KOMPENI Belanda banyak membunuh orang selama menjajah Nusantara. Salah satu kelompok masyarakat yang mereka bunuh adalah orang-orang Tionghoa di Batavia.
Persis 284 tahun yang lalu atau 9 Oktober 1740, lebih dari 10 ribu orang Tionghoa dibantai karena kompeni Belanda dalam tragedi yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Geger Pecinan.
Sejarah kelam tersebut menurut situs Nasional Geographic Indonesia, bermula dari rasa iri dan tersaingi, terutama dalam bidang perdagangan.
Belanda mengamuk dan terjadilah huru-hara besar, sehingga ribuan orang Tionghoa dibunuh, bahkan banyak pula dan rumah dan bangunan mereka dibakar.
Lokasi utama pembantaian sendiri adalah di seputar Kali Angke yang kini masuk dalam wilayah Jakarta Barat.
Kala itu kompeni Belanda berkuasa penuh di Batavia terutama lewat kongsi dagangnya yang amat terkenal, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Pada waktu yang bersamaan, arus imigrasi ke Kota Batavia mengalir deras, termasuk pula datangnya orang-orang Tionghoa.
Orang-orang Tionghoa itu konon mempunyai budi pekerti yang ramah, sopan, dan suka membantu masyarakat pribumi (Betawi). Kepada penguasa daerah mereka cendurung patuh dan menaati peraturan yang berlaku.
Selain itu, orang-orang Tionghoa juga memiliki keahlian berdagang. Untuk itu mereka mau membaur dengan warga pribumi.
Rupanya hal ini membuat khawatir kompeni Belanda. Mereka takut tersaingi, sehingga berbagai cara pun mereka lakukan agar tidak bisa disaingi bahkan digeser oleh keberadaan orang-orang Tionghoa tersebut.
Kompeni Belanda melakukan intervensi terhadap warga setempat ataupun orang-orang Tionghoa. Belanda juga merekrut pamong praja untuk dijadikan kaki tangannya.
Cara jahat kemudian dilakukan dengan mengadakan penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang Tionghoa, sekitar akhir 1739. Penangkapan berlangsung mulai dari Bekasi hingga Tanjung Priok.
Merasa terusik, orang-orang Tionghoa mencoba melakukan perlawanan. Nahasnya, Belanda malah menjadi semakin kesal dan keki.
Hasil rapat parlemen pada 26 Juli 1740 membuahkan resolusi berupa penangkapan secara terus-menerus terhadap orang-orang Tionghoa yang dianggap mencurigakan atau melawan kekuasaan kompeni Belanda.
Puncak dari kebencian Belanda itu, meletuslah tragedi bengis berupa pembantaian massal yang didahului bentroakan antara orang-orang Tionghoa dengan tentara Belanda pada Oktober 1740.
Secara biadap kompeni Belanda melakukan penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa yang berada di rumah, kedai, jalan, atau bersembunyi di beberapa tempat.
Mereka tak diberi celah untuk lari dari Kota Batavia. Mereka ditembak dan ditikam pada siang dan malam.
Bersamaan dengan itu, ribuan rumah warga Tionghoa di Kota Batavia juga dibakar dan barang-barangnya dijarah. Selama hampir tiga hari api berkobar menghangus rumah-rumah dan semua isinya tersebut.
Aksi pembantaian itu menewaskan sedikitnya 10 ribu orang Tionghoa. Mayat-mayat mereka bersimbah darah dan bergelimpangan di jalan-jalan, kali, dan kanal sehingga air kali berubah menjadi merah, terutama Kali Angke yang letaknya tak jauh dari permukiman warga Tionghoa.
Dari peristiwa mengerikan inilah kemudian banyak orang berpikiran nama Kali Angke berasal dari bahasa orang Tionghoa. Persisnya, berasal dari dua kata bahasa Hokkian, yakni ang yang berarti merah dan ke yang berarti kali. (ote)
Editor : Miftahul Khair