NAMA Mohammad Amir Sutaarga memang tidak populer, namun siapa sangka putra kelahiran Rangkasbitung, 5 Maret 1928 merupakan pioner permuseuman di Indonesia. Di Hari Museum Nasional yang jatuh pada hari ini, 12 Oktober, pontianakpost.jawapos.com mengulas sedikit mengenai sosok yang satu ini.
Dilansir dari situs HIMA FIB UGM, diceritakan bahwa anak sulung dari pasangan M. Ilyas Sutaarga dan Siti Mariah ini sebenarnya bercita-cita menjadi ahli perkapalan dan ingin menempuh pendidikannya di Belanda.
Namun Amir, demikian panggilannya, gagal mewujudkan keinginan tersebut akibat adanya perang yang pecah pada 5 Maret 1942. Semasa bersekolah di Taman Madya Yogyakarta, ia pun akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam dunia militer.
Bersama Uka Tjandrasasmita, teman karibnya, Amir bergerilya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Berkat kecerdasannya, Amir muda ditugaskan pada bagian intelejen sebagai perwira penghubung dan pada 1947 di usia 19 tahun telah menyandang pangkat kemiliteran Letnan Dua (Letda) dalam Divisi Siliwangi.
Perkenalannya dengan dunia museum sebenarnya tidak disengaja sejak bertemu dengan van der Hoop, seorang ilmuwan yang bekerja di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW). BGKW sekarang merupakan Museum Nasional.
Kemudian Hoop memboyong Amir ke Jakarta untuk belajar ilmu etnologi. Selanjutnya pada 1952 Hoop mengangkat Amir menjadi redaktur penerbitan. Jabatan tersebut merupakan pintu gerbang Amir dalam menggeluti sekaligus menekuni dunia Museum.
Karier Amir terus menanjak, ia pernah menjabat sebagai sekretaris BGKW. Setelah Prof. Dr. Hoessain Djajadiningrat mengundurkan diri dari pemimpin BGKW, Amir ditunjuk untuk menggantikan posisi itu. Tugas yang diembannya memang tidak ringan, Amir harus mengelola museum BGKW secara mandiri tanpa ahli dan sokongan dana dari Belanda.
Amir juga pernah menerima beasiswa untuk belajar museum di Eropa Barat. Sepulangnya dari eropa, Amir kembali menimba ilmu Antropologi di Universitas Indonesia pada 1958. Di sela-sela kesibukannya tetap aktif dalam Lembaga Museum Nasional.
Bersama R. Soekmono yang saat itu menjabat menjabat Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, ia pun memperkenalkan kepurbakalaan dan permuseuman.
Baca Juga: Tips Menyimpan Buah Jeruk Agar Terjaga Kualitasnya
Setelah Museum BGKW diserahkan kepada pemerintah pada 1962, Amir diangkat menjadi Kepala Museum Pusat (Museum Nasional) dan setelah itu Amir menjabat sebagai Direktur Permuseuman.
Kiprah dan Kepakarannya dalam bidang permuseuman tidak diragukan lagi, Amir Sutaarga dikenal sebagai perintis dan pengembang Museologi Indonesia. Beberapa karya tulisannya berkaitan dengan museum, di antaranya Capita Selekta Museografi dan Museologi (1964); Museum Etnografi : Perkembangan dan Fungsinya di Jaman Sekarang (1958); Museum dan Permuseuman di Indonesia (1968); Museum Problemen in Indonesia (1956); Persoalan Museum di Indonesia (1962); Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum (1988); dan Studi Museologia (1991). Selain itu, Amir Sutaarga dikenal pula sebagai penerjemah buku dan novel berbahasa asing. Keahliannya tersebut tidak terlepas dari ilmu yang ditularkan dari van der Hoop.
Salah satu keinginannya yang kini belum terwujud yakni mendirikan Akademi Museum untuk mendidik dan mengembangkan Museologi di Indonesia. Amir Sutaarga juga dikenal sebagai perintis berdirinya sejumlah Museum Negeri Provinsi, Museum Pemerintah Daerah, dan museum milik pribadi.
Ketika kunjungannya ke Paris tahun 1995, Amir meminta kepada UNESCO supaya mendatangkan tenaga ahli yang dapat membantu pengembangan Museum di Indonesia. Keinginan tersebut terealisasi dengan kehadiran Jhon Irwin, ahli museum dari Victoria & Albert Museum, London, yang menyarankan agar dibuatkan sebuah Museum Nasional yang merepresentasikan keragaman Indonesia, membentuk dinas-dinas museum serta mengadakan pendidikan dan pelatihan kepada tenaga museum.
Atas jasa-jasanya, Amir Sutaarga memperoleh anugerah Life Time Achievement bidang permuseuman pada 1 Juni 2012 dalam event Museum Award. Tepat satu tahun setelah menerima penghargaan, Amir Sutaarga pun wafat pada 1 Juni 2013 di Ciputat dan dimakamkan di Pandeglang, Banten. (ote)
Editor : Miftahul Khair