Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Siapa Saja Mahrammu? Ini Batasan dalam Islam yang Harus Diketahui

Fifi Avrillya Irananda • Senin, 8 September 2025 | 19:30 WIB
Ilustrasi mengetahui mahram untuk menjaga batasan.
Ilustrasi mengetahui mahram untuk menjaga batasan.

PONTIANAK POST - Dalam ajaran Islam, memahami batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan sangatlah penting, terutama bagi wanita yang sudah baligh.

Mahram bukan hanya istilah agama, tetapi juga kunci untuk menjaga kehormatan, keselamatan, dan interaksi yang sesuai syariat.

Hubungan ini terbentuk karena beberapa sebab, yang kemudian memunculkan keringanan-keringanan dalam interaksi.

Mahram adalah seorang laki-laki atau perempuan yang masih termasuk keluarga dekat melalui garis keturunan, persusuan, maupun ikatan pernikahan.

Dengan mengetahui siapa saja yang diperbolehkan, maka seorang muslimah bisa bepergian tanpa wali, merasa nyaman saat berada di rumah atau lingkungan keluarga, dan tetap menjaga aurat sesuai aturan.

Pentingnya Mengetahui Mahram

Memahami siapa sosok yang memiliki hubungan nasab merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Pengetahuan ini membantu menjaga aurat, menciptakan rasa aman saat berada di lingkungan sosial, dan memudahkan pelaksanaan syariat dengan penuh kesadaran.

Mengetahui batasan dalam suatu hubungan juga melindungi kehormatan dan keselamatan, serta memastikan interaksi sosial tetap dalam bagian agama.

Mahram Berdasarkan Hubungan Darah (Nasab)

Jenis ini terbentuk karena adanya ikatan keturunan atau kekerabatan, yang paling umum terbentuk karena ikatan darah ialah orang tua, termasuk ayah dan kakek dari pihak ayah maupun ibu, ini merupakan kerabat utama yang tidak boleh dinikahi.

Anak laki-laki, cucu laki-laki, dan keturunan ke bawahnya juga termasuk pihak yang tidak bisa dinikahi.

Saudara kandung baik seibu, seayah, serta anak-anak mereka (keponakan laki-laki). Hubungan ini adalah salah satu yang terkuat dalam sebuah ikatan.

paman (saudara laki-laki ayah atau ibu) dan bibi (saudara perempuan ayah atau ibu) serta kakek dan nenek dari jalur ibu, juga termasuk dalam jenis ini.

Untuk mengenali siapa saja yang dapat dilakukan dalam hubungan ini adalah dengan membuat daftar keluarga inti dan hubungan keturunan secara jelas.

Mahram Melalui Pernikahan

Ikatan pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menciptakan hubungan kekerabatan yang baru dan bersifat selamanya. Ini sering disebut sebagai mahram mu’abbad.

Begitu akad nikah terucap, beberapa anggota keluarga pasangan langsung ditetapkan sebagai pihak yang haram dinikahi. Contohnya adalah ayah suami (bapak mertua) beserta keturunannya yang menjadi kekerabatan yang sah bagi istri.

Ikatan ini juga berlaku bagi anak tiri laki-laki yang menjadi mahram bagi ayah tiri. Sebaliknya, suami dari ibu (bapak tiri) menjadi sosok yang haram untuk dinikahi oleh anak perempuannya.

Hubungan ini pun meluas kepada menantu laki-laki yang menjadi pelindung bagi ibu mertua.

Keseluruhan ikatan ini sangat penting untuk memastikan interaksi tetap sesuai syariat, terutama dalam hal menjaga aurat dan menemani dalam perjalanan.

Mahram Melalui Hubungan Persusuan

Mahram sepersusuan adalah hubungan yang terbentuk jika seorang bayi menyusu kepada wanita lain sebanyak lima kali atau lebih.

Hubungan ini memiliki hukum yang sama dengan hubungan berdasarkan hubungan darah.

Hubungan persusuan menciptakan ikatan kekerabatan yang setara dengan mahram nasab yang termasuk di dalamnya adalah ibu susuan beserta keturunannya (anak dan cucu).

Saudara susuan, yaitu anak-anak yang menyusu pada ibu yang sama, juga masuk dalam kelompok yang haram untuk dinikahi.

Ikatan ini meluas hingga ayah dan ibu dari ibu susuan, serta saudara laki-laki dan perempuan dari ibu susuan yang secara otomatis menjadi paman dan bibi susuan.

Hubungan ini menjadi bentuk kasih sayang yang dianugerahkan Allah.

karena dengan begitu menjadi banyak batasan yang lebih ringan.

Sehingga dapat diketahui terkait siapa saja yang diperbolehkan melihat aurat seorang wanita ketika sedang berwudhu, seperti rambut dan leher.

Baca Juga: Bolehkah Puasa Sunnah di Hari Putih pada Setiap Bulan? Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Dalam interaksi sosial, juga dapat berinteraksi secara lebih santai, termasuk bersalaman.

Seorang mahram juga dapat bertindak sebagai wali nikah, terlebih perihal nafkah, bagi seorang laki-laki dewasa yang memiliki tanggung jawab menafkahi wanita yang berurusan dengannya, meskipun tidak memiliki tanggung jawab penuh seperti suami.

Jadi pemahaman hubungan ini menjadi pondasi penting dalam menjaga kehormatan dan keharmonisan hubungan.

Kesadaran akan batasan ini membantu menciptakan interaksi yang aman, sopan, dan selaras dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Miftahul Khair
#muhrim #interaksi sosial #aurat #syariat #Batasan #Mahram #hubungan darah