Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rapat Raksasa IKADA 1945, Ketika Ribuan Orang Berkumpul tanpa Dipaksa

Miftahul Khair • Kamis, 19 September 2024 | 12:13 WIB
PIDATO: Presiden Sukarno berpidato di hadapan ribuan massa yang berkumpul di Lapangan IKADA, 79 tahun yang lalu. DOKUMEN
PIDATO: Presiden Sukarno berpidato di hadapan ribuan massa yang berkumpul di Lapangan IKADA, 79 tahun yang lalu. DOKUMEN

HARI ini, 79 tahun yang lalu atau 19 Agustus 1945, ribuan orang berkumpul di Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (IKADA) atau sekarang menjadi Lapangan Monas. Saking banyaknya manusia berkumpul ketika itu, ajang tersebut dikenal dalam sejarah sebagai Rapat Raksasa.

Situs historia.id, menyebut jika pertemuan antara pemimpin dengan rakyatnya itu diorganisir oleh kelompok mahasiswa Prapatan 10 yang dipimpin oleh Eri Soedewo bersama kelompok Pemuda Menteng 31 yang dipimpin Sukarni dan Chaerul Saleh.

Beberapa tokoh pemuda yang turut menggalang massa antara lain Moefreni Moekmin, Wikana, A.M. Hanafi, dan Sidik Kertapati.

Setelah sempat tertunda beberapa hari karena alasan teknis dan keamanan, akhirnya pada 19 September ribuan massa membanjiri Lapangan Ikada dengan penjagaan ketat tentara Jepang.

Sementara situs Ensiklopedia Indonesia menyebut jika peristiwa bersejarah ini diprakarsai oleh Komite van Aksi.

Dalam peristiwa ini Presiden Sukarno memberikan pidato singkat berisi seruan kepada rakyat agar percaya kepada pemerintah Republik Indonesia.

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, muncul ketidakpuasan di antara para pemuda atas kebijakan pemerintah dalam hal pengambilalihan kekuasaan dari Jepang.

Atas dasar ketidakpuasan tersebut, maka para pemuda yang berada dalam Komite van Aksi menggalang massa untuk mengadakan rapat besar dalam rangka memperingati satu bulan kemerdekaan RI.

Awalnya rapat besar ini akan diselenggarakan pada 17 September, bertepatan dengan satu bulan Proklamasi Kemerdekaan. Namun karena adanya ancaman dari tentara Jepang, maka rapat diundur dua hari.

Pada 19 September tentara Jepang berjaga-jaga di lokasi rapat dengan senjata lengkap, bahkan mengerahkan beberapa unit tank dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, peserta rapat tetap berdatangan ke lapangan IKADA dan menunggu kedatangan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta.

Rakyat Indonesia yang sudah tersulut api semangat kemerdekaan tidak gentar dan mengabaikan penjagaan dari tentara Jepang. Situasi saat itu sangat tegang dan bentrokan berdarah bisa terjadi sewaktu-waktu.

Pada saat yang sama, pemerintahan RI yang baru terbentuk sedang mengadakan sidang kabinet.

Mendengar kabar adanya rapat raksasa di Lapangan IKADA yang dijaga oleh tentara Jepang bersenjata lengkap, Sukarno dan Hatta kemudian berangkat ke lokasi rapat.

Selang beberapa saat, keduanya akhirnya tiba di Lapangan IKADA disertai beberapa menteri.

Sukarno memberikan pidato singkat selama 5 menit yang berisi permintaan dukungan dan kepercayaan dari rakyat Indonesia.

Presiden menyatakan bahwa pemerintah sedang berusaha sebaik mungkin mempertahankan kemerdekaan, maka dari itu rakyat perlu percaya dan mendukung dengan tetap tenang namun tetap siap sedia menerima seruan dari pemerintah.

Sukarno kemudian meminta peserta rapat pulang dengan tenang yang segera ditaati oleh semua peserta yang hadir. Dengan demikian bentrokan berdarah antara rakyat dengan tentara Jepang dapat dielakkan.

Peristiwa ini merupakan titik penting dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan RI yang berusia sangat muda mampu membuktikan wibawanya.

Dari peristiwa ini pula pihak tentara Jepang dapat melihat bahwa Sukarno dengan pengaruh dan wibawanya mampu mengendalikan gejolak rakyat Indonesia.

Peristiwa ini di sisi lain juga berhasil menumbuhkan kepercayaan rakyat Indonesia kepada pemerintahan RI. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#rapat raksasa ikada #hari ini #sejarah penggunaan bantal #monas