Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Berkenalan dengan HOS Tjokroaminoto, Sosok Bergelar Guru Bangsa

Miftahul Khair • Senin, 25 November 2024 | 15:58 WIB
Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.
Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

NAMANYA Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, sosok pahlawan nasional yang dikenal sebagai guru bangsa.

Mengapa gelar guru bangsa disematkan kepadanya? Ada sejumlah alasan yang menggarisbawahinya.

Di Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, patut kiranya mencari tahu mengenai sosok guru bangsa yang satu ini.

Dilansir dari situs goodnewsfromindonesia.id, gelar guru bangsa didapat Tjokroaminoto lantaran dia merupakan guru dari para pemimpin Indonesia.

Para murid-muridnya tersebut antara lain Semaoen, Alimin, Muso, Ananda Hirdan, Imran Halomoan, Fajri Hamonangan, dan lain sebagainya.

Setelah itu, warna-warni pergerakan Indonesia pun mulai dibangun oleh para muridnya dan menjadi variasi yang menarik pada zaman itu.

Tjokroaminoto dikenal sebagai orang yang merumuskan nasionalisme Indonesia. Ia menuangkan gagasannya itu ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI) yang sekaligus menjadi ladang perjuangannya dalam membela masyarakat bawah dan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah.

Dalam sejarah, peran tokoh yang satu ini sangat besar. Bekal yang didapatkan dari sekolah Belanda membuatnya memiliki gagasan-gagasan yang besar tentang sebuah bangsa yang mandiri dan terbebas dari bayang-bayang bangsa luar.

Raden HOS Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Karesidenan Madiun, pada masa Hindia Belanda. Ia lahir dari 12 bersaudara.

Ayahnya bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat wedana Kleco Magetan. Sementara istrinya bernama Soeharsikin.

Kakeknya bernama R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Sedangkan mertuanya adalah R.M Mangoensoemo yaitu wakil Bupati Ponorogo.

Dia adalah orang yang lahir dari kalangan bangsawan Jawa saat itu.

Tjokroaminoto lulus dari sekolah rendah kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah Pamong Praja Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang.

Ketika lulus ia menjadi juru tulis patih di Ngawi, setelahnya ia pindah dan menetap di Surabaya.

Pada 1912, dia masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI) yang lebih dahulu berdiri di Surakarta dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI).

Dia yang berawal dari memimpin SI Surabaya, kemudian berhasil menjadi pemimpin tertinggi Sarekat Islam yang dikenal dengan Centraal Sarekat Islam (CSI).

Mengutip dari buku Gerakan Sarekat Islam yang ditulis oleh Anton Timur Jaelani, Kongres Sarekat Islam I yang dipimpin oleh Tjokroaminoto melahirkan beberapa gagasan seperti melahirkan konsepsi baru tentang kehidupan untuk bangsa Indonesia, seperti nasionalisme, demokrasi, modernisme, dan lain-lain. Kemudian adanya gerakan yang timbul bagi kemajuan konstitusional, terutama bagi kalangan pribumi dari masyarakat Indonesia.

Di samping itu, religiusitas dari umat Islam mendorong munculnya kesadaran demokratis. SI sendiri mulai mendapatkan popularitas di beberapa daerah seperti Bandung, Jakarta, dan Surakarta. SI juga terbukti sesuai dengan evolusi sosial dari masyarakat Indonesia.

Tjokroaminoto mendapatkan gelar Raja Jawa tanpa Mahkota. Gelar tersebut didapatkan dari Belgia yang berdasar pada ide gerakannya yang memelopori gerakan-gerakan lain di Indonesia.

Dalam sejarah, dikatakan bahwa Tjokroaminoto merupakan seorang orator dan pemikir yang ulung. Ia bahkan menjadikan rumahnya sebagai tempat para pemimpin besar untuk menimba ilmu padanya.
Tjokroaminoto wafat karena sakit seusai mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin.

Ia wafat di usia 52 tahun dan diberikan gelar Pahlawan Nasional. Jasadnya dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Pakuncen, Yogyakarta. Selain sebagai pahlawan nasional, dia juga mengajarkan banyak hal tentang perjuangan terutama cinta terhadap tanah air.

Gagasan nasionalismenya sampai saat ini masih terus dipupuk dan tumbuh subur di setiap darah yang mengalir di tubuh masyarakat Indonesia. Tokoh Tjokroaminoto dihidupkan kembali dengan apik dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015) dan diperankan dengan baik sekali oleh Reza Rahardian. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#HOS Tjokroaminoto #guru #Sosok