Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Ini, Hari Maritim Nasional, Bagaimana Sejarahnya?

Miftahul Khair • Senin, 23 September 2024 | 13:46 WIB
MUNAS MARITIM: Presiden Soekarno saat membuka Musyawarah Nasional Maritim I. (MALANESIA.NEWS)
MUNAS MARITIM: Presiden Soekarno saat membuka Musyawarah Nasional Maritim I. (MALANESIA.NEWS)

PRESIDEN pertama Republik Indonesia, Soekarno, meresmikan Angkatan Laut (AL) pada 23 September 1953. Peristiwa tersebut di kemudian hari dikenang sebagai Hari Maritim Nasional.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Hari Maritim Nasional berawal dari peresmian AL, kemudian dilanjutkan dengan penetapan Deklarasi Djuanda. Deklarasi Djuanda berlangsung pada 1957, yang menyatakan kepada dunia bahwa Laut Indonesia meliputi laut sekitar, di antara, dan di dalam Kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Pada 1964, melalui Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I, Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 249/1964 yang menetapkan 23 September sebagai Hari Maritim Nasional.

Deklarasi Djuanda menjadi salah satu latar belakang peringatan Hari Maritim Nasional. Dalam deklarasi tersebut, Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang memiliki corak tersendiri. Kemudian sejak dahulu kala, kepulauan nusantara sudah satu kesatuan. Terakhir mengenai ketentuan ordonasi 1939 tentang Ordonasi dapat memecah belah kesatuan Indonesia.

Sementara tujuan Deklarasi Djuanda adalah mewujudkan bentuk wilayah NKRI yang utuh dan berdaulat, menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan azas negara kepulauan; serta mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Sayangnya, seperti dilansir dari situs ypais.org, masih ada beberapa pihak yang memperingati Hari Maritim Nasional pada 21 Agustus. Situs tersebut menjelaskan alas an mengenai Peringatan Hari Maritim Nasional pada 21 Agustus, didasari peristiwa 21 Agustus 1945.

Saat itu, Angkatan Laut Indonesia berhasil mengalahkan armada militer laut Jepang yang memiliki peralatan dan persenjataan lebih canggih. Kemenangan ini kemudian menjadi dasar peringatan Hari Maritim Nasional, 21 Agustus.

Sedangkan, penetapan Hari Maritim Nasional pada 23 September didasari oleh Surat Keputusan (SK) Nomor 249/1964. Saat itu, penetapan Hari Maritim Nasional diputuskan oleh Presiden Sukarno setelah Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I tahun 1963.

Dilansir dari malanesia.news, sejarah penetapan 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional juga tidak dilengkapi dengan data yang valid. Alasan dari pihak-pihak yang menyodorkan tanggal tersebut mengacu pada peristiwa penyerangan Angkatan Laut Indonesia ke tangsi militer Jepang di Pulau Nyamukan, Surabaya, empat hari setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut konfirmasi para pakar sejarah Angkatan Laut, memang ada peristiwa itu setelah Proklamasi, namun tanggal tepatnya masih simpang siur. Catatan kedua, di tanggal itu pun belum terlahir Angkatan Laut Republik Indonesia yang awalnya bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) Bagian Laut. BKR Laut sendiri baru terbentuk pada 10 September 1945, di mana tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi TNI AL hingga saat ini.

Mantan Kasubdisjarah TNI AL Kolonel Laut (Purn) Rony Turangan menyebutkan pada pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, para pemuda bahariwan yang merupakan jebolan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) dan Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) – bentukan Jepang, banyak yang mengambil inisiatif untuk menyerang tangsi militer Jepang di laut.

Menurut dia, hal itu bukan saja terjadi di Surabaya, tetapi hampir di setiap daerah yang terdapat para pemuda bahariwan tersebut. Hingga akhirnya para kelompok ini kemudian dipersatukan oleh Mas Pardi, kepala Staf Angkatan Laut Pertama di dalam BKR Laut.

Pada pertengahan 2015, sewaktu Kolonel Laut (Purn) Rony Turangan masih menjabat sebagai Kasubdisjarah TNI AL, pernah diundang oleh Deputi IV bidang Budaya, SDM dan IPTEK Maritim Kemenko Maritim yang dipimpin oleh Safri Burhanuddin, untuk membahas masalah ini. Hasil pengkajian yang dilakukan oleh tim khusus untuk Hari Maritim Nasional kala itu seluruhnya merujuk pada 23 September.

Sehingga saat ini seharusnya tidak ada lagi perdebatan dan polemik. Jika ada yang masih memperingati 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional, tentu karena ketidaktahuan akibat minimnya sosialisasi serta kepedulian pemerintah terhadap sejarah maritim nasional. Ke depan sudah seharusnya, gaung 23 September sebagai Hari Maritim Nasional bisa membahana dan berperan penting dalam pembentukan karakter maritim bangsa.

Hari Maritim Nasional sendiri memiliki tujuan supaya masyarakat Indonesia sadar potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara maritime. Peringatan ini juga dimaksudkan untuk merayakan segala hal yang telah dilakukan pemerintah dalam hal kedaulatan kemaritiman di Indonesia. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #hari ini #angkatan laut #Hari Maritim Nasional