SEJARAH animasi di Indonesia tak bisa dilepaskan dari film serial Si Huma, yang saat penayangannya dulu erat hubungannya dengan upaya pengenalan Pancasila. Di Hari Animasi Internasional yang diperingati pada hari ini, pontianakpost.jawapos.com mencoba membawa pembaca untuk mengenang kembali animasi yang telah berusia 40 tahun ini.
Dilansir dari situs Kutu Buku Kartun, pada 30 Maret 1983, serial animasi Si Huma hadir sebagai serial animasi paling pertama di Indonesia yang tayang lewat TVRI sepanjang kurun waktu 1983 – 1984. Kala itu, Si Huma juga tayang setiap Minggu pagi sama halnya seperti Si Unyil dan acara-acara anak lainnya termasuk kartun mancanegara.
Si Huma atau Huma saja, adalah serial animasi yang diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang sebelumnya pernah berpengalaman membuat atraksi teater boneka Si Unyil.
Serial animasi ini, menceritakan Huma, seorang anak laki-laki yang memiliki teman khayalan bernama Windi. Huma digambarkan sebagai sosok yang suka, hobi, dan gemar berpetualang, serta suka mencari tahu dan mengunjungi tempat-tempat menarik. Bersama Windi, Huma diajak ke dunia kartun untuk mengeksplorasi suatu hal yang belum pernah terpikirkan oleh Huma, serta menjalin persahabatan satu sama lain.
Selain menghibur anak-anak Indonesia generasi X di masanya, Si Huma juga banyak memberikan edukasi dan didikan untuk anak-anak dan keluarga kala itu. Seperti contohnya bagaimanakah penyakit demam berdarah, TBC, kolera, dan diare digambarkan dalam bentuk kartun. Seperti contoh seekor nyamuk dalam sebuah episode berjudul Embun, dijadikan sebagai tokoh antagonis dalam suatu episode si Huma. Juga bagaimanakah banjir bandang terjadi di dunia kartun dan bagaimana penanggulangan dan sosialisasinya, seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan dan merawat alam Indonesia dengan sebaik-baiknya.
Di samping bentuk animasinya yang sederhana, film ini kaya akan pesan-pesan positif bagi penontonnya, terutama anak-anak. Tentunya serial animasi ini kala itu sangat dibanggakan oleh warga Indonesia, karena tak hanya menjadi serial animasi pertama di Indonesia, juga menjadi bukti bahwa Indonesia mulai menggeluti industri animasi di tahun 80-an. (ote)
Editor : A'an