DRS. Suyadi atau Raden Soejadi ditahbiskan sebagai Bapak Dongeng Indonesia. Siapakah sosok tersebut, sehingga hari kelahirannya, 28 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Dongeng Nasional.
Dilansir dari situs goodnewsfromindonesia, sosok tersebut diceritakan lahir di wilayah Puger, Jember, Jawa Timur pada 28 November 1932. Suyadi merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh di keluarga ningrat dari pasangan Subekti Wirjoekoesoemo dan Koensadiah.
Ayahnya merupakan seorang Patih di Surabaya, Jawa Timur. Suyadi kecil sudah senang menggambar dengan menggunakan arang atau kapur di halaman rumahnya. Sayangnya, ayah Suyadi tidak memperbolehkannya belajar menggambar.
Karena berasal dari keluarga ningrat, Suyadi beruntung bisa bersekolah di sekolah anak-anak kulit putih dan pribumi golongan tertentu yakni Europese Lagere School (ELS, setingkat SD), Voorbereindend Hoger Onderwijs (VHO, setingkat SMP), dan Geneskundige Hoge School (GHS, setingkat SMA).
Hobinya menggambar membuat Suyadi melanjutkan studi ke jurusan seni rupa di Institut Teknologi Bandung pada 1952. Setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelar doktorandus (Drs), ia bertolak ke Prancis dengan mengikuti program beasiswa.
Selain belajar, di Prancis Suyadi juga bekerja sebagai tenaga animator di Les Cineast Associest dan pelukis animasi Les Film Martin Boschet. Ia kemudian memilih keluar dari pekerjaannya dan memutuskan bekerja penuh sebagai seniman perupa, persisnya illustrator atau seni rupa aplikasi yang ditujukan untuk menghibur anak-anak.
Bekerja di Teaching Aids Centre (TAC) Bandung dan mengajar di jurusan seni rupa ITB dilakukan Suyadi sepulangnya dari Prancis tepatnya pada periode 1965 – 1975. Di samping itu, ia juga banyak mendapatkan pesanan membuat film animasi untuk mengiklankan pemilu dan program Keluarga Berencana dari Departemen Penerangan pada pemerintahan Presiden Suharto.
Pada 1979, Suyadi –yang akhirnya berhenti mengajar di ITB– menerima tawaran dari Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang ingin membuat suatu acara televisi film boneka untuk anak-anak produksi dalam negeri yang bersifat menghibur sekaligus mendidik. Di situlah tercetus serial sandiwara boneka tangan Si Unyil dan dari situ juga munculah persona lain dari Suyadi yaitu Pak Raden.
Philip Kitley dalam buku Television, Nation, and Culture in Indonesia (2014) mengupas dunia pertelevisian di Indonesia pada masa Orde Baru. Dia menggambarkan Si Unyil sebagai program televisi paling dikenal di Indonesia.
Episode pertamanya tayang pada 5 April 1981, dan serialnya terus berlanjut semenjak itu. Serial tersebut membuat program kisah fiktif paling lama bertahan di pertelevisian Indonesia. Total ada 603 episode yang ditayangkan di antara 1981 dan 1993.
Sandiwara boneka tangan Si Unyil yang ditujukan untuk anak-anak memiliki plot cerita yang sederhana. Dalam program televisi tersebut dikisahkan bocah laki-laki bernama Unyil yang gemar bermain, berpetualang, dan dilengkapi dengan keisengan dan kejahilan anak-anak pada umumnya. Dalam ceritanya, Si Unyil biasa diselipi unsur-unsur budaya populer dan tradisional Indonesia serta pendidikan baik dari para pelakonnya dan kisah tiap episodenya.
Membicarakan Si Unyil memang tidak bisa lepas dari Suyadi sebagai kreatornya. Tidak hanya selaku kreator, karena Suyadi juga bertanggung jawab mengerjakan desain, set panggung, boneka, properti, dekorasi, bahkan ikut mengisi suara untuk tokoh-tokoh program acara televisi yang mengudara setiap hari Minggu pagi di Televisi Republik Indonesia (TVRI) ini. Suyadi tidak sendiri karena ia dibantu Kurnain Suhardiman sebagai penulis cerita dan skenario.
Demi kisah Si Unyil, Suyadi menciptakan karakter antagonis yang kemudian melekat pada dirinya dan dikenal masyarakat Indonesia yakni Pak Raden. Suyadi datang dengan ide, sebagai orang tua pensiunan yang mengalami tiga zaman yakni zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Orangnya dibebani dengan bermacam-macam sifat yang tidak menyenangkan. Suyadi menggambarkan sosok Pak Raden sebagai seorang yang kikir, pemarah, tidak mau gotong royong, dan mempunyai penyakit encok. Sosok tersebut diberinya nama Raden Mas Singomenggolo Jalmowono.
Weladalah begitulah ucapan khas Suyadi ketika mengisi suara boneka Pak Raden ketika sedang bersungut-sungut pada Unyil dan teman-temannya. Selain dikenal sebagai tokoh yang pemarah berwajah garang dan berkumis tebal, Pak Raden digambarkan sebagai sosok orang Jawa feodal, fasih berbahasa Belanda, Jawa dan Indonesia, dengan setelan blangkon, beskap (terkadang surjan), dan selalu membawa tongkat kayu.
Ketika mendongeng di hadapan anak-anak Indonesia dan luar negeri misalnya, Suyadi tidak melepas persona Pak Raden lengkap dengan suara beratnya ketika bercerita. Dari situ Pak Raden jadi ngetop, tidak hanya di depan anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Tokoh Pak Raden pun pernah muncul di film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) Malu-Malu Mau (1988) yang diperankan langsung oleh Suyadi sendiri. Tidak bisa lepas dari sifatnya di serial Si Unyil, Pak Raden di film tetap galak.
Suyadi tidak sekadar mendongeng dan berperan sebagai Pak Raden, tetapi juga membuat beberapa ilustrasi untuk buku-buku cerita dan pelajaran. Karena kontribusinya di segala bidang membuat ia banjir penghargaan.
Contohnya pada 1972, bertepatan dengan International Book Year yang diselenggarakan UNESCO, buku Gua Terlarang terpilih sebagai buku anak dengan ilustrasi terbaik.
Buku tersebut ditulis oleh Kurnain Suhardiman dan dilengkapi oleh ilustrasi yang dibikin Suyadi.
Ia juga pernah didaulat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menjadi ilustrator buku pelajaran Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar (SD). Jika Kawan GNFI masih ingat dengan buku yang mengandung kalimat pembelajaran ini budi, ilustrasinya merupakan karya Pak Raden.
Organisasi internasional pemerhati anak, UNICEF, juga menaruh perhatian pada karya Si Unyil-nya Suyadi pada 1982. Saat itu, PPFN Departemen Penerangan dan UNICEF melakukan kerja sama menyangkut penggunaan film Si Unyil sebagai bahan pembelajaran. Dengan bantuan dana Rp30 juta, buku dan film Si Unyil dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pun berhasil diterbitkan.
Pada masa senjanya, Suyadi tidak lelah menghibur anak Indonesia. Atas prestasinya itu, tempat ia berkuliah dulu, ITB, memberikan penghargaan Ganesa Widya Jasa Utama sebagai pelopor bidang industri kreatif klaster animasi dan tokoh animator nasional.
Pak Raden menutup tirai kehidupannya di usia 82 tahun pada 20 Oktober 2015. Jenazahnya dikebumikan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2015.
Melajang hingga usia senja, nyatanya Suyadi tidak merasa hidup sendirian.
Selain ditemani belasan kucingnya dan manajernya, Prasodjo Chusnato, hatinya tetap merasa 'ramai' karena tetap bisa menghibur anak-anak lewat karyanya. Menurut kakaknya, Siswati, Pak Raden sengaja tak menikah karena mempunyai misi menceriakan kehidupan anak-anak.
Layaknya sejumlah seniman lawas lain, Suyadi tak menikmati masa tua dengan hidup senang bergelimang harta. Ia menjalani hidup dengan berdongeng pada anak-anak. Pekerjaan yang disukainya, tentu. Namun itu juga caranya untuk bertahan hidup.
Hingga tutup usia, ia tinggal di rumah milik kakaknya. Meskipun begitu, sebelum ajal menjemputnya, ia mendapat hadiah rumah dari sebuah acara penghargaan infotainment. Rumah barunya itu belum sempat ia tempati. (ote)
Editor : Miftahul Khair