PEMERINTAH menganugerahi HR Soeharto sebagai pahlawan nasional. Ia merupakan dokter pribadi Soekarno-Hatta yang turut dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga dikenal sebagai penggagas berdirinya Ikatan Dokter Indonesia pada 24 Oktober 1950, sehingga momentum tersebut dikenal sebagai Hari Dokter Nasional yang diperingati hari ini, 24 Oktober, setiap tahunnya.
Dilansir dari situs Mojok, tokoh asal Klaten bernama Dr. dr. HR. Soeharto tersebut, menjadi salah satu nama dari lima figur yang mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 2022 lalu.
Bahkan, saat penetapan, namanya disebut pertama kali oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, saat itu, Mahfud MD selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Penganugerahan gelar tersebut memang langkah yang tepat. Sebab, pria kelahiran Desa Tegalgondo, Klaten, pada 24 Desember 1908 ini punya rekam jejak dan kontribusi besar dalam sejarah Indonesia.
Pria bernama lengkap H. Raden Soeharto Sastrosoeyoso ini adalah pemrakarsa lahirnya Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada 1957. Tak hanya itu, ia juga merupakan tokoh yang menggagas berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 1950.
H.R. Soeharto juga pernah menjabat Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Kepala Bappenas di era kabinet Soekarno. Menteri Perindustrian di masa demokrasi terpimpin ini juga merupakan sahabat dekat Bung Karno. Bahkan, ia sudah menjadi dokter pribadi sang proklamator sebelum Indonesia merdeka.
Pada masa sebelum kemerdekaan, HR Soeharto sudah menjalankan praktik kedokteran keluarga atau huisarts. Selain itu, lulusan Fakultas Medica Bataviensis STK Jakarta ini juga mendirikan dan mengelola klinik bersalin kecil di daerah Kramat Raya Nomor 128, Jakarta Pusat, sepanjang 1937 – 1942. Di samping menjalankan praktiknya, dokter Soeharto juga menjadi dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta sepanjang 1942 – 1945.
Oleh Bung Karno, ia mendapatkan tugas untuk memimpin bagian Kesehatan Poesat Tenaga Rakyat (Poetra), di bawah pimpinan Empat Serangkai, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mansyur.
Setelah itu, Bung Hatta, selaku Kepala Kantor Penasehat Gunseikanbu, juga menugaskan dokter Soeharto untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para calon pegawai dan pegawai Pangreh Praja se-Jawa yang sedang mendapatkan pelatihan di Jakarta.
Ia juga mendapatkan amanah untuk memberi pelayanan kesehatan kepada para penarik becak, yang pada waktu itu di Jakarta berjumlah 6 ribu – 7 ribu orang.
Selain sebagai dokter pribadi, ia juga kerap mendampingi Bung Karno dalam kunjungan-kunjungan politiknya. Seperti kunjungan ke Dalat untuk mempersiapkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Bahkan, rumah sekaligus tempat praktik HR. Soeharto di Jalan Kramat Raya Nomor128 pernah digunakan oleh Bung Karno dan Tan Malaka untuk mendiskusikan testamen pelimpahan kekuasaan.
Setelah proklamasi kemerdekaan, barulah Soeharto pindah ke Yogyakarta. Di sana ia mendapatkan tugas menjadi Kepala Administrasi Pusat (AMP) Kementerian Pertahanan RI di Yogyakarta, dengan pangkat Mayor Jenderal merangkap dokter pribadi Presiden.
Selain pencapaian dan dedikasinya, agaknya salah satu kisah berkesan antara dokter Soeharto dan Bung Karno adalah ketika ia menemani Sang Proklamator untuk melamar Rachmi yang kelak menjadi istri Mohammad Hatta. (ote)
Editor : Miftahul Khair