Kartini murni karena dia berjuang untuk melahirkan anaknya.

Sedangkan para dokter modern di era sekarang berpendapat Kartini meninggal akibat mengalami preeklamsia. Disebutkan bahwa tekanan darah Kartini naik dan sempat kejang.

Preeklamsia kadang-kadang juga disebut toksemia kehamilan. Ini adalah masalah selama kehamilan yang hanya terjadi pada 2 dari 100 wanita hamil. Gejala utama preeklamsia termasuk tekanan darah tinggi dan jumlah protein yang tinggi dalam urin.

Ini adalah kondisi berbahaya, yang bisa berakibat fatal bagi wanita hamil serta bayi di dalam kandungannya. Ini juga menyebabkan pembengkakan di tangan dan kaki. Memiliki tekanan darah tinggi bisa menjadi masalah serius bagi setiap wanita hamil.

Tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat menyebabkan bahaya serius bagi wanita. Bahkan jika sudah memiliki tekanan darah tinggi, sembilan bulan penuh tidak akan mudah bagi penderitanya.

Memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan seperti preeklamsia dan eklampsia. Kedua hal ini dapat membahayakan nyawa ibu dan anak. Minggu ke-20 kehamilan sangat sensitif. Dalam hal ini, masalah preeklamsia dapat berkembang tanpa gejala apapun.

Bila arteri terkena preeklamsia, gangguan ini dapat menyebabkan lebih banyak komplikasi bagi ibu hamil. Gangguan ini dapat mempengaruhi arteri, yang memasok darah ke plasenta. Hal ini dapat menghentikan perkembangan janin. Ini meningkatkan kemungkinan melahirkan prematur.

Gangguan serius lainnya dapat menyebabkan sindrom HELP. Ada juga peningkatan risiko kerusakan organ atau stroke serta penyakit jantung. Sindrom HELP merupakan singkatan dari hemolisis (H), yaitu kerusakan sel darah merah, elevated liver enzymes (EL), yaitu peningkatan produksi enzim hati akibat gangguan pada sel hati, dan low platelet (LP), yaitu jumlah platelet atau trombosit yang di bawah batas normal, sehingga mengganggu proses pembekuan darah.

Sindrom HELP adalah gangguan organ hati dan darah yang bisa terjadi pada kehamilan. Biasanya, sindrom ini terjadi setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu. Jika tidak ditangani dengan tepat, sindrom ini bisa berdampak fatal pada ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #hari ini #kematian RA Kartini #RA Kartini