MENGAPA Israel dan Palestina sampai hari ini masih berkonflik? Tentu pertanyaan tersebut sangat menggelayuti hingga kini. Di Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina (The International Day of Solidarity with the Palestinian People) yang diperingati setiap 29 November, hari ini, tentunya sangat tepat untuk memberikan penjelasan mengenai pertanyaan tersebut.
Dilansir dari situs VoA Indonesia, semua konflik tersebut telah berlangsung lebih dari 100 tahun yang lalu. Bermula ketika Umat Yahudi dijanjikan memiliki tanah air pada 1917.
Di tahun tersebut, dalam Perang Dunia I, Inggris merebut wilayah Palestina dari Kekaisaran Ottoman. Dalam Deklarasi Balfour pada 2 November, Inggris menjanjikan rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di wilayah yang direbutnya itu. Tentangan dari bangsa Palestina pertama kali muncul pada sebuah kongres di Yerusalem pada 1919.
Pada 1922, Liga Bangsa-Bangsa menetapkan kewajiban mandat Inggris di Palestina, termasuk menjamin pendirian rumah nasional Yahudi, yang nantinya menjadi Israel. Kemudian Inggris menumpas Pemberontakan Arab di Palestina sepanjang 1936 – 1939.
Sepanjang 1947 – 1948, Palestina diupayakan untuk dibagi menjadi negara bangsa Yahudi dan negara bangsa Arab melalui Resolusi PBB 181. Resolusi tersebut disetujui pada November 1947, sementara Yerusalem berada di bawah kendali internasional.
Dalam pembagian tersebut, Tepi Barat – termasuk Yerusalem timur – diserahkan kepada Yordania, sementara Jalur Gaza kepada Mesir. Negara Israel akhirnya terbentuk pada 14 Mei 1948, sehingga memicu perang selama delapan bulan dengan negara-negara Arab.
Lebih dari 400 desa Palestina dihancurkan oleh pasukan Israel dan sekitar 760.000 pengungsi Palestina melarikan diri ke Tepi Barat, Gaza, dan negara-negara Arab yang bertetangga.
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pun berdiri pada 1964.
Dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967, Israel mengalahkan Mesir, Yordania, dan Suriah. Israel juga menduduki Yerusalem timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Dataran Tinggi Golan.
Pemukiman Yahudi di daerah-daerah yang diduduki Israel dimulai tak lama setelahnya dan terus berlangsung hingga kini di Tepi Barat, Yerusalem timur, dan Dataran Tinggi Golan.
Baca Juga: Alex-Jamhuri Klaim Menang 53 Persen, Paslon Lain Ucapkan Selamat
Negara-negara Arab menyerang Israel pada 6 Oktober 1973, pada hari besar umat Yahudi, Yom Kippur. Israel menghalau serangan tersebut.
Israel kemudian menginvasi Lebanon yang dikoyak perang saudara pada 6 Juni 1982 untuk menyerang militan Palestina, setelah awalnya mengirim pasukannya pada 1978.
Milisi Kristen Lebanon yang didukung Israel membunuh ratusan orang Palestina di kamp-kamp pengungsi di Beirut. Pasukan Israel tetap berada di Lebanon selatan hingga 2000.
Intifada pertama, alias pemberontakan bangsa Palestina melawan pemerintahan Israel, berkecamuk sepanjang 1987 – 1993.
Pada 1993, Israel dan PLO menandatangani sebuah deklarasi prinsip-prinsip otonomi Palestina setelah melakukan negosiasi rahasia selama enam bulan di Oslo, memulai proses perdamaian yang hingga kini belum tercapai.
Pemimpin PLO Yasser Arafat kembali ke wilayah Palestina pada Juli 1994, setelah 27 tahun di pengasingan, untuk mendirikan Otoritas Palestina.
Pemerintahan mandiri dibentuk untuk pertama kalinya di Jalur Gaza dan Kota Jericho di Tepi Barat.
Pada September 2000, pemimpin oposisi sayap kanan Israel yang nantinya akan menjadi perdana menteri negara itu, Ariel Sharon, mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur.
Masjid ini sendiri merupakan situs suci umat Islam dan Yahudi, yang menyebutnya dengan nama Bukit Bait Suci (Temple Mount). Kunjungan itu memicu bentrokan pertama Intifada kedua.
Menanggapi gelombang bom bunuh diri yang terjadi, Israel pada 2002 menginvasi Tepi Barat dalam operasi terbesarnya sejak perang 1967.
Mahmud Abbas, seorang moderat, mengambil alih kepemimpinan Otoritas Palestina pada Januari 2005, setelah kematian Arafat.
Pasukan Israel terakhir meninggalkan Gaza pada September 2005, setelah menduduki wilayah itu selama 38 tahun.
Pada 2007, kelompok militan Hamas merebut kekuasaan di Gaza setelah bertempur sengit melawan rivalnya, faksi Fatah, yang dipimpin Abbas dan masih berkuasa di Tepi Barat.
Pada 2014, Israel meluncurkan operasi barunya melawan Gaza untuk menghentikan tembakan rudal dari wilayah tersebut. Lebih dari 1.400 warga sipil Palestina tewas, sementara di pihak Israel enam warga sipil tewas, menurut data PBB.
Pada 6 Desember 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusan itu membuat marah warga Palestina dan memicu kritik internasional.
Abbas mengatakan, Amerika Serikat tidak boleh lagi melanjutkan peran bersejarahnya sebagai penengah perundingan damai Palestina dengan Israel.
Pada 10 Mei 2021, setelah terjadi ketegangan selama beberapa hari di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur, Hamas menembakkan rudal ke Israel, yang dibalas dengan serangan udara mematikan di Jalur Gaza.
Perang selama 11 hari kemudian terjadi antara Hamas dan Israel, di mana banyak orang tewas. Pada Agustus 2022, pertempuran selama tiga hari terjadi di antara Israel dan Jihad Islam, di mana para pemimpin militer kelompok itu tewas.
Pemberontakan lain terjadi pada awal 2023, menyusul serangan Israel di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat.
Mei lalu, 35 orang tewas dalam pertempuran selama lima hari. Sementara pada bulan Juli, Jenin menghadapi operasi militer terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir. (ote)
Editor : Miftahul Khair