PONTIANAK POST - Media sosial belakangan ramai dipenuhi potret unik netizen yang menyandingkan wajah masa kecil dengan versi dewasa mereka dalam format polaroid.
Foto sinematik ini bukan hanya visual, melainkan sarana refleksi diri yang menyentuh emosi banyak orang.
Fenomena ini memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI), salah satunya dari Google Gemini AI.
Dengan fitur seperti ImageFX, pengguna hanya perlu memasukkan prompt atau perintah teks untuk menghasilkan gambar menyentuh yang menampilkan dua versi diri yakni anak-anak dan dewasa.
Salah satu unggahan yang menarik perhatian publik datang dari akun Instagram @jakarta.keras, yang pada Jumat (19/9) mempublikasikan kompilasi potret netizen bersama "diri kecil" mereka.
Dalam foto-foto itu, banyak netizen menuliskan pesan emosional dan permintaan maaf pada masa lalunya.
“Hai Za, maafkan aku karena bukan seperti yang kau bayangkan. Aku janji tak akan berhenti berusaha,” tulis akun @yjrae.
“Masa kecil, banyak anganmu tak terealisasi. Aku minta maaf. Tapi kini, aku punya hal lain yang lebih indah,” tulis akun @bimarestu.
Unggahan semacam ini viral dan dibagikan ulang oleh berbagai akun publik.
Banyak yang terinspirasi untuk membuat versi mereka sendiri, sebagai ruang berbagi cerita, luka lama, dan harapan baru.
Google Gemini AI memungkinkan pengguna menciptakan momen sinematik dengan prompt khusus.
Misalnya, menggambarkan pelukan hangat antara versi dewasa dan anak-anak dengan latar tirai putih, atau menampilkan ekspresi kasih sayang dalam format polaroid yang tampak nyata.
Tren ini bukan sekadar gaya visual, tetapi menjadi ruang untuk memproses emosi dan berdamai dengan masa lalu. (*)
Editor : Budi Miank