Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Bahasa Isyarat, Bahasa Komunikasi Para Tunarungu

Miftahul Khair • Senin, 23 September 2024 | 13:55 WIB
Abjad bahasa isyarat Indonesia. (FREEPIK)
Abjad bahasa isyarat Indonesia. (FREEPIK)

BAHASA isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir. Bahasa ini terutama digunakan sebagai alat komunikasi bagi penyandang tuna rungu atau gangguan pendengaran, di mana terdapat 300 bentuk bahasa isyarat yang berbeda di seluruh dunia.

Bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional (The International Day of Sign Languages) yang jatuh pada hari ini, 23 September, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas mengenai penggunaan bahasa isyarat ini. Dilansir dari situs nationalgeographic.org, dijelaskan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa visual yang diungkapkan melalui gerakan fisik, bukan kata-kata yang diucapkan.

Bahasanya bergantung pada isyarat yang terlihat dari tangan, mata, ekspresi wajah, dan gerakan untuk berkomunikasi. Meskipun bahasa isyarat digunakan terutama oleh orang-orang yang tuli atau mengalami gangguan pendengaran, bahasa isyarat juga digunakan oleh banyak orang yang dapat mendengar.

Seperti halnya bahasa lisan lainnya, bahasa isyarat memiliki aturan tata bahasa dan struktur, dan telah berkembang seiring berjalannya waktu.

Sama seperti bahasa lisan, tidak ada bahasa isyarat yang universal. Negara-negara yang berbeda biasanya memiliki versi bahasa isyarat mereka sendiri, yang unik untuk wilayah dan budaya mereka.

Misalnya, Bahasa Isyarat Amerika (ASL) berbeda dengan bahasa isyarat Auslan di Australia, yang berbeda dengan Bahasa Isyarat British (BSL) yang digunakan di Inggris.

Seseorang yang fasih dalam ASL mungkin bepergian ke Sydney, Australia, dan mengalami kesulitan memahami seseorang yang menggunakan bahasa isyarat versi local, bukannya dialek atau aksen berbeda yang terlihat dalam bahasa lisan, isyarat dan gerak tubuh yang berbeda.

Saat ini, terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat berbeda di dunia, yang digunakan oleh lebih dari 72 juta orang tunarungu atau yang memiliki gangguan pendengaran di seluruh dunia.

Di Amerika Serikat, ASL telah menjadi bahasa isyarat yang dominan di kalangan komunitas tuna rungu dan gangguan pendengaran. Tidak ada satu pun penemu ASL, namun ahli bahasa dan sejarawan percaya bahwa ASL mungkin berevolusi dari Bahasa Isyarat Prancis (LSF) lebih dari 200 tahun yang lalu.

Saat ini, ASL digunakan oleh lebih dari satu juta orang. Semakin banyak, ASL diajarkan oleh banyak sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari kelas bahasa modern dan asing.

Bahasa isyarat adalah cara ampuh bagi orang-orang dengan semua kemampuan pendengaran untuk berkomunikasi. Bahkan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan gorila (Gorilla gorilla). Pada 1970-an, peneliti bahasa Dr. Penny Patterson mulai bekerja dengan Koko, seekor gorila dataran rendah barat (Gorilla gorilla gorilla), mengajarinya bahasa isyarat.

Penelitian menunjukkan bahwa gorila (dan kera besar lainnya) memiliki kemampuan berbahasa yang mirip dengan anak kecil, dan sepanjang hidupnya, Koko mempelajari lebih dari seribu tanda berbeda. Koko mampu melakukan seluruh percakapan dalam bahasa isyarat, serta memainkan permainan kata dan membuat isyaratnya sendiri.

Sementara di Indonesia, dilansir dari situs identitasunhas.com, bahasa isyarat terdiri dari dua jenis. Salah satunya adalah Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). SIBI merupakan bahasa isyarat yang diadopsi dari American Sign Language (ASL). Selain ASL juga terdapat British Sign Language (BSL).

SIBI dikenal sebagai bahasa yang menyimbolkan tata bahasa lisan Indonesia ke dalam bahasa isyarat buatan, sehingga memiliki struktur yang sama memiliki awalan dan akhiran.

Dikutip dari difabel.tempo.co, SIBI diterapkan dan disahkan secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) melalui SK Nomor 0161/U/2994 pada 30 Juni 1994 tentang Pembakuan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Olehnya itu, SIBI dianggap lebih sulit karena memiliki kosakata yang baku dan rumit. SIBI hanya menggunakan satu tangan sebagai alat berkomunikasi.

Selain SIBI, terdapat Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Bahasa isyarat ini muncul secara alami dalam budaya Indonesia dan seringkali digunakan dalam kehidupan sehari-hari, karena penggunaannya yang mudah. BISINDO merupakan bahasa yang akrab digunakan oleh para teman tuli, bahkan sejak kecil. Karena berkembang secara alami dalam budaya Indonesia, BISINDO juga dipengaruhi oleh interaksi nilai-nilai tiap daerah. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah hari ini #bahasa isyarat #Hari Bahasa Isyarat Internasional #The International Day of Sign Languages