PONTIANAK POST – Generasi Z, kelompok kelahiran setelah tahun 1999, kini menjadi kekuatan baru dalam pasar tenaga kerja global.
Lahir dan tumbuh di tengah berbagai krisis dunia, seperti serangan 11 September, krisis keuangan 2008, dan pandemi Covid-19, Gen Z datang membawa karakter kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Menurut laporan Chamber of Commerce Foundation yang dikutip dari Forbes, Senin (11/8/2025), Gen Z kini mewakili sekitar 25% tenaga kerja di berbagai negara maju dan berkembang.
Angka ini diprediksi terus meningkat seiring generasi baby boomer dan Gen X memasuki masa pensiun.
“Angka ini akan terus naik. Perusahaan harus siap beradaptasi,” tulis lembaga tersebut dalam laporannya.
Cepat Belajar dan Sadar Sosial
Karakter unik Gen Z mulai dirasakan perusahaan global, mulai dari Asia hingga Afrika.
Pakar sumber daya manusia asal Spanyol, Maria Lopez, menyebut generasi ini sangat cepat belajar, berpikir kritis, dan memiliki kesadaran sosial tinggi.
“Mereka tumbuh dengan akses informasi tak terbatas. Itu membuat mereka peduli pada isu-isu besar, termasuk keberlanjutan dan kesetaraan,” ujar Maria.
Namun, Maria juga menilai Gen Z membawa tantangan tersendiri. Banyak dari mereka lahir dalam ketidakpastian ekonomi dan melihat langsung gelombang PHK saat pandemi, sehingga cenderung skeptis terhadap stabilitas kerja jangka panjang.
Prioritaskan Kesehatan Mental
Di Brasil, survei lokal mencatat mayoritas Gen Z khawatir akan masa depan pekerjaan mereka.
Sementara di Jepang, perusahaan mulai menyediakan layanan konseling online secara gratis bagi karyawan muda.
Kenji Watanabe, manajer HR di salah satu perusahaan teknologi besar di Tokyo, menyebut Gen Z tidak lagi menganggap tabu membicarakan isu kesehatan mental.
“Generasi ini terbuka tentang stres, burnout, dan pentingnya keseimbangan hidup. Mereka mendorong perusahaan untuk lebih peduli,” kata Kenji.
Menurutnya, perusahaan yang responsif terhadap nilai-nilai yang diusung Gen Z akan memperoleh manfaat besar dalam jangka panjang.
“Gen Z adalah katalis perubahan. Jika ditangani dengan tepat, mereka bisa menjadi aset transformasional dalam organisasi,” tegas Kenji.
Perubahan ini menandai awal era baru dalam dunia kerja, di mana keberagaman nilai dan kesehatan mental menjadi elemen penting selain produktivitas.(*)
Editor : Budi Miank