Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Agresmi Militer Belanda II, Pemicunya adalah Perjanjian Renville

A'an • Kamis, 19 Desember 2024 | 18:15 WIB

 

AGRESI MILITER: Agresi Militer II yang dilakukan Belanda terhadap para pejuang tanah air menjadikan peristiwa bela negara.
AGRESI MILITER: Agresi Militer II yang dilakukan Belanda terhadap para pejuang tanah air menjadikan peristiwa bela negara.

HARI Bela Negara ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 28 Tahun 2006 adalah pada hari ini, 19 Desember. Pemilihan tanggal tersebut berdasarkan sejarah dimulainya Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, serta bagaimana para pejuang tanah air mempertahankan negara ini.

Dilansir dari situs tirto.id, Agresi Militer Belanda II dilancarkan karena pihak Belanda merasa Indonesia mengkhianati isi Perundingan Renville. Serangan yang tercatat dalam sejarah perang mempertahankan kemerdekaan ini terjadi sepanjang 19-20 Desember 1948 di Yogyakarta.

Pasca Agresi Militer I, Belanda kembali bersedia melakukan perundingan dengan Indonesia. Ide Anak Agung dalam buku Renville — als keerpunt in de NederlandsIndonesische onderhandelingen (1983) menuliskan bahwa perundingan diinisiasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan membentuk Komite Jasa Baik-Baik PBB atau Komite Tiga Negara (KTN) pada Oktober 1947.

Sementara dilansir dari katadata.co.id, mengutip dari skripsi Agresi Militer Belanda I dan II (Periode 1947 — 1949) dalam Sudut Pandang Hukum Internasional, diterangkan bahwa setelah Perjanjian Renville, Belanda kemudian mendirikan beberapa negara bagian di wilayah bekas Hindia Belanda. Wilayah tersebut berhasil dikuasai Belanda melalui Agresi Militer I. Perjanjian Renville sulit dilaksanakan kedua belah pihak. Keduanya bahkan saling menuduh terjadi pelanggaran. Belanda menuduh Indonesia melakukan penyusupan, penyerangan, dan penjarahan di wilayah dikuasai Belanda. Mereka menuduh pihak Indonesia tidak bisa mengurasi tentara rakyat.

Sementara itu, Indonesia menganggap Belanda tidak menghormati isi perjanjian yang sudah disepakati bersama. Indonesia menganggap Belanda tetap melakukan politik adu domba seperti pembentukan Negara Federal dan konferensi Federal Bandung. Belanda juga dituduh sering melanggar garis demarkasi militer yang sudah disetujui.
Dari latar belakang tersebut menyebabkan Belanda akhirnya melakukan operasi militer yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Setidaknya ada tiga tujuan Agresi Militer Belanda 2, yaitumenghancurkan status Indonesia sebagai negara kesatuan, menguasai Yogyakarta yang pada saat itu ibu kota negara, serta menangkap pemimpin Indonesia.

Agerasi Militer Belanda terjadi sepanjang 19 — 20 Desember 1948, yaitu saat Belanda menyerang Yogyakarta. Operasi tersebut dirancang oleh Letnan Jenderal Simon Spoor yang menerapkan strategi serangan seperti yang dilakukan Jepang saat menyerang Amerika Serikat. Kekuatan militer Belanda yang cukup besar membuat perlawanan Indonesia tidak berarti. Hanya dalam hitungan jam, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta. Bahkan Belanda berhasil menawan pimpinan sipil seperti Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh lain. Belanda mengasingkan tokoh tersebut ke Sumatra. Sementara itu, pimpinan militer Indonesia memutuskan untuk melakukan Pering Gerilya.

Jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda menyebabkan terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pasukan Belanda segera melakukan operasi pembersihan pihak Indonesia dengan menangkap dan menawan ratusan orang yang dicurigai. Belanda mencoba membenarkan aksi militernya dengan beberapa alasan, antara lain terdapat infiltrasi yang dilakukan pasukan Indonesia ke daerah yang diduduki Belanda, Pemerintah Indonesia tidak berdaya untuk mengendalikan TNI yang merusak keamanan dan ketenteraman, pemerintah Indonesia dianggap tidal bisa memenuhi janji karena tidak berkuasa atas beberapa golongan di daerahnya, serta pemerintah Indonesia tidak dapat menekan bahaya komunis.

Beberapa saat setelah serangan militer Belanda ke Yogyakarta, Dr. Beel sekaligus Wakil Mahkota Agoeng di Batavia melakukan siara pers. Siaran tersebut berisi pernyataan bahwa Belanda tidak mau terikat lagi dengan perjanjian gencatan senjata dengan Indonesia lewat Perjanjian Renville. Belanda menganggap bahwa pihak Indonesia tidak bersedia menghormati gencatan senjata dan sering melakukan pelanggaran ke wilayah yang diduduki Belanda.

Di lain sisi pihak Indonesia tidak pernah menyerah. Walaupun Soekarno dan Hatta sudah tertangkap, namun TNI masih gigih melakukan perlawan terhadap Belanda.

Pada 1 Maret 1949, TNI melakukan serangan besar ke Yogyakarta. Serangan balik tersebut dicanangkan oleh petinggi militer berdasarkan instruksi Panglima Besar Soedirman dengan mengikutsertakan beberapa pimpinan sipil setempat. Kecerdasan Panglima Besar Soedirman menjadikannya sebagai salah satu tokoh Agresi Militer Belanda II yang disegani hingga saat ini. Serangan balik Indonesia dilakukan untuk membuktikan eksistensi TNI dan menunjukan bahwa Indonesia masih ada. Serangan tersebut sukses membuat moral Belanda menurun dan membuat posisi Indonesia semakin baik dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB.

Kejadian Agresi Militer Belanda II menuai banyak kecaman dari negara-negara di Asia. Atas inisiatif dari Burma, Perdana Menteri India, Jawaharlal Pandit Nehru, mengadakan Konferensi Asia di India yang dihadiri oleh 19 negara, yaitu Tiongkok, Thailand, Nepal, Selandia Baru, Afganistan, Australia, Burma, Sri Lanka, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Filipina, Arab Saudi, Siria, dan Yaman.

Konferensi tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk memberi dukungan politik dan moril bagi perjuangan rakyat Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya. Tindakan Belanda juga dianggap menggangu perdamaian.

Dalam konferensi tersebut menghasilkan tiga butir resolusi untuk mengatasi perang yang sedang terjadi di Indonesia. Hasil konferensi tersebut disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB untuk dipertimbangkan dan ditindaklanjuti. (ote)

 

 

Editor : A'an
#Agresi Militer Belanda #perjanjian renville