PARA sejarawan dan profesional kualitas akan berdebat tentang peristiwa apa saja yang mendorong standardisasi menjadi pusat perhatian. Tetapi sejauh menyangkut orang Amerika, satu nama menonjol dalam diskusi tersebut yakni Eli Whitney. Sosok yang dinobatkan sebagai Bapak Standarisasi Dunia tersebut akan dibahas dalam Hari Standar Dunia (Word Standards Day) yang diperingati setiap 14 Oktober, hari ini.
Dilansir dari situs qualitymag.com, meskipun Eli Whitney paling sering dikaitkan dengan mesin pemisah biji kapas, ia adalah seorang penemu yang produktif, lebih dari sekadar pebisnis yang cakap, pengguna awal kemajuan teknologi dan pendukung komponen yang dapat dipertukarkan, produksi massal, dan apa yang sekarang kita kenal sebagai standar kualitas.
Penting untuk dicatat bahwa Whitney tidak menemukan konsep komponen yang dapat dipertukarkan, ia juga tidak menciptakan proses produksi massal di sektor manufaktur. Ia terkadang disebut sebagai bapak standardisasi, tetapi sentimen itu tidak dianut oleh semua pemimpin pemikiran.
Namun, ia berperan penting (meskipun bukan satu-satunya pebisnis) dalam meyakinkan pemerintah AS dan pemilik bisnis bahwa komponen yang dapat dipertukarkan diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi dan manufaktur. Konsep ini mengarah pada produksi massal dan dimulainya standar kualitas.
Pada 1798, Whitney menerima kontrak pertama dari beberapa kontrak pemerintah AS untuk memproduksi senapan musket. Berdasarkan ide Honoré Blanc, pengawas gudang senjata Prancis, yang berhasil menggunakan suku cadang yang dapat dipertukarkan melalui bantuan banyak tenaga kerja, Whitney berencana untuk mengubah ide suku cadang yang dapat dipertukarkan tersebut menggunakan mesin.
Memenuhi kontrak pertama tidak berjalan baik bagi Whitney dan timnya. Butuh waktu 10 tahun untuk mengirimkan senapan musket ke departemen pertahanan pemerintah AS. Penantian 10 tahun bukanlah satu-satunya masalah. Senapan musket tidak berfungsi, bagian-bagiannya tidak pas dan, dalam beberapa kasus, produknya pecah menjadi dua. Bahkan untuk ekspektasi kualitas saat itu, hal ini mengecewakan dan mengkhawatirkan, terutama karena senapan musket ini akan diberikan kepada militer AS.
Whitney dan timnya yang sebagian besar terdiri dari pekerja kasar berusaha memperbaiki masalah tersebut dan mengirimkan 10.000 senapan meski delapan tahun terlambat, tetapi reputasi Whitney sebagian besar tetap utuh.
Selama proses ini, Whitney membuat catatan yang cermat, mendokumentasikan semuanya untuk mengembangkan proses standar.
Dua ratus tahun kemudian, standarisasi penting bagi praktik bisnis, dan komunitas mutu penting bagi standarisasi. Namun, sementara Eli Whitney dan orang-orang sezamannya hanya berusaha menghasilkan produk yang berfungsi dengan biaya serendah-rendahnya, standar mutu saat ini lebih jauh mencakup proses, risiko, masalah lingkungan, dan tanggung jawab perusahaan. (ote)
Editor : Miftahul Khair