KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan ayah sebagai orang tua kandung laki-laki, atau bapak, atau panggilan kepada orang tua kandung laki-laki. Namun dalam penerapannya, mestikah istilah ini menjadi patokan?
Dalam memperingati Hari Ayah Nasional yang jatuh pada hari ini, 12 November, pontianakpost.jawapos.com akan mencoba mengulas mengenai definisi istilah yang satu ini. Dilansir dari Buku Psikologi Keluarga, dalam Peranan Ayah dalam Keluarga tulisan Save M. Dagun, ayah didefinisikan sebagai seorang pria dewasa yang telah memiliki anak, baik dari hasil ikatan pernikahan maupun di luar pernikahan.
Seorang ayah memiliki citra keperkasaan dan kekokohan. Ayah sangat identik dengan sebutan pemimpin atau kepala keluarga. Masyarakat secara garis besar memiliki paradigma bahwa ayah adalah orang yang bertugas mencari nafkah bagi anak dan keluarganya.
Seorang ayah adalah orang tua yang bertanggung jawab secara penuh dalam mengurus dan mengasuh anaknya selayaknya peran ibu.
Seorang ayah memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anaknya. Ukuran waktu dan intensitas kontak antara anak dan orang tua bukan menjadi jaminan bagi perkembangan anak yang baik.
Kegiatan yang ayah bersama anaknya lakukan bersama jauh lebih penting dibandingkan jumlah waktu yang dihabiskan. Oleh karena itu kualitas kegiatan menjadi kunci utama dari perkembangan anak. Seorang ayah memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan fisik keluarganya, seperti mencari nafkah dan menyediakan sandang pangan papan yang baik.
Seorang ayah diberi tanggung jawab untuk melindungi dan menjaga keutuhan dan keamanan anggota keluarganya dari masalah internal maupun eksternal.
Ayah bertanggung jawab sepenuhnya dalam mengurus dan mengasuh perkembangan anaknya. Seorang ayah wajib memperhatikan dan terlibat dalam perkembangan fisik dan psikis anak.
Sikap dan perilaku yang dilakukan ayah berdampak terhadap putra dan putrinya dalam memahami perannya sesuai jenis kelaminnya. Kehadiran ayah yang mendominasi atau tidak mendominasi keluarga memberikan dampak yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan.
Bagi anak laki-laki, apabila peran ayah dalam keluarganya tidak mendominasi, maka membuat anak tersebut menganggap bahwa ayah bukanlah model panutannya.
Apabila ayah memiliki peran yang mendominasi di dalam keluarga, maka anak laki-laki menganggap ayah adalah tokoh panutannya.
Bagi anak perempuan, sifat maskulin yang dimiliki ayah berpengaruh terhadap sifat feminin yang dimiliki anak tersebut.
Dampak peran ayah bagi anak perempuan di masa depan ialah ketika anak perempuan berhubungan dengan lawan jenis di lingkungan sosial.
Ayah yang mendidik anaknya dengan cara mendiktenya secara pribadi atau mengajak anak untuk berdiskusi pribadi akan membuat anak menjadi bersikap lebih jujur dan memahami dirinya sendiri.
Digambarkan juga bahwa perhatian seorang ayah terhadap anak perempuannya secara pribadi jauh lebih kuat daripada terhadap anak laki-lakinya.
Hal tersebut dapat terjadi karena kekhawatiran seorang ayah terhadap anak perempuannya jauh lebih besar dibandingkan terhadap anak laki-lakinya.
Sebaliknya, seorang ayah secara naluri lebih menaruh rasa percaya kepada anak laki-lakinya untuk bergaul dan menjelajahi dunia luar. Pada dasarnya, seorang ayah secara tidak langsung menginginkan anak laki-lakinya untuk mandiri dan mampu bertanggung jawab di kemudian hari. (ote)
Editor : Miftahul Khair